RADARTUBAN – Tiga musim jatuh di depan garis finis ternyata tidak menghancurkan Arsenal. Justru dari rasa gagal yang terus berulang itu, lahir mental juara yang kini kembali mengguncang Premier League.
Musim 2025/2026 menjadi titik ledak emosional bagi publik Emirates Stadium. Setelah tiga tahun berturut-turut hanya finis sebagai runner-up, Arsenal akhirnya berhasil mengangkat trofi liga yang sudah lama mereka dambakan.
Menariknya, perjalanan ini terasa seperti pengulangan sejarah era Arsène Wenger.
Pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an, Wenger juga sempat tiga kali gagal beruntun dalam perebutan gelar sebelum akhirnya membawa Arsenal juara musim 2001/2002. Kini, dua dekade kemudian, Mikel Arteta menapaki jalan yang nyaris identik.
Dari Hampir Juara Menjadi Juara Sesungguhnya
Musim 2022/2023 menjadi awal luka Arsenal modern. Mereka memimpin klasemen cukup lama sebelum akhirnya disalip di akhir musim.
Tahun berikutnya, Arsenal kembali tampil luar biasa, tetapi tetap gagal di momen penentuan.
Dan musim 2024/2025 kembali menghadirkan rasa sakit yang sama.
Namun berbeda dengan Arsenal era lama yang sering runtuh karena tekanan, tim Arteta justru terlihat semakin matang setiap kali gagal.
Mereka belajar mengelola emosi, memperdalam kedalaman skuad, dan menjadi lebih brutal saat menghadapi laga besar.
Kalimat legendaris Tan Malaka seolah menemukan bentuknya di London Utara: “Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk.”
Arteta Menang Bukan Karena Beruntung
Kesuksesan Arsenal musim ini bukan sekadar soal taktik. Ini tentang proses panjang membangun identitas.
Arteta perlahan mengubah Arsenal dari tim muda penuh potensi menjadi mesin kompetitif yang lapar kemenangan.
Pemain-pemain seperti Bukayo Saka, Martin Ødegaard, dan Declan Rice kini tampil dengan mental juara yang benar-benar matang.
Bagi fans Arsenal, gelar ini terasa lebih emosional karena lahir dari penderitaan panjang.
Dan mungkin, justru itulah alasan trofi ini terasa jauh lebih berharga dibanding sekadar menjadi juara dalam satu musim sempurna. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni