M. MAHFUDZ MUNTAHA, Tuban, Radar Tuban
MEDALI emas bertuliskan Pekan Olahraga Nasional (PON) XV 2000 Jawa Timur terpampang di ruang tamu rumah Benny Hertanto. Medali itu dikalungkan tepat di depan foto line up tim sepak bola PON Jatim yang menggantung di dinding timur rumahnya. Foto dan medali tersebut terlihat jelas dari jalan gang depan rumahnya yang berimpitan dengan pintu rumahnya.
Meski telah berusia 23 tahun, benda tersebut masih nampak mengilap. Sayang, sang empunya tak mengikuti kemilau medali tersebut. Sekarang ini, dia hanya bisa terkulai lemas tanpa aktivitas apapun. Itu setelah tubuhnya lumpuh.
Di tengah penderitaan tersebut, Benny, sapaannya hanya bisa menatap masa keemasannya. Potret derita pria 45 tahun tersebut tidak hanya terlihat dari kondisinya yang tak berdaya.
Benny sekarang ini tinggal di sebuah rumah yang hanya berjarak kurang lebih 200 meter dari SMKN 2 Tuban. Hunian tersebut berada di tengah pemukiman padat
di Gang Kebonsari 2/776B, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Tuban.
Ketika Jawa Pos Radar Tuban bertandang ke rumahnya Rabu (14/6) pagi, dia tengah bersandar pada sebuah kursi di depan rumahnya. Selama duduk, tubuhnya tak bergerak. Saat hendak berdiri untuk berpindah tempat, dia harus dipapah putri pertamanya yang setia merawat.
‘’Kondisi seperti ini sudah sejak 2020 lalu, tangan hingga kaki tak bisa digerakkan,’’ tuturnya sedikit cedal.
Selama lumpuh, dia sudah berikhtiar. Sejumlah dokter spesialis tulang, saraf, bahkan penyakit dalam sudah didatangi, namun terapi mereka belum membuahkan hasil.
‘’Anehnya setiap pemeriksaan CT scan dan pemeriksaan lain, saya dinyatakan tidak apa-apa. Tidak ada yang menunjukkan penyempitan pembuluh darah atau lainnya,’’ kata dia.
Sampai sekarang, lanjut Benny, tenaga medis belum bisa menemukan penyebab otot motoriknya terganggu dan membuatnya lumpuh. Lumpuh selama tiga tahun menjadikan tubuh Benny kurus kering. Bapak tiga anak itu masih ingat betul bagaimana karir sepak bolanya dulu. Termasuk masa emasnya mengantarkan tim sepak bola Jatim menyabet medali emas pada PON XV 2000.
Dia mengisahkan, awal mula dirinya memulai karir sebagai pemain bola pada 1996. Ketika itu, dia bergabung dengan tim Thor Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Tuban. Di masa itu, tim ini merupakan kesebelasan favorit. Ketika pertandingan uji coba melawan Persema Malang junior, pelatih Persema tertarik padanya. Dia pun ditawari bergabung dengan klub asal Kota Apel tersebut.
Pada musim 1996-1997, dia mulai bermain sebagai starting eleven Persema Malang. Posisinya striker. Di klub berjuluk Bledek Biru itulah, karir Benny meroket hingga bermain di Liga Remaja Indonesia.
Selama Liga Remaja Indonesia, dia mencetak 21 gol dari 18 pertandingan. Atas raihan tersebut, dia pun ditahbiskan sebagai top skor liga tersebut.
‘’Dari semua laga itu, saya sempat mencetak empat gol saat melawan Putra Surabaya dan hattrick saat melawan Persekabpas Pasuruan,’’ tuturnya.
Pencapaian gemilang di klub junior itulah yang membuatnya ditarik ke tim senior Persema pada musim selanjutnya. Di Persema inilah tim PON Jatim melirik kemampuannya. Benny pun ditawari bergabung. Akhirnya, dia pun masuk skuad tim ini bersama pemain hebat lain di Jatim. Salah satunya Budi Sudarsono, legenda timnas. Juga, Charis Yulianto, asisten pelatih Shin Tae Yong yang juga bersinar di masa itu.
‘’Karena dulu tim PON diambil dari pemain-pemain Liga 1, jadi di klub mereka sudah pemain matang semua,’’ ungkapnya.
Ketika bergabung dengan tim PON Jatim, Benny sering diturunkan oleh pelatih Rusdy Bahalwan. Dia pun berhasil mencetak dua gol, yakni saat melawan Sumatera Utara (Sumut) dan Sulawesi Utara (Sulut). Dia juga masih ingat betul ketika final melawan Jabar. Sejak menit pertama skor berimbang 0-0. Akhirnya pada menit ke-60, dia dimasukkan oleh pelatih.
Masuknya Benny benar-benar menjadi pembeda bagi tim Jatim hingga akhirnya pada menit ke-75 Budi Sudarsono mencetak satu gol. Skor 1-0 bertahan hingga akhir dan membawa tim sepak bola Jatim meraih medali emas.
Sempat Ingin Jual Medali untuk Kebutuhan Sehari-hari
Di Persema Malang, Benny merumput sekitar empat tahun. Dia bergabung dengan tim berjuluk Bledek Biru tersebut mulai 1998. Benny resmi meninggalkan Persema pada 2002. Klub berikutnya yang menjadi tempat berlabuh bapak tiga anak itu adalah Persibo Bojonegoro selama dua musim. Tim lain yang pernah dibelanya, Persipur Purwodadi dan PSIR Rembang.
Selama mengenakan jersey dua klub yang disebut terakhir, dia kembali mencatatkan diri sebagai top skor selama mengarungi Liga Divisi 1. Semua raihan selama masa keemasan tersebut masih tersimpan di rumah Benny.
Dia merawat semua saksi bisu sejarah tersebut. Sebagian foto dan medali prestasinya dipajang di dinding rumahnya. Tak sekadar mengabadikan kesuksesannya di era 1990-an hingga 2000, foto dan medali tersebut sekaligus menjadi penghibur lara mantan striker tim sepak bola PON Jatim tahun 2000 itu.
‘’Setiap kali menatap foto-foto dan medali itu, terselip kebanggaan kalau saya pernah memberikan yang terbaik untuk sepak bola Jatim,’’ ujarnya.
Meski di mata Benny barang-barang tersebut tak ternilai harganya, dengan setengah bercanda, dia mengungkapkan rela melepas untuk menyambung hidup.
‘’Kalau medali ini laku dijual sudah saya jual, Mas,’’ tutur dia penuh keputusasaan.
Ucapan itu dilontarkan bukan tanpa alasan. Kondisi perekonomian Benny dan keluarganya sekarang ini kolaps. Harta yang dikumpulkan selama masa kejayaannya, seperti membangun rumah kos dan membeli mobil, kini ludes terjual untuk biaya berobat. Sebagian mencukupi biaya hidup. Sekarang ini, aset yang tersisa tinggal rumah yang ditempati.
‘’Saat ini, gantungan hidup keluarga dari istri yang berjualan nasi pecel di depan rumah,’’ tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Selama tiga tahun mengalami kelumpuhan, Benny mengaku tak pernah mendapat perhatian dari Pemprov Jatim dan Pemkab Tuban. Begitu juga KONI dan Askab PSSI Tuban.
‘’Sekalipun tak pernah datang dan mengulurkan tangan untuk membantu. Saya tidak mau minta-minta, biarkan mereka berinisiatif sendiri,’’ ujarnya.
Di tengah kondisi yang serbakekurangan, sempat terbersit keinginan dari anak-anak Benny untuk mengabarkan kondisi ayahnya kepada pengurus KONI, Askab PSSI, atau pihak berkompeten lain di Tuban.
Namun, hal itu diurungkan karena khawatir mencemarkan institusi yang disambati.
‘’Itu yang membuat kita ewuh pekewuh,’’ ujarnya.
Selama tiga tahun lumpuh, Benny mengaku hanya beberapa teman seangkatannya di Persema yang membantu. Khususnya ketika dia dan anak-istrinya sambang ke Malang, kampung istrinya setelah terapi di daerah tersebut.
‘’Teman-teman kumpul dan menjenguk. Tanya kabar dan membantu pengobatan,’’ imbuhnya.
Berbeda dengan teman-teman seangkatannya di Tuban. Benny mengungkapkan, mereka tak pernah sekalipun menjenguknya.
Kalau Sembuh, Bercita-cita Tularkan Ilmu Strikernya
‘’Striker itu tidak ada ilmu pastinya, karena seorang stiker itu insting. Jadi kesempatan sekecil apa pun bisa berbuah gol,’’ ujar Benny menggambarkan sosok seorang penyerang.
Setiap kali membahas bola, top skor Liga Divisi 1 2004 dan 2005 itu seolah mendapat energi baru. Meski sulit bicara, dia berusaha mengungkapkan dengan kalimat yang cedal nan lirih.
Kelumpuhan yang diderita selama tiga tahun ternyata tak mampu mematikan semangatnya untuk mencintai bola.
Benny menceritakan, dirinya bisa memiliki insting gol yang tajam karena di masa mudanya selalu mengasah kemampuannya secara otodidak. Salah satu menunya adalah berlatih seorang diri di lapangan kampungnya mulai pukul 10 hingga 12 siang.
‘’Selama dua jam itu, saya menendang bola ke gawang berkali-kali,’’ ujarnya.
Latihan tersebut, kata pria 45 tahun itu, mampu mempertajam kemampuannya dalam olah bola hingga mencetak gol. Tak heran ketika dirinya memperkuat Thor, tim di kampungnya selalu berhasil mengantarkan menjadi juara dalam sejumlah kompetisi di Tuban.
Benny masih mengingat jelas pada 1994-1996, Thor termasuk tim tangguh di Bumi Ronggolawe. Tim yang diperkuatnya tersebut juga disegani lawan-lawannya. Bahkan, tim yang ber-home base di kampungnya, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Tuban itu berani menantang Persema Malang junior dalam laga persahabatan.
Begitu kuatnya insting Benny dalam mencetak gol, dia mengaku sering tak melihat gawang sebelum melesakkan tendangan. Bahkan, sebuah gol yang paling sulit ketika dirinya memperkuat PSIR Rembang dalam pertandingan melawan Purwakarta, mampu disarangkan. Tendangan tersebut dari samping gawang di luar kotak penalti.
‘’Ketika teman-teman tanya caranya seperti apa, saya bilang tidak tahu. Saya tendang saja ke arah gawang,’’ kenangnya dengan mata berbinar-binar.
Benny menuturkan, ilmu-ilmu inilah yang nantinya akan ditularkan kepada pemain-pemain muda di Tuban. Bahkan, kalau perlu, kata Benny, dirinya bisa menjadi seorang pelatih sebuah klub bola atau membuat sekolah sepak bola (SSB) sendiri. Dengan demi kian, pria lulusan SMA PGRI 1 Tuban itu bisa mendampingi langsung anak didiknya.
Meski sekarang ini belum bisa mewujudkan cita-citanya tersebut, Benny mengaku bangga anak pertamanya yang perempuan bisa mengikuti jejaknya menjadi pemain futsal andal. Karena kemampuannya, dia direkrut untuk memperkuat tim futsal Tuban pada Porprov Jatim 2021. (*/ds)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Tuban, silakan bergabung di Grup Telegram “Radar Tuban”. Caranya klik link join telegramradartuban. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Amin Fauzie