Duka menyelimuti 14 keluarga jemaah haji Tuban. Mereka ditinggal orang terkasihnya yang meninggal di Tanah Suci.
M. MAHFUDZ MUNTAHA, Tuban, Radar Tuban
KOPER berwarna merah putih yang turun dari bus pada Kamis (13/7) malam tersebut bertuliskan name tage Suparti Urip kloter 18. Begitu turun, koper beroda tersebut diseret seorang pria menuju mobil yang menjemput di halaman Kompi Senapan C Yonif 521 Tuban.
Kedatangan tas kotak tersebut mewakili sang empu, Suparti yang meninggal dunia pada 4 Juli lalu pukul 18.15 waktu Arab Saudi (WAS).
Keluarga Suparti yang menjemput merasakan kesedihan mendalam ditinggal orang terkasih. Suparti yang berangkat bersama sembilan anggota keluarganya pada 30 Mei lalu, justru tertinggal di Tanah Suci.
Kesedihan tersebut salah satunya ditunjukkan Kismiyati, salah satu putrinya yang menemani menjalankan ibadah haji.
Kismiyati sesekali meneteskan air mata setiap kali melihat koper milik sang ibu. Dia masih mengingat dengan jelas bagaimana perjuangan sang bunda selama menjalankan rukun Islam kelima tersebut hingga akhirnya Allah memanggilnya.
Diwawancarai Jawa Pos Radar Tuban, Kismiyati menceritakan perjuangannya selama berhaji. Dimulai kedatangan di Madinah yang disambut cuaca ekstrem dengan suhu rata-rata 45 derajat Celcius.
Ketika berada di Makkah suhunya lebih panas lagi, 47 derajat Celcius. Saking panasnya, bus salawat yang melayani jemaah haji dilarang beroperasi.
‘’Selama di Makkah, ibu masih kuat menjalankan ibadah sunah dan wajib haji,’’ tuturnya.
Bahkan, kata Kismiyati, ibunya masih mampu menyelesaikan puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Begitu juga tawaf ifadah.
‘’Baru setelah Armuzna, ibu sakit dan harus dirawat di rumah sakit karena keluhan batuk dan sesak napas,’’ ujarnya.
Selama dirawat, dia rutin menunggui.
‘’Saya tak mengira ibu akan meninggal. Karena kondisinya sudah membaik, bahwa sempat bercanda dengan keluarga yang menunggui,’’ tutur perempuan berusia 45 tahun itu.
Kismiyati masih mengingat jelas sepuluh menit sebelum ibunya meninggal. Dia masih bercanda dan memijiti kakinya. Setelah itu, Suparti mengembuskan napas terakhirnya. Dia dimakamkan di pemakaman Surayya.
Kesedihan mendalam juga dirasakan Gono, jemaah haji dari kloter 18 asal Desa Margoasri, Kecamatan Parengan.
Dia berangkat haji bersama tiga anggota keluarganya. Mereka adalah adik, istri, dan adik iparnya. Sebelum Armuzna, Suparman, adiknya meninggal pada 21 Juni.
Karena begitu larut dalam kesedihan yang mendalam, kesehatan Gono drop selama di Makkah. Bahkan, begitu mendarat di Surabaya, Kamis (13/7), dia harus dirawat di klinik Asrama Haji Surabaya sebelum akhirnya dibantar ke RS Aisyiyah Bojonegoro.
‘’Kesehatan bapak drop karena kepikiran paman yang meninggal. Itu yang membuatnya tak doyan makan,’’ ujar Erwin Chandra Setiawan, putra Gono.
Meski kesehatannya sempat drop, menjelang jadwal kepulangan, kondisi Gono membaik dan ikut diterbangkan ke tanah air.
Begitu tiba di Bandara Juanda, lagi-lagi kesehatan jemaah tersebut menurun. Pemicunya kali ini karena melihat koper kotak-kotak.
‘’Bapak mengira itu peti yang berisi jasad adiknya yang dibawa pulang, makanya kepikiran lagi dan drop,’’ imbuhnya.
Kasubag Tata Usaha Kemenag Tuban Moh. Qosim mengatakan, total jemaah haji asal Tuban yang meninggal sebanyak 14 orang. Terakhir, jemaah atas nama Siti Ananingsih warga Desa Sambonggede, Kecamatan Merakurak.
Jemaah dari kloter 18 tersebut meninggal dua jam sebelum penerbangan dari Jeddah ke Bandara Juanda Surabaya.
‘’Angka ini terbanyak selama penyelenggaraan haji di Tuban,’’ ungkapnya. (*/ds)
----------------------------------------------------------------
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Tuban, silakan bergabung di Grup Telegram “Radar Tuban”. Caranya klik link join telegramradartuban. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Amin Fauzie