RADARTUBAN-Kalau riset Departemen Kimia dan Pendidikan Dokter Universitas Brawijaya (UB) ini berhasil, penderita alzheimer tidak perlu mengonsumsi obat alzheimer.
Itu karena penyakit yang menyerang otak dan menyebabkan penurunan daya ingat tersebut memiliki efek samping bagi pasien yang memiliki komplikasi. Obat tersebut juga belum terjangkau seluruh Masyarakat di Indonesia. Obat alternatif yang kini tengah diteliti adalah ekstrak daun kelor. Diharapkan, obat berbahan daun herbal ini mereduksi alzheimer dan memperbaiki fungsi kognitif.
“Saat ini obat alzheimer yang tersebar luas di pasaran memiliki efek samping bagi pasien yang memiliki komplikasi. Selain itu obat alzheimer masih belum dapat dijangkau oleh seluruh masyarakat,” ujar Adi Kurnia di Malang, Jawa Timur, Minggu (8/10), sebagaimana dikutip dari Antara.
Merujuk Alzheimer's Disease (AD), alzheimer paling banyak disebabkan penumpukan amyloid beta pada sistem saraf otak. Molekul protein ini diproduksi melalui pemrosesan proteolitik protein transmembran dan protein prekursor amiloid (APP).
Penyakit alzheimer merupakan salah satu tipe demensia yang paling banyak diderita masyarakat dunia, dimana para penderita mengalami penurunan fungsi kognitif serta perilaku secara progresif.
Adi menerangkan, inovasi ekstrak daun kelor (Moringa Oleifera) terenkapsulasi nanopartikel emas (MO-AuNP) untuk diuji coba pada tikus model AD.
“Pada penelitian ini kami membuat tikus model alzheimer yang diinduksi dengan amyloid beta, lalu kami induksikan kembali secara rutin dengan obat ekstrak kelor terenkapsulasi emas buatan kami. Selanjutnya, kami melakukan beberapa uji terhadap tikus, terutama adalah uji tingkah laku kognitif tikus,” ujar Adi
Dari hasil penelitian ini diketahui ekstrak kelor MO-AuNP lebih mudah diserap darah menuju sistem saraf dibandingkan ekstrak tanpa dienkapsulasi dalam ukuran nano.
Obat yang diinovasikan juga terbukti mampu meningkatkan kondisi kognitif tikus dan juga mengurangi plak amyloid beta.
Selain memiliki efek yang menjanjikan, melalui prediksi adsorbsi dan tingkat toksisitas obat, diprediksi MO-AuNP ini memiliki kondisi toksisitas obat yang rendah, namun penyerapan dan pengikatan protein yang tinggi menuju sistem syaraf pusat.
“Obat ini sedang dalam tahap pengembangan, masih banyak evaluasi dan langkah yang harus ditempuh agar obat siap pakai dan dapat digunakan oleh masyarakat luas,” tambah Gustav, peneliti lainnya.
Dia merencanakan pengembangan obat ini tidak hanya berhenti pada skala laboratorium dan program PKM, namun terus dikembangkan dan dioptimasi.
Farah, anggota penelitian lain menambahkan, penelitian ini sedang dalam tahap pengembangan. Harapannya bisa menjadi alternatif obat yang bisa diakses seluruh masyarakat dengan efek samping minim.
“Meskipun masih penelitian dan dalam tahap pengembangan, harapannya obat ini akan dapat dioptimasi lebih lanjut dan digunakan oleh masyarakat Indonesia, sebab obat ini akan bisa menjadi alternatif obat yang baik dan minim efek komplikasi,” imbuh Farahiyah
Dengan penelitian ini diharapkan bisa memudahkan treatment pada penderita alzheimer di Indonesia. Sekaligus sebagai bentuk kontribusi UB untuk penanggulangan darurat alzheimer di Indonesia.
Berdasarkan laporan WHO, tercatat 55 juta penderita alzheimer. Dari jumlah tersebut lebih dari 120 ribu penderitanya meninggal dunia dan diprediksi akan terus meningkat hingga mencapai 10 juta kasus baru per tahunnya.(ds)
Editor : Kifani Amalija Putri