Berjarak sekitar 500 meter sebelah barat kompleks Makam Sunan Bonang, ada lembaga pendidikan yang menjadi potret multikulturalisme di Tuban. Adalah SD Pusaka yang tiap tahun nyaris selalu menerima berbagai siswa dari berbagai latar belakang etnis, ras, suku, dan agama.
AURA keberagaman begitu terasa sejak pertama menginjakkan kaki di gerbang sekolah ini. Tampak wajah anak-anak sedang bermain di halaman memancarkan keberagaman etnis, ras, suku, dan agama.
Tanpa sekat. Menggambarkan Indonesia banget. Indonesia yang multikultural.
Pengasuh literasi SD Pusaka Bambang Budiono menjelaskan, lembaga pendidikan tempatnya mengajar itu sudah berdiri sejak zaman kolonial Belanda. Persisnya tahun 1907.
Awalnya, sekolah ini dibangun khusus untuk warga Tionghoa. Namun, seiring berjalannya waktu, tepatnya pada 1958, SD ini secara resmi menjadi sekolah swasta murni tanpa adanya label sekolah agama tertentu.
‘’Sejak saat ini, sekolah ini menaungi pendidikan bagi masyarakat Tuban yang terdiri atas berbagai etnis, suku, ras, dan agama,’’ terang Bambang—sapaan akrabnya.
Pria lulusan Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Tuban itu juga mengungkapkan, untuk menjunjung toleransi, para pendidik di SD Pusaka selalu memfasilitasi berbagai hal bagi segala kepercayaan yang dianut oleh siswa-siswinya.
Untuk pendidikan agama, SD tersebut memiliki beberapa ruangan yang setiap harinya digunakan untuk pembelajaran berbagai agama siswa.
Tak hanya itu, mereka juga selalu menggelar acara untuk turut merayakan hari-hari besar seluruh agama tanpa terkecuali.
‘’Hal itu karena suatu lembaga pendidikan harus bisa menaungi dan menjadi jembatan bagi segala perbedaan siswa,’’ jelasnya.
Tak hanya siswa, guru-guru di sekolah ini juga beragam. Pengajar di sekolah ini terdiri dari etnis, ras, dan agama yang berbeda-beda pula.
Menurut Bambang, toleransi yang baik antarguru itulah yang kemudian membudaya dan menjadi contoh bagi setiap siswa.
‘’Dengan begitu para murid bisa melihat secara langsung bahwa gurunya yang berbeda-beda ini pun bisa melebur dengan baik di lingkungan sekolahnya,’’ terang lulusan pascasarjana Universitas Islam Darul `Ulum (UNISDA) Lamongan itu.
Lebih lanjut dia menyampaikan, para murid dan guru juga tidak pernah menghadapi situasi di mana mereka saling membeda-bedakan sesamanya.
Kepala Sekolah SD Pusaka Beti Retno Wardhani menambahkan, di sekolahnya juga tidak terdapat celah di antara perbedaan kepercayaan.
Itu karena mereka selalu menanamkan dan menjunjung tinggi nilai kebhinekaan sejak anak duduk di kelas rendah.
‘’Dengan begitu, mereka selalu bisa menghargai dan menghormati semua perbedaan,’’ tandasnya.
Sebagaimana Indonesia. Bangsa ini terdiri atas 1.340 suku. Juga memiliki agama yang beragam. Oleh karena itu, tidak berlebihan Indonesia dijuluki sebagai negara multikultural. Dan itu tercermin di SD Pusaka Tuban. (sel/tok)