Kesenjangan sosial terjadi di tengah pemukiman elit Perum Puri Indah di Kelurahan Latsari, Kecamatan Tuban. Samijah bersama anak pertama dan cucunya yang berusia delapan tahun hidup sangat menderita. Begitu menderitanya, keluarga ini tinggal di rumah tanpa penerangan lampu listrik yang sepanjang malam gelap gulit.
KELUARGA Samijah tinggal di ujung Jalan Galunggung, Perum Puri Indah.
Jalan tersebut bukan di kawasan perkampungan biasa.
Puri Indah merupakan salah satu kompleks perumahan elit di tengah kota.
Gerbang utamanya saja di Jalan Wahidin Sudiro Husodo, akses jalan nasional Tuban--Semarang.
Kompleks perumahan beraspal hotmix ini terbilang strategis karena memiliki akses terdekat dengan sekolah swasta elit, perkantoran, hingga pertokoan.
Elitnya perumahan ini terlihat dari banyaknya bangunan rumah mewah.
Tidak sedikit yang bertingkat.
Mereka yang tinggal di Puri Indah bukan sembarangan. Sebagian besar kalangan menengah ke atas.
Mulai aparatur sipil negara (ASN), polisi/tentara, karyawan swasta, hingga pengusaha.
Membandingkan bangunan-bangunan rumah di kompleks Puri Indah dengan tempat tinggal keluarga Samijah di salah satu ujung jalan di tengah kawasan perumahan ini, seolah bumi-langit.
Tempat hunian janda 64 tahun bersama anak pertamanya Kasiati, 36, dan Mustofa Bisri Ahmadun, 8, itu tersebut tidak ubahnya seperti kandang. Lantainya saja masih tanah.
Hanya bagian depan dan kedua sisi bangunan berukuran 5x6meter tersebut yang berdinding batu kumbung. Itu pun belum diplester.
Sementara bagian belakangnya tanpa dinding dan berjarak sekitar dua meter dengan dinding rumah tetangga yang membelakanginya.
Sela inilah yang menjadikan bagian belakang rumah tersebut setengah terbuka.
Kondisi ini diperparah dengan tidak tertutup rapatnya dinding depan atas rumah yang tidak berplafon tersebut.
‘’Kalau hujan sering tampu (kemasukan air, Red),’’ tutur Samijah menunjuk bagian depan atas rumahnya yang setiap hujan kemasukan air.
Tempat hunian ini hanya memiliki satu kamar dan hanya cukup menampung satu dipan kecil yang di atasnya teronggok kasur kumal.
Kamar yang tidak berpintu ini berhadap-hadapan dengan kamar mandi sekaligus jamban yang juga tanpa daun pintu.
Di ruang tamu rumah ini hanya tertata dua meja kayu yang disatukan dan enam kursi kayu butut.
Seperempat ruang tengah rumah ini ditempati satu dipan berkasur kumal dan satu meja.
Satu-satunya lemari yang dimiliki keluarga ini di ruang tengah dibiarkan kosong.
Untuk menyimpan pakaian, keluarga ini menggeletakkan di atas kasur dan tanah.
Sebagian digantung pada tali jemuran dan cantolan di dinding kamar.
Begitu juga perabot dapur dan peralatan lain bergeletakan di atas meja.
Di utara bangunan rumahnya, Samijah memelihara dua kambing betina pada sebuah kandang yang hanya beratap asbes.
Saking miskinnya, rumah keluarga Samijah tanpa aliran Listrik. Karena itu, sepanjang malam, rumah ini gelap gulita.
Jumat (9/2) petang, Jawa Pos Radar Tuban mendatangi rumah yang berhadapan dengan pintu keluar SDIT Al Uswah Tuban tersebut.
Samijah mengatakan, meski tanpa lampu, ruang tamunya masih terlihat temaram dari cahaya lampu penerangan jalan di pintu gerbang SDIT Al Uswah yang menerobos melalui pintu rumah.
Lampu penerangan jalan inilah, kata Samijah, yang sering dimanfaatkan cucunya Tofa, panggilan Mustofa Bisri Ahmadun untuk belajar pada malam hari. Itu pun kalau tidak hujan.
‘’Belajarnya di jalan, di bawah lampu,’’ tutur janda kelahiran 13 Juni 1960 itu.
Entah mengapa Jumat (9/2) malam itu, lampu penerangan pintu gerbang keluar SDIT Al Uswah padam.
Kondisi ini menjadikan rumah Samijah gelap gulita.
Karena Tofa tidak bisa belajar, wartawan koran ini membelikan lilin. Akhirnya, ditemani nenek dan Kasiati, ibunya, bocah ini belajar dengan temaram cahaya lilin. (bersambung)
Editor : Amin Fauzie