Sejak memutuskan kembali ke kampung halaman setelah sembilan tahun hidup di perantauan untuk menyelesaikan pendidikan S1 dan S2, Teguh Fatchur Rozi bertekad ingin menghidupkan kembali sejarah dan kebudayaan di Bumi Ronggolawe melalui tulisan-tulisan yang dia hasilkan.
KETERTARIKAN Teguh terhadap sejarah dan kebudayaan tumbuh alami semenjak masih duduk di bangku sekolah.
Dan semua itu berawal dari rutinitas ayahnya, yang saban tahun rutin diajak ziarah Wali Sanga. Dari situ, dia terbiasa dengan tradisi tahunan tersebut.
Rutinitas itu kemudian membawa pria asal Desa/Kecamatan Palang itu hanyut dalam rasa keingintahuan yang lebih mendalam.
Sejarah Wali Songo menjadi titik awal Teguh belajar tentang sejarah. Rasa penasaran itu kemudian mendorongnya untuk membeli banyak buku tentang sejarah islam dan nusantara.
‘’Rasa keingintahuan di masa kecil dulu hingga membuat saya membeli banyak buku,’’ kenangnya.
Kecintaannya terhadap sejarah dan kebudayaan, kemudian dia kembangkan dengan memilih untuk meneruskan pendidikan di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya program studi S1 Sejarah Peradaban Islam.
Kurang lebih lima tahun mendiami Surabaya hingga akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan S1-nya.
Setelah mendapat gelar sarjana humaniora tak membuatnya berhenti untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi lagi.
Teguh kemudian melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, tepatnya di 2019 lalu.
‘’Awal 2023 setelah lulus baru pulang ke Tuban,’’ terangnya.
Kepulangannya dari tanah rantau sekaligus membawa misi untuk merawat sejarah dan kebudayaan di Tuban agar tetap lestari sepanjang waktu.
Akhirnya, Teguh membuat akun instagram kambangputih_heritage yang sekarang telah berganti menjadi tuban_bercerita.
Akun tersebut dibuatnya untuk menuangkan karya tulisannya perihal sejarah di Tuban.
Respon warganet terhadap tulisannya begitu positif, akhirnya akun yang dibangunnya itu semakin berkembang hingga sekarang ini.
Bahkan sebelumnya Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Tuban hendak menggandengnya untuk menjadi tim pemerhati sejarah di Kabupaten Tuban.
Prosesnya dalam menggali sejarah tak semudah yang orang lain perkirakan, banyak batuan terjal yang sempat menjadi penghalang langkahnya untuk mencari informasi seputar sejarah di wilayah Tuban.
‘’Semakin tertantang untuk terus mencari hal-hal yang sebelumnya belum terungkap,’’tuturnya.
Teguh bahkan pernah bertentangan dengan masyarakat setempat dikarenakan tidak diizinkan untuk melihat benda peninggalan sejarah yang dikeramatkan oleh salah satu warga.
‘’Itu jadi salah satu kendalanya, masih banyak masyarakat di luaran sana yang menyakralkan benda ataupun tempat peninggalan sejarah di masa lampau,’’ imbuhnya.
Kendala lain yang masih menjadi tantangan bagi Teguh hingga sekarang adalah masih sedikitnya peninggalan sejarah di Kota Legen yang sulit ditemukan keberadaanya.
Bahkan, dia harus mencari jejaknya hingga di luar Tuban.
Berkat wadah yang dibuatnya itu, Teguh berharap setelah ini tulisannya bisa menjadi rujukan masyarakat atau anak muda tentang sejarah dan kebudayaan di Tuban.
‘’Setelah ini saya juga berencana akan membuat grup untuk ruang diskusi terkait sejarah dan kebudayaan di Tuban,’’ pungkasnya. (an/tok)
Editor : Amin Fauzie