Pernah gagal menjadi juara pertama di Putri Kebaya Remaja Jatim 2023, membuat Alexsandria Zalviera, 15, lebih tekun mempersiapkan kompetisi Putri Kebaya Remaja Indonesia 2024. Dengan tekad yang kuat dan dukungan dari orang tua, dia akhirnya berhasil meraih juara 1.
ANNISA DWI KUSUMA HANY, Tuban
MENYANDANG gelar pemenang Putri Kebaya Remaja Indonesia 2024, bukanlah perjalanan mudah untuk Alexsa—sapaan akrab Alexsandria Zalviera.
Dengan senyuman manis di kedua pipinya, dia menceritakan awal mula masuk dunia modeling.
Sejak usia lima tahun, dia sudah diikutkan pelatihan modeling hingga umur sepuluh tahun.
‘’Karena padat kegiatan sekolah, pada usia sepuluh tahun berhenti sejenak,’’ katanya.
Setelah vakum empat tahunan, atau tepatnya usia 14 tahun, Alexsa kembali menjajal dunia modeling dan langsung mengikuti Putri Kebaya Jawa Timur 2023.
‘’Awalnya tidak ada niat untuk kembali menekuni modeling. Tapi dukungan ibu yang membuat saya akhirnya ikut (kompetisi),’’ katanya.
Semua persiapan dilakukan sekedarnya.
Dara kelahiran 2009 itu hanya mengandalkan pengalamannya menjadi model selama lima tahun.
Dikarenakan tak ada persiapan yang matang, dia pun tak bisa menjadi juara 1 pada kompetisi Putri Kebaya Jawa Timur 2023.
‘’Saya hanya bisa menjadi juara 3,” katanya.
Namun, bekal juara 3 tersebut, dia turut menjadi wakil di ajang Putri Kebaya Remaja Indonesia 2024.
Tak ingin mengulang kesalahan yang sama, dia mempersiapkan kompetisi ini secara matang.
Dengan tekun mulai belajar public speaking, catwalk, cara bersosialisasi, serta membaca berbagai informasi mengenai kebaya.
Selain dibimbing oleh regional director Jawa Timur, dia juga melakukan les privat.
‘’Saya upgrade semua, video profil yang awalnya menggunakan bahasa Indonesia, berubah menjadi bahasa Inggris, pidato juga mulai pakai bahasa Inggris, serta belajar menjawab QNA dengan bahasa Inggris,” imbuh dia.
Gadis yang masih bersekolah di SMAN 2 Tuban itu mengatakan, persiapan untuk menjawab QNA adalah hal tersulit selama masa persiapan.
Pasalnya, dia tidak tahu apa yang akan ditanyakan. Maka, untuk mempersiapkan Top 3, dia harus banyak membaca terkait kebaya.
‘’Semuanya tentang kebaya saya pelajari, setelahnya saya latihan bagaimana cara menjawab pertanyaan lainnya,” katanya.
Hal yang masih melekat dipikirannya adalah ketika ditanya bagaimana peran perempuan Indonesia dalam melestarikan budaya berkebaya.
Secara tegas dia, menyampaikan bahwa kebaya bagian dari identitas perempuan Indonesia.
Dia pun meyakini jika kebaya akan terus terlestarikan.
Apalagi, di momen-momen tertentu, pasti perempuan akan menggunakan kebaya.
‘’Ketika mencintainya maka kita juga akan melakukan berbagai hal untuk melestarikannya,” ujarnya.
Menjadi pemenang dalam perlombaan itu tak pernah ada dipikirannya.
Melihat banyak sekali peserta lain yang menurutnya menampilkan lebih baik daripada dirinya.
Ketika namanya disebut, beribu syukur dia ucapkan.
Terutama kepada sang ibu yang selalu memberikan dukungan.
‘’Saya merasa perjuangan selama ini tidak sia-sia. Terutama dukungan dari mama yang menemani saya hingga saat ini,’’ tandasnya. (*/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama