Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Maftukhatul Qomariyah Virati, Penggagas Silent Book Reading di Tuban. Dari yang Awalnya Tidak Dipedulikan, Kini Bisa Mengajak Puluhan Orang

Sugiati. • Rabu, 11 Desember 2024 | 18:29 WIB

Kegiatan Silent Book yang digelar komunitas Baca Bareng Tuban di Taman Hutan Kota Abhipraya saban hari Minggu. Insert, Maftukhatul Qomariyah Virati, penggagas komunitas Baca Bareng Tuban.
Kegiatan Silent Book yang digelar komunitas Baca Bareng Tuban di Taman Hutan Kota Abhipraya saban hari Minggu. Insert, Maftukhatul Qomariyah Virati, penggagas komunitas Baca Bareng Tuban.

Berangkat dari keprihatinannya melihat minimnya minat baca generasi muda, Maftukhatul Qomariyah Virati bertekad mendirikan komunitas literasi dan menggelar kegiatan silent book reading di ruang-ruang publik. Saban akhir pekan, dia mengadakan kegiatan membaca buku bareng di Taman Hutan Kota Abhipraya Tuban.

BAK oase di tengah disrupsi teknologi digital dan ke­riuhan pengunjung yang sedang me­nikmati fasilitas Taman Hutan Kota Abhi­praya. Minggu (8/12) pagi itu, sekelompok pemuda-pe­mudi tanpa sibuk me­main­kan gawai, meriung di atas rumput sintetis sem­bari membaca buku.

Selepas itu, satu sama lain ter­lihat berdiskusi. Mengulas buku yang baru saja dibaca. Terdengar begitu romantis membincang pengeta­huan. Suara bising kendaraan dan riuh keramaian tak sedikit pun mengusik ketenangan dan kea­syikan mereka dalam berliterasi.

Itulah pemandangan silent book reading yang belakang ini masif digaungkan oleh Komunitas Baca Bareng Tu­ban. Membaca senyap sambil diskusi ini menjadi agenda rutin yang digelar sa­ban hari Minggu di ruang publik. Salah satunya, Taman Hutan Kota Abhipraya.

Selain berkoloni—mem­baca dan diskusi, komunitas literasi yang digawangi Maf­tukhatul Qomariyah Virati ini juga me­nyediakan pu­luhan koleksi buku bacaan. Baik untuk anak-anak, remaja, maupun dewasa. Siapa saja boleh meminjam asal tidak dibawa pulang.

‘’Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak ma­syarakat, khususnya anak-anak dan remaja untuk me­numbuhkan minat baca,’’ tutur Vira—sapaan akrab Maftukhatul Qomariyah Virati.

Diungkapkan Vira, silent book reading di ruang publik ini be­rangkat dari refleksinya saat kuliah di Jakarta. Be­lakangan ini, terang dia, membaca senyap di ruang terbuka telah menjadi bagian gaya hidup anak-anak muda yang memiliki budaya baca.

‘’Setelah pulang ke Tuban, saya merasa kesepian. Dari situ, akhirnya saya nekat untuk membuat komunitas literasi dan mengajak teman-teman yang memiliki hobi sama untuk membuat kegia­tan seperti ini (berkumpul dan membaca buku di ruang publik, Red),’’ tuturnya.

Namun, hal ideal yang di­angankan itu tidak semudah membalikan telapak tangan. Di kota kecil ini, Vira men­dapat banyak tantangan. Se­lain mi­nim­nya minat baca masyarakat, juga masih sedikit­nya komu­nitas literasi di Tuban yang berkegiatan serupa.

Bahkan, ketika per­tama kali digelar hanya ada dua orang yang datang ikut nimbrung. Semen­tara yang lain tidak peduli.

Namun, bukan Vira jika me­­­nyerah begitu saja. Meski me­nyesakkan, dia yang di­bantu oleh teman sejawat­nya, Intan Fitrianko, terus kon­sisten meng­gelar kegia­tan serupa saban akhir pe­kan.

‘’Alham­dulillah, se­karang mulai eksis,’’ terang cewek berlatar belakang pendidikan statistika itu.

Seiring berjalannya waktu dan mulai dikenal luas. Baik di media sosial maupun ma­syarakat yang datang lang­sung. Kini komunitasnya mulai diajak kolaborasi de­ngan Perpus­takaan Dae­rah. ‘’Kami sangat bersyukur, Per­pustakaan Dae­rah Tuban mengapresiasi kegiatan kami,’’ ujarnya.

Dari yang hanya diikuti 2-3 orang saja, kini saban kegiatan sudah ada puluhan peserta yang ikut nimbrung. (*/tok)

 

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #silent book club #penggagas #minat baca #taman hutan kota #keprihatinan #baca buku