Berangkat dari keprihatinannya melihat minimnya minat baca generasi muda, Maftukhatul Qomariyah Virati bertekad mendirikan komunitas literasi dan menggelar kegiatan silent book reading di ruang-ruang publik. Saban akhir pekan, dia mengadakan kegiatan membaca buku bareng di Taman Hutan Kota Abhipraya Tuban.
BAK oase di tengah disrupsi teknologi digital dan keriuhan pengunjung yang sedang menikmati fasilitas Taman Hutan Kota Abhipraya. Minggu (8/12) pagi itu, sekelompok pemuda-pemudi tanpa sibuk memainkan gawai, meriung di atas rumput sintetis sembari membaca buku.
Selepas itu, satu sama lain terlihat berdiskusi. Mengulas buku yang baru saja dibaca. Terdengar begitu romantis membincang pengetahuan. Suara bising kendaraan dan riuh keramaian tak sedikit pun mengusik ketenangan dan keasyikan mereka dalam berliterasi.
Itulah pemandangan silent book reading yang belakang ini masif digaungkan oleh Komunitas Baca Bareng Tuban. Membaca senyap sambil diskusi ini menjadi agenda rutin yang digelar saban hari Minggu di ruang publik. Salah satunya, Taman Hutan Kota Abhipraya.
Selain berkoloni—membaca dan diskusi, komunitas literasi yang digawangi Maftukhatul Qomariyah Virati ini juga menyediakan puluhan koleksi buku bacaan. Baik untuk anak-anak, remaja, maupun dewasa. Siapa saja boleh meminjam asal tidak dibawa pulang.
‘’Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja untuk menumbuhkan minat baca,’’ tutur Vira—sapaan akrab Maftukhatul Qomariyah Virati.
Diungkapkan Vira, silent book reading di ruang publik ini berangkat dari refleksinya saat kuliah di Jakarta. Belakangan ini, terang dia, membaca senyap di ruang terbuka telah menjadi bagian gaya hidup anak-anak muda yang memiliki budaya baca.
‘’Setelah pulang ke Tuban, saya merasa kesepian. Dari situ, akhirnya saya nekat untuk membuat komunitas literasi dan mengajak teman-teman yang memiliki hobi sama untuk membuat kegiatan seperti ini (berkumpul dan membaca buku di ruang publik, Red),’’ tuturnya.
Namun, hal ideal yang diangankan itu tidak semudah membalikan telapak tangan. Di kota kecil ini, Vira mendapat banyak tantangan. Selain minimnya minat baca masyarakat, juga masih sedikitnya komunitas literasi di Tuban yang berkegiatan serupa.
Bahkan, ketika pertama kali digelar hanya ada dua orang yang datang ikut nimbrung. Sementara yang lain tidak peduli.
Namun, bukan Vira jika menyerah begitu saja. Meski menyesakkan, dia yang dibantu oleh teman sejawatnya, Intan Fitrianko, terus konsisten menggelar kegiatan serupa saban akhir pekan.
‘’Alhamdulillah, sekarang mulai eksis,’’ terang cewek berlatar belakang pendidikan statistika itu.
Seiring berjalannya waktu dan mulai dikenal luas. Baik di media sosial maupun masyarakat yang datang langsung. Kini komunitasnya mulai diajak kolaborasi dengan Perpustakaan Daerah. ‘’Kami sangat bersyukur, Perpustakaan Daerah Tuban mengapresiasi kegiatan kami,’’ ujarnya.
Dari yang hanya diikuti 2-3 orang saja, kini saban kegiatan sudah ada puluhan peserta yang ikut nimbrung. (*/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama