Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Bakat dan kepiawaian Hidayatul Laila Khoiriyah dalam melukis kaligrafi tidak lepas dari profil orang tuanya yang juga seniman lukis kaligrafi. Sejumlah perlombaan sudah diikuti dan meraih banyak prestasi.
DARI ujung telepon itu, suara Hidayatul Laila Khoiriyah terdengar santun.
Tutur katanya halus.
Menggambarkan penanaman pendidikan karakter yang begitu kuat dari kedua orang tuanya.
Di usianya yang baru menginjak 16 tahun, setiap tutur kata yang diucapkan mengesankan kedewasaan.
Jauh dari usia anak pada umumnya yang terkadang masih cukup sulit diajak komunikasi.
Terlebih, pada orang yang baru dikenal.
Namun, sebagai seorang anak yang sedang tumbuh remaja, karakter itu masih ada.
Sedikit malu-malu saat diminta untuk menceritakan perjalanannya sebagai seniman lukis kaligrafi.
‘’Saya belajar melukis kaligrafi dari Abah,’’ tuturnya yang tetap menggambarkan pribahasa: buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
Siswi yang kini duduk di bangku kelas sepuluh sekolah menengah atas (SMA) itu mengaku sudah sedari kecil suka melukis kaligrafi.
Dan itu berawal dari kebiasaannya melihat sang Abah melukis kaligrafi.
Seiring berjalannya waktu dan menginjak remaja, bakat alami yang diturunkan dari gen seorang ayah itu semakin terasah.
‘’Saya belajar melukis hanya dari Abah,’’ ujarnya. Namun, bukan berarti tanpa belajar dengan tekun.
Bagi Laila—sapaan akrabnya, bakat adalah bonus yang dikaruniakan Allah kepada dirinya.
Tapi bakat saja tidak cukup. Sebab, bakat tidak akan berkembang tanpa adanya minat.
Bahkan, orang yang tidak memiliki bakat pun bisa menjadi apa yang diinginkan asal memiliki minat dan sungguh-sungguh untuk mewujudkannya.
Karena itu, sedari kecil bakat Laila sebagai pelukis kaligrafi terus diasah.
‘’Saya terus menyerap ilmu dari Abah,’’ katanya.
Lomba pertama yang diikuti Laila saat masih duduk di kelas tiga bangku sekolah dasar (SD).
Saat itu masih lomba mewarnai menggunakan spidol faber castel. Sembari mengingat teknik yang selalu diajarkan ayahnya, Laila berhasil menyabet juara 1.
‘’Sejak saat itu saya semakin semangat untuk belajar melukis kaligrafi agar bisa seperti Abah,’’ tuturnya.
Seiring usia beranjak remaja. Bagi Laila, melukis adalah cara untuk mengekspresikan ide, kegelisahan hati, kritik dan kreativitas.
‘’Karena melukis adalah bagian dari ekspresi, maka saya selalu senang setiap kali melukis,’’ ujarnya
Di antara prestasi lain yang berhasil dihadiahkan kepada orang tuanya, yakni juara harapan 1 kaligrafi kontemporer tingkat Jatim tahun 2023 dan beberapa kejuaraan tingkat kabupaten.
‘’Saya akan terus belajar agar bisa lebih baik lagi dan meraih banyak prestasi yang bisa membanggakan orang tua,’’ tutur cewek yang juga memiliki membaca itu. (*/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama