Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Itulah kata yang tepat menggambarkan konsistensi Selviana Meysa Amelia menjadi atlet silat. Sempat tidak direstui kedua orang tuanya, kini berhasil mempersembahkan banyak penghargaan.
DARI ujung telepon itu, suara Selvina Meysa Amelia terdengar tegas.
Tutur katanya begitu meyakinkan.
Kesan tangguh itu melekat dari suara tegasnya.
Dia pun bercerita tentang perjalanannya menjadi atlet silat.
‘’Pencak silat bagi saya adalah hobi yang menantang dan saya suka itu,’’ tutur cewek asal Desa Punggulrejo, Kecamatan Rengel itu.
Siswa yang kini duduk di kelas XI madrasah aliyah (MA) itu mengaku sudah sedari kecil senang dengan dunia pencak silat.
Dan mulai serius sejak duduk di bangku kelas VII SMP.
‘’Karena ingin serius, saat itu saya masuk di salah satu perguruan silat,’’ katanya.
Bagi Selvi, stereotip tentang perempuan lemah adalah pecutannya untuk terus mencintai dan melakoni hobi silat.
Terlebih, bagi beberapa orang—perempuan tak seyogianya banyak tingkah, harus anggun dan anteng.
Namun, berbeda dengan Selvi, dia berusaha mendobrak stereotip itu.
‘’Saya selalu terinspirasi dengan pelatih saya, mengajarkan bahwa dalam dunia bela diri tidak mengenal gender,’’ ujarnya.
Perempuan 17 tahun itu mengatakan, sebelum menekuni atlet silat, yang paling sulit adalah meyakinkan dan mengantongi restu dari kedua orang tuanya.
‘’Dari kecil sebenarnya saya suka bela diri, tapi karena gak dapat restu, akhirnya saya mengurungkan niat itu,’’ tuturnya.
Dari konsistensinya itu, kini dia dia berhasil meraih berbagai penghargaan di bidang pencak silat.
Di antaranya, meraih medali perak dalam kejuaraan nasional Airlangga Cup VII tahun 2024, meraih medali perak kejuaraan nasional Kanjuruhan Fighter Competition tahun 2024 dan meraih medali perak kejuaraan nasional dalam ajang Setia Hati (SH) Cup Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tahun 2024.
Selvi mengaku akan terus belajar untuk bisa menguasai lebih banyak ilmu silat.
Sejalan dengan hobinya, dia juga berharap dapat mewujudkan cita-citanya sebagai Polisi Khusus Pemasyarakatan (Polsuspas). (*/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama