RADARTUBAN - Di era modern ini, minuman-jamu herbal semakin banyak ditinggalkan. Peraciknya pun mulai jarang ditemukan.
Salah satu generasi kiwari yang masih tersisa adalah Mini’ah. Kini usianya 41 tahun, dan sudah 24 tahun menjadi peracik jamu herbal meneruskan usaha keluarga.
Siang itu, aroma rempah herbal yang sedang diracik menguar dari sebuah rumah sederhana di Kelurahan Doromukti, Kecamatan Tuban.
Si empu rumah adalah Muni’ah, pembuat jamu herbal yang sudah masyhur di kelurahan setempat.
Saat ditemui wartawan koran ini, perempuan yang karib disapa Anik itu masih sibuk meracik jamu herbal di dapur.
Dia mempersilahkan wartawan koran ini duduk di ruang tamu dan menunggu sebentar.
Tidak berselang lama, dia menuju ke ruang tamu sembari membawa botol-botol jamu buatan tangannya.
‘’Maaf tangannya masih kuning karena baru selesai meracik jamu,’’ tuturnya lembut.
Anik mengaku sudah 24 tahun bergelut dengan minuman herbal penuh khasiat tersebut. Baginya, jamu bukan hanya sekadar minuman yang terbuat dari bahan alam, melainkan karya untuk kesehatan dan juga bagian dari warisan budaya. ‘’Saya meracik jamu herbal ini sudah sejak remaja,’’ kata wanita berkulit sawo matang itu.
Berbekal resep rahasia keluarga, Anik telah menjajakkan jamu buatannya mengelilingi banyak kecamatan di Kabupaten Tuban.
Sudah tak terhitung jumlah pelanggan setianya.
‘’Sejak usia saya 19 tahun sudah mulai jual jamu keliling. Usaha ini juga warisan turun temurun dari keluarga ibu mertua,’’ ujar wanita yang kini berusia 41 tahun itu.
Dengan pengalaman yang panjang tersebut, mengapa tidak membuka bisnis jamu yang lebih besar.
Hal itu tidak dilakukan Anik lantaran khawatir tak memiliki cukup karyawan untuk produksi di rumah sederhananya.
Selain itu, jika resep yang digunakannya pun hanya dalam lingkup keluarga saja.
Sebab itu, dia tidak rela membiarkan orang lain mengetahui bagaimana proses peracikan jamu tradisional yang sudah turun-temurun dalam keluarga besarnya itu.
Lebih lanjut ibu tiga anak itu menuturkan, menjadi peramu minuman herbal tradisional di era modern saat ini bukanlah hal yang mudah.
Penikmat jamu herbal terus menurun.
‘’Sejujurnya, khawatir jika beberapa tahun mendatang jamu sudah tak ada lagi yang meminati. Meski rasanya jauh berbeda dengan minuman berperasa, tapi minuman herbal itu lebih menyehatkan,” katanya.
Bahkan, lanjut dia, mayoritas dari pelanggannya pun dari kalangan orang berusia 30 tahun ke atas. ‘’Sudah jarang anak-anak muda yang menggemari minuman herba warisan budaya ini,’’ ujarnya.
Dalam sekali proses produksi, Anik dapat menghasilkan enam jenis jamu tradisional. Mulai dari beras kencur yang menjadi primadona, kunci suruh, kunir asem, sinom, wejah, dan sepet.
Harga yang dia banderol pun bermacam-macam, mulai dari Rp 2.000 untuk satu gelas kecil, Rp 6.000 untuk jamu botol ukuran 500 ml, dan Rp 12 ribu untuk ukuran 1 liter.
Di tengah perbincangan, wanita berhijab ini sempat menuturkan kekhawatirannya akan eksistensi minuman warisan budaya ini.
Pada era perkembangan berbagai macam jenis makanan dan minuman, sudah tak banyak peramu jamu tradisional yang bisa ditemui.
Dia khawatir jika di masa yang akan datang semakin sedikit orang yang bergelut dengan rempah untuk meracik minuman tradisional ini.
‘’Jamu minuman herbal ini sudah ada sejak era kerajaan dan sudah menjadi bagian dari budaya bangsa ini. Karena itu, akan sangat disayangkan jika beberapa tahun ke depan sudah tak tampak lagi eksistensinya,’’ tandasnya sembari menghela napas. (*/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama