Sejak dua bulan terakhir ini, masyarakat Kabupaten Tuban disuguhkan dengan bertambah megahnya bangunan Masjid Agung Tuban pasca direnovasi. Namun, tak banyak yang tahu jika masjid termegah di pusat kota Tuban ini menyimpan sederet sejarah panjang.
RADARTUBAN - Masjid Agung Tuban pada awalnya bernama Masjid Jami’ Tuban sekaligus menjadi simbol semangat religius masyarakat Tuban. Masjid tersebut didirikan pada masa Bupati Tuban ke-7 Adipati Raden Ario Tedjo atau dikenal dengan Syekh Abdurrahman.
Pendirian masjid tersebut tidak tercatat secara pasti namun berdasarkan cerita tutur dari masyarakat pendahulunya diperkirakan berdiri sejak abad ke-15, sebab Adipati Ario Tedjo berkuasa pada periode 1401-1419.
Dalam perkembangannya, sebelum mengalami beberapa kali renovasi sejak masa Kolonial Belanda hingga masa sekarang ini, pada mulanya Masjid Agung Tuban berarsitektur tradisional Jawa, beratap limas yang bertumpang.
Konstruksi masjid juga memakai bahan dasar kayu selayaknya masjid-masjid lainnya di nusantara.
‘’Bukti bangunan tersebut tersimpan di Tropen Museum yang diabadikan tahun 1880, dalam dokumentasi tersebut juga nampak pagar yang mengelilingi masjid dengan pintu masuknya melalui gapura paduraksa,’’ kata pemerhati sejarah Tuban Teguh Fatchur Rozi.
Pada 1894, Masjid Agung Tuban mengalami renovasi besar-besaran pada masa pemerintahan Bupati Tuban ke-34 Raden Toemengoeng Koesoemediko.
Renovasi masjid ditangani oleh arsitek berkebangsaan Belanda, Masa itu diarsiteki oleh H.M. Toxopeus dari Burgerlijke Openbare Werken (B.O.W.)
Seiring berjalannya waktu, Masjid Agung Tuban mengalami beberapa kali renovasi.
Sebelum akhirnya pada 1987 di pemerintahan Bupati Juwairi Martoprawiro, adanya perluasan masjid dengan penambahan bangunan di samping kanan dan kiri bangunan utama masjid untuk menampung jamaah yang semakin banyak.
Renovasi tersebut selesai pada 1987 dan diresmikan langsung oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Trimarjono. Sejak saat itu, renovasi terus dilakukan hampir di setiap kepemimpinan bupati berikutnya hingga saat ini di masa pemerintahan Bupati Aditya Halindra Faridzky.
Bila diamati, Masjid Agung Tuban memiliki ciri khas tersendiri. Secara garis besar, bentuk bangunannya terdiri atas dua bagian, yaitu serambi dan ruang salat utama.
Bentuknya tidak terpengaruh dengan kebiasaan bentuk masjid di Jawa yang atapnya bersusun tiga.
Arsitektur masjid ini justru terpengaruh nuansa corak Timur Tengah, India, dan Eropa. Sekilas tampak ada kemiripan dengan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, terutama bentuk berandanya yang dipertahankan hingga kini.
‘’Meski sedikit kental dengan gaya masjid di Irak, namun tetap mempertahankan gaya Jawa. Dapat dilihat dari pintu dan mimbar yang terbuat dari kayu dengan ornamen Jawa klasik,’’ ungkap pengurus Takmir Masjid Agung Tuban, Agus Suryanto.
Keindahan Masjid Agung Tuban tampak terpancar dari warna yang digunakan begitu bervariasi dan cerah.
Diurutkan dari atas, kubah masjid ini berpadukan tiga warna, yakni putih, biru, dan kuning.
Baca Juga: Puan Maharani Pastikan Megawati dan Prabowo akan Segera Menyelenggarakan Pertemuan
Turun ke dinding, warna yang digunakan lebih beragam lagi, yaitu salem atau peach, hijau muda, hijau tua, biru muda, kuning dan cokelat. Benar-benar permainan warna yang apik.
Masuk ke dalam masjid, banyak pola lengkungan yang digunakan untuk menghubungkan tiang penyangga di dalam masjid.
Di antara tiang, terdapat rak-rak buku yang digunakan sebagai tempat Alquran.
‘’Dari masa ke masa, bangunan inti dalam masjid sejak awal dibangun tetap dipertahankan sekaligus sebagai bukti sejarah yang masih dapat dilihat hingga sekarang ini,’’ pungkas Agus. (*/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama