RADARTUBAN - Jelajah Masjid Jawa Pos Radar Tuban memasuki hari kedua. Setelah Masjid Agung Tuban, tujuan jelajah berikutnya adalah Masjid Karomah di Dusun Winong, Desa Sugiharjo, Kecamatan Tuban.
Masjid ini menyimpan jejak historis dan spiritual Syekh Ahmad Mutamakkin, pemuka agama yang diyakini keturunan dari Raden Patah dan Sayyid Ali Akbar.
Baca Juga: Masjid Istiqlal Sediakan 4 Ribu Boks Makanan untuk Berbuka Puasa dan Sahur Selama Bulan Ramadan
Jawak Masjid Karomah di Dusun Winong, Desa Sugiharjo ini kurang lebih 10 kilometer (km) dari pusat kota Tuban. Jamaknya bangunan masjid di era modern seperti sekarang, Masjid Karomah tampak megah dan kokoh.
Bedanya, di balik kekokohan itu ada jejak sejarah seorang ulama yang berjasa menyebarkan agama Islam di desa setempat.
Dari cerita tutur yang didengar masyarakat, Masjid Karomah lekat dengan jejak perjuangan Syekh Mutamakkin dalam berdakwah.
Oleh masyarakat sekitar, ulama yang lebih karib disapa Mbah Mutamakkin ini diyakini merupakan salah satu keturunan Raden Patah dan Sayyid Ali Akbar.
‘’Mbah Mutamakkin ini diperkirakan hidup dan syiar sekitar abad ke-16. Tapi sayangnya tidak ada catatan pasti mengenai perjalanan beliau di dusun ini,” tutur Takmir Masjid Karomah Winong, Ali Mursidin.
Baca Juga: KFC Indonesia Lakukan PHK Sepihak, Menaker Mengaku Belum Dapat Laporan
Ali menceritakan, sebelum ada bangunan Masjid Karomah, dulunya lokasi tersebut diyakini sebagai tempat bagi Mbah Mutamakkin untuk menjalankan ritual puasa, atau tempat uzlah—mengasingkan diri dari hiruk-pikuk dunia luar. Di lokasi itu pula, Mbah Mutamakkin berdakwah menyebarkan agama Islam kepada masyarakat setempat.
Jauh sebelum berbentuk bangunan megah nan kokoh seperti sekarang, dulunya Masjid Karomah cukup sederhana. Lalu, untuk mempertahankan jejak sejarah yang pernah diukir oleh salah seorang golongan waliyullah tersebut, akhirnya warga gotong-royong melakukan renovasi.
‘’Di tahun 2013 masjid ini direnovasi total. Sebelumnya hanya berupa tiga masjid kecil yang berdekatan. Kemudian untuk efisiensi, warga desa ini berinisiatif membangun ulang dan tentunya jauh lebih bagus serta nyaman,’’ terang takmir asli Dusun Winong itu.
Tak memiliki alasan khusus mengapa masjid ini dirombak total, hanya sekadar menyesuaikan perubahan zaman dan kapasitas serta fasilitas yang ada untuk masyarakat yang ingin beribadah di masjid bersejarah tersebut.
Dari gerbang masuk masjid ini, jemaah yang datang berkunjung bisa langsung melihat menara menjulang di sisi sebelah kanan masjid.
Disampaikan oleh Ali, menara ini telah ada bersamaan dengan bangunan masjid lama sebelum dilakukan pemugaran total.
‘’Menara itu salah satu peninggalan orang-orang terdahulu yang dibangun bersamaan dengan masjid ini,” imbuhnya.
Pun terlihat di sisi kiri masjid terdapat pohon sawo kecik yang konon telah ada bersamaan dengan Mbah Mutamakkin menjalankan dakwah Islam.
Serambi depan masjid ini dihiasi dengan pilar-pilar keramik yang membuat suasananya terasa sejuk.
Bangunan ini menggabungkan arsitektur modern bersamaan dengan sentuhan islami di setiap sudutnya.
Memunculkan kesan modern, klasik, dan islami yang bisa dirasakan oleh setiap orang saat berada di dalam bangunan tersebut.
Dari serambi depan masjid, para jamaah yang datang akan menyaksikan lima pintu masuk berbahan kayu jati. Pada tiga pintu terdepan terdapat ukiran surah yasin yang menghiasi. Begitupun ketika memasuki serambi dalam masjid.
Lagi-lagi kaligrafi ukiran surah yang sama pada kayu jati menghiasi dinding.
Dengan ketinggian kurang lebih 4 meter dan ketebalan ukiran 3 sentimeter, serta dilapisi warna emas, semakin menonjolkan nuansa arsitektur Timur Tengah yang elegan.
Berdampingan dengan itu, empat pilar keramik menjulang tinggi turut menopang kokohnya bangunan Masjid Karomah Winong.
Baca Juga: Jadwal Rilis OneUI 7 Bocor, Samsung: Belum Ada Tanggal Pastinya
Saat menengok ke atas, terdapat deretan Asmaul Husna yang terlukis di dinding kubah bagian dalam. Dengan guratan ornamen-ornamen ala Timur Tengah semakin menambah kesan mendalam bagi jamaah yang bersujud pada Tuhan di dalam masjid ini.
Di salah satu sudut masjid, terdapat benda bersejarah peninggalan Syekh Mutamakkin atau yang biasa di sebut mbah Mutamakkin oleh warga sekitar.
Benda itu berupa kayu berbentuk lonjong beserta penopangnya yang digunakannya untuk menjemur peci.
Benda tersebut telah ada bersamaan dengan keberadaan Mbah Mutamakkin di Dusun Winong, Kecamatan Tuban. (saf/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama