RADARTUBAN - Seperti dejavu—mengulang peristiwa setahun lalu. Pada tahun ini, hari pertama Ramadan di Desa Karangtinoto, Kecamatan Rengel kembali dikepung banjir luapan Sungai Bengawan Solo. Banjir sejak Rabu (26/2) itu hingga saat ini masih belum sepenuhnya surut.
Byurr, Deru air banjir yang tersepak roda-roda sepeda motor mengiringi riuh jalanan di Desa Karangtinoto, Kecamatan Rengel di awal puasa, Sabtu (1/3) lalu.
Para pemburu takjil tampak hilir mudik berburu menu buka puasa. Beberapa menggunakan sepeda motor, beberapa lainnya lagi jalan kaki.
Genangan air itu kembali mengepung Desa Karangtinoto sejak hari pertama puasa.
Tampak beberapa orang menyerngitkan dahi saat terciprat bah dari luapan Bengawan Solo itu.
Tampak beberapa warga melipat celana hingga baju panjangnya agar tidak basah. Pemandangan itu terlihat jelas saat wartawan koran ini bertandang ke lokasi.
Baca Juga: Mendikdasmen Wacanakan Kembali Pembelajaran di Rumah Mulai 21 Maret 2025 Mendatang
Banjir menyergap desa yang letaknya dekat dengan sungai terpanjang di Pulau Jawa itu sejak Rabu (26/2).
Meskipun begitu, banjir dengan ketinggian selutut orang dewasa itu sempat surut pada Jumat (28/2), atau sehari menjelang Ramadan.
Warga pun sempat bernapas lega. Namun, tiba-tiba warga yang tinggal di bantaran sungai kembali dikagetkan dengan kedatangan banjir pada hari pertama puasa. Itu menyusul dibukanya sejumlah bendungan di wilayah hulu.
Khoirul Ummah, salah satu warga Desa Karangtinoto mengatakan, kejadian banjir saat awal puasa tidak terjadi sekali ini.
Di tahun lalu, banjir juga mewarnai kehikmatan puasa pertama.
‘’Seperti mengulang masa lalu, cari takjil dan ngabuburit pertama dengan nyebrang air banjir,” katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Momen pertama puasa tahun ini tampaknya menjadi kurang nikmat. Aspal-aspal jalanan sudah tidak terlihat lagi, penuh dengan air yang berwarna kecokelatan. Semakin lama, air itu semakin naik dan meluas ke beberapa tempat, bahkan sampai ke rumah-rumah warga. ‘’Kelihatannya ini masih terus naik, jadi tadi saya titipkan sepeda motor ke desa tetangga yang tidak terendam banjir, karena besok harus bekerja,” ujarnya.
Baca Juga: Mayoritas Warga Tuban Menilai Gadai Lebih Aman Dibanding Pinjol
Seakan sudah terbiasa dengan kejadian memilukan itu, selain memburu takjil, beberapa orang lainnya berburu belanjaan untuk menu sahur.
Tampak dari mereka tak mengenakan alas kaki lantaran melewati genangan air.
Namun, suasana semakin riuh saat terdengar sepeda motor digas di beberapa titik, lantaran mati terendam air banjir.
‘’Banyak juga sepeda motor mati karena maksa melewati air banjir,” katanya.
Diketahui, desa yang digawangi oleh kepala desa asal Dusun Tomerto itu sudah sering dijamah banjir setiap tahunnya.
Bahkan, banjir bisa masuk ke rumah-rumah warga saat luapan air Bengawan Solo semakin tinggi debitnya.
Baca Juga: Fenomena Meme Popo Siroyo yang Viral, Ternyata Ini Asal-Usul dan Maknanya
Seperti bayang-bayang menakutkan yang menyergap berulang. Masyarakat di desa itu hanya ingin bebas dari kepungan banjir setiap tahun.
Terlebih, saat momen puasa yang begitu istimewa untuk berburu takjil bersama teman dan keluarga.
Kejadian ini diiringi dengan harapan masyarakat akan solusi pemangku kebijakan wilayah setempat, seperti desa, kecamatan hingga kabupaten yang diharapkan dapat responsif menanggapi hal itu.
‘’Kami ingin menikmati puasa dengan normal, jadi bisa leluasa ke mana-mana tanpa harus melewati genangan air,” ujarnya.
Senada dikatakan Sunarto warga lain. Dia berharap ada tindakan segera dan langkah konkret dari pemangku kebijakan, agar Desa Karangtinoto terbebas dari banjir Bengawan Solo.
‘’Kami sebagai warga tidak berharap lebih, hanya ingin hidup tanpa bayang-bayang banjir setiap tahun dan mengkhawatirkan tanaman padi kami di sawah,” tandasnya. (*/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama