Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Jelajah Masjid Syekh Asyari Sunan Bejagung, Membersamai Dakwah Sunan Bejagung Lor, Dulunya Beralaskan Pasir Pantai dan Beratapkan Sirap 

Shafa Dina Hayuning Mentari • Selasa, 4 Maret 2025 | 19:30 WIB
Photo
Photo

 

RADARTUBAN - Masjid Syekh Asyari Sunan Bejagung di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding erat dengan sejarah dakwah Sayyid Abdullah Asyari bin Sayyid Jamaluddin Kubro atau yang lebih dikenal dengan nama Syekh Asyari atau Sunan Bejagung Lor.

Diyakini, masjid ini pertama kali dibangun pada pada ke-15 atau era Kerajaan Majapahit.

Baca Juga: Jelajah Masjid Karomah di Dusun Winong, Diyakini sebagai Tempat Uzlah Syekh Ahmad Mutamakkin, Ulama Keturunan Raden Patah

Masjid yang diambil dari nama asli Sunan Bejagung Lor ini sudah dikenal luas oleh kalangan masyarakat, baik dari dalam maupun luar Tuban.

Maklum, masjid ini masih satu kompleks dengan Makam Syekh Asyari.

Sehingga banyak peziarah yang salat atau sekadar singgah di masjid tersebut. 

Di balik megah dan syahdunya suasana Masjid Syekh Asyari Sunan Bejagung, tersimpan jejak sejarah yang menjadi simbol keagamaan di akhir masa Kerajaan Majapahit.

Diketahui, Syekh Asyari atau Sayyid Abdullah Asyari bin Sayyid Jamaluddin Kubro merupakan tokoh syiar agama Islam di desa setempat sekitar abad ke-15. 

Ridwan, salah satu pengurus takmir masjid mengungkapkan, sebelumnya, Masjid Syekh Asyari Sunan Bejagung ini menjadi satu dengan masjid di Bejagung Kidul. Namun, karena ada sebab dan lain hal, sehingga dipindahkan ke Bejagung Lor.

‘’Kami sendiri tidak tahu karena sebab apa dan kapan masjid ini dipindahkan ke Bejagung Lor,” tutur Ridwan. 

Dia menjelaskan, bahwa sejarah di balik berdirinya masjid ini adalah kedatangan Pangeran Kusumohadi, keturunan Raja Majapahit yang melarikan diri karena tidak ingin terlibat dalam perebutan tahta kerajaan.

Kemudian, dia menjadi murid Sunan Bejagung dan dikenal sebagai Pangeran Pengulu yang menempati Bejagung Kidul dan berdakwah di sana. 

‘’Kami mengenalnya sebagai Syekh Abdurrahman, tapi lebih familiar disebut dengan Pangeran Pengulu,” lanjutnya. 

Kedua masjid dengan latar belakang sejarah yang melibatkan dua tokoh tersohor di Tuban ini sudah menjadi cerita turun-temurun oleh masyarakat Desa Bejagung khususnya, dan masyarakat luas pada umumnya. 

Pria yang sudah menjadi pengurus takmir selama kurang lebih 30 tahun itu menjelaskan, bangunan masjid Syekh Asyari sudah dilakukan berkali-kali pemugaran. Sebelumnya, masjid ini hanya beralaskan pasir pantai dan beratapkan sirap sebelum akhirnya sedikit demi sedikit dilakukan pemugaran sejak tahun 1960-an hingga saat ini. ‘’Pemugaran atau renovasi dilakukan karena memang bangunannya sudah tua, juga karena perkembangan zaman,” tuturnya. 

Saat jemaah dan pengunjung memasuki kompleks masjid ini, tersaji tembok lawas yang berdiri sebagai gerbang masuk. Uniknya, gerbang ini telah ada sejak masjid didirikan pertama kali oleh Syekh Asyari. 

Baca Juga: Mendikdasmen Wacanakan Kembali Pembelajaran di Rumah Mulai 21 Maret 2025 Mendatang

Suasana syahdu akan mulai terasa ketika jemaah menginjakkan kaki di dalam masjid. Berlantaikan granit, masjid ini memberikan kesan adem, klasik, dan islami dari ornamen-ornamen ala Timur Tengahnya. 

Pintu-pintu dari kayu jati berukir flora akan menyambut para jamaah yang memasuki masjid ini.

Pun saat memasuki serambi dalam masjid, tiang-tiang granit tampak kokoh menopang rumah ibadah dengan jejak historis ini. 

Saat menengok ke atas, jemaah akan menyaksikan kubah berlukis awan dengan kaligrafi ayat kursi yang mengelilingi. Di sisinya juga tampak kaca-kaca berlukis flora yang menambah kesan megah di dalam masjid ini. 

Baca Juga: Mayoritas Warga Tuban Menilai Gadai Lebih Aman Dibanding Pinjol

Meski serambi tengah menampakkan kesan modern dengan tiang dan kubah berlukis awan, tetapi serambi depan justru memberikan kesan klasik dengan beratapkan papan kayu jati yang akan semakin memperkhusyuk jemaah saat beribadah. 

Di dalam kompleks masjid, terdapat pesarean Syekh Asyari yang tak jauh dari lokasi masjid. Beliau dimakamkan di area tersebut bersama dengan istri dan anak-anaknya.

Pesarean tersebut ramai peziarah.

Tak hanya dari Bumi Ronggolawe ini saja, tetapi juga dari seluruh daerah di nusantara. 

‘’Peziarah di sini ramai, ada yang dari Kalimantan, Sulawesi, Jawa Barat. Bahkan ada yang dari luar negeri juga,” imbuh Ridwan. 

Baca Juga: Fenomena Meme Popo Siroyo yang Viral, Ternyata Ini Asal-Usul dan Maknanya

Di salah satu sisi masjid, tepatnya di bagian tempat imam, terdapat peninggalan dari Syekh Asyari berupa mimbar dan tongkat yang digunakannya kala memberikan ceramah dan menyebarkan dakwah di masyarakat setempat.

Di balik mimbar tersebut, bahkan terdapat lambang surya Majapahit yang menghiasi. 

‘’Lambang tersebut menunjukkan bahwa pada saat itu Majapahit masih eksis dan memimpin nusantara,’’ pungkas takmir asli Bejagung itu. (saf/tok) 

 

Editor : Yudha Satria Aditama
#ramadhan #Islami #ramadan #masjid #jelajah masjid