Tidak jauh dari Masjid Agung Tuban, tepatnya di kompleks Wisata Religi Sunan Bonang, terdapat bangunan masjid ikonik dan bersejarah. Usianya kurang lebih satu abad. Namanya, Masjid Astana. Hingga saat ini masih berdiri dan bertahan dengan nuansa arsitektur lama.
MASJID Astana yang masih berdiri hingga saat ini merupakan hasil renovasi dari bentuk bangunan awal yang berbahan dasar kayu. Informasi tersebut tercatat dalam laporan J. Knebel, salah satu utusan dari Dinas Purbakala Masa Pemerintahan Hindia Belanda.
Dalam laporannya, Knebel menjelaskan bahwa masjid yang berada kompleks makam salah satu Wali Sanga itu dulunya disebut langgar atau musala oleh warga setempat. Dibangun dengan bahan dasar kayu berukuran tidak besar.
Pada tahun 1910, Knebel mendatangi Tuban bersama Bupati Blora R. A. A. Cakranagara sekaligus singgah di makam Sunan Bonang untuk melakukan pemetaan benda purbakala di tempat tersebut.
Pada masa itu, mereka berdua juga ditemani oleh Bupati Tuban R. A. A. Koesoemodigdo.
Kemudian, beberapa tahun setelah kunjungan tersebut, langgar tersebut direnovasi secara besar-besaran masa pemerintahan Bupati Tuban R. A. A Koesoemohadiningrat. Yang awalnya berbahan dasar kayu, kemudian beralih menjadi beton.
‘’Renovasi tersebut diresmikan pada tanggal 4 September 1921, yang menurut penghitungan tanggal tersebut jika dikonversikan ke kalender Hijriyah bertepatan pada 1 Muharrom 1340 Hijriyah dan kalender Jawa 1 Sura 1852,’’ ujar pemerhati sejarah Tuban, Teguh Fatchur Rozi.
Lebih lanjut dituturkan Teguh, setelah direnovasi, yang awalnya disebut langgar menjadi masjid dan diberi nama Masjid Astana.
Hanya saja, keberadaan Masjid Astana ini cukup ganjil jika dikaitkan dengan peninggalan Sunan Bonang.
Sebab, penempatannya menghalangi garis lurus antara gapura II dan gapura III yang menuju makam Sunan Bonang.
‘’Keberadaan masjid ini bukanlah warisan dari Sunan Bonang dan tidak ada sangkut pautnya dengan sang wali. Pembangunan masjid ini terjadi setelah Sunan Bonang wafat,’’ beber sejarawan asal Kecamatan Palang itu.
Terpisah, Rohim, salah satu pengurus Yayasan Sunan Bonang mengatakan, menurut cerita tutur pendahulunya, Masjid Astana saat masih berwujud kayu dibangun masyarakat setempat sebagai tempat ibadah alternatif, lantaran akses menuju Masjid Agung Tuban yang dibatasi dinding pembatas oleh pemerintahan pada masa itu.
‘’Belum ada bukti tertulis, bangunan awal Masjid Astana dibangun tahun berapa, diperkirakan masih masa Hindia Belanda,’’ tuturnya.
Meski dinamakan masjid, namun fungsinya tidak seperti layaknya masjid pada umumnya.
‘’Masjid tersebut lebih difungsikan layaknya musala, karena tidak digelarnya salat Jumat dan salat Id,’’ beber pria paro baya itu.
Praktis, sejak mengalami renovasi besar-besaran pada 1 abad lalu, tidak ada perubahan bangunan mencolok yang berubah dari masjid dalam kompleks Makam Sunan Bonang itu.
‘’Arsitekturnya masih kental dengan bangunan masa Hindia Belanda, tampak dari interior pintu maupun lorongnya,’’ imbuhnya.
Salah satu bukti tertulis yang masih tampak di masjid tersebut, yakni plakat peresmian masjid ini yang terpasang di atas pintu utama bertuliskan 4-9-1921.
‘’Tahun ini, Masjid Astana genap berusia 104 tahun, sejak renovasi besar-besaran masa itu,’’ tandasnya. (an/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama