Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Jelajah Masjid Ibrahim Asmoro Qondi , Pertahankan Bangunan Berusia Ratusan Tahun, Jadi Saksi Sejarah Syiar Islam Syekh Maulana Ibrahim Asmoro Qondi

Sugiati. • Jumat, 7 Maret 2025 | 19:30 WIB

 

Photo
Photo

 

Masjid Ibrahim Asmoro Qondi di Desa Gesikharjo, Kecamatan Palang ini tidak lepas dari sejarah perjuangan Syekh Maulana Ibrahim Asmoro Qondi dalam mensyiarkan Islam di tanah Jawa, khususnya Kabupaten Tuban. Nama ulama asal Samarkand, Uzbekistan itu kemudian disematkan menjadi nama Masjid Ibrahim Asmoro Qondi.

RADARTUBAN Kilas kisah, Syekh Maulana Ibrahim Asmoro Qondi datang ke Jawa pada abad ke–14 atau tahun 1400 Masehi.

Mendarat di Pelabuhan Bandar Tuban, yang merupakan pelabuhan utama masa Kerajaan Majapahit.

Setelahnya, dia bertempat tinggal di dekat pelabuhan. Tepatnya di Desa Gesikharjo.

Wilayah ini pula yang menjadi lokasi Masjid Ibrahim Asmoro Qondi berdiri.

Ketua Yayasan Makam Asmoro Qondi, Sukardi menuturkan, Syekh Maulana Ibrahim Asmoro Qondi merupakan ayah dari Raden Muhammad Ali Rahmatullah atau Sunan Ampel, yang merupakan salah satu wali sanga.

‘’Sedangkan Ayah dari Mbah Asmoro Qondi namanya Syekh Jumadil Qubro,” katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Baca Juga: Serang Wasit, Pelatih Lyon Dijatuhi Sanksi 9 Bulan Larangan Dampingi Tim

Dalam catatan sejarah, Syekh Maulana Ibrahim Asmoro Qondi merupakan wali tertua di tanah Jawa.

Sedangkan dari silsilahnya, dia merupakan keturunan ke sembilan Nabi Muhammad SAW dari garis keturunan Putri Sayyidah Fatimah dan Sayyidina Ali.

Sebagai tempat syiar kepada penduduk setempat, Syekh Maulana Ibrahim kemudian mendirikan sebuah masjid, yang jejak sejarahnya masih ada hingga sekarang. Diperkirakan, masjid tersebut dibangun sekitar tahun 1400-an.

‘’Namun, untuk tahun pastinya kami tidak bisa memastikan, karena tidak tercatat dalam sejarah,” kata juru kunci Syekh Maulana Ibrahim, Ahmad Amin.

Masjid yang berlokasi di wilayah pesisir Kecamatan Palang itu tidak menjadi saksi bisu perjuangan Syekh Maulana Ibrahim Asmoro Qondi dalam mensyiarkan agama Islam di Tuban.

Meski masjid yang berada di kompleks pemakaman itu telah mengalami proses pemugaran dan perluasan.

Namun, tidak mengurangi esensi nuansa kuno. Bahkan, masjid lama, yang merupakan asli peninggalan Syekh Maulana Ibrahim Asmoro Qondi juga masih ada.

Ketika memasuki masjid tersebut, jemaah akan disuguhkan dengan nuansa dinding keramik kecokelatan dengan bangunan 4x7 meter yang masih sangat sederhana.

‘’Mihrab ini adalah salah satu bagian sejarah yang tersisa dari masjid lama,” papar Amin.

Selain itu, lanjut Amin, di area masjid juga terdapat beberapa barang peninggalan yang masih tersimpan rapi seperti mimbar, bedug, tiga gapura paduraksa, umpak dan sumur.

‘’Ada juga pendopo berukuran 1x2 meter yang berada di utara makam,” katanya.

Konon katanya, dahulu pendopo tersebut dijadikan sebagai tempat diskusi dan istirahat oleh Syekh Maulana Ibrahim Asmoro Qondi dan para muridnya.

Seiring berjalannya waktu, pendopo itu dijadikan tempat pemberhentian peziarah jika merasa tidak pantas maju lebih dekat ke makam Syekh Maulana Ibrahim Asmoro Qondi, dan kini pendopo sederhana itu digunakan sebagai tempat istirahat juru kunci.

Terdapat pula ruangan khusus dengan dinding kaca yang digunakan untuk menyimpan mimbar, umpak dan bedug, yang menjadi cerita sejarah.

Bila diamati, masjid hasil pemugaran sepuluh tahun lalu itu memiliki nuansa klasik. Hal itu dapat dilihat dari jendela, pintu dan langit-langit masjid yang dipenuhi dengan kaligrafi ukiran kayu.

‘’Proses pemugaran terjadi kurang lebih selama dua kali,” ujar juru kunci yang mengaku telah bertugas selama setahun itu.

Lantaran letaknya berada dalam satu kompleks dengan makam, Masjid Ibrahim Asmoro Qondi tidak pernah sepi pengunjung.

Karena itu pula, pada tahun 1996 dilakukan pembangunan tempat parkir yang berjarak sekitar 600 meter dari masjid dan makam Asmoro Qondi.

Banyak dari mereka yang sengaja datang untuk bertawasul atau intropeksi diri di hadapan Allah SWT.

‘’Semua bagian yang ada di sini menjadi saksi bisu sejarah perjuangan Syekh Maulana Ibrahim Asmoro Qondi dalam syiar Islamnya kepada masyarakat sekitar,” tandasnya. (*/tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#ramadhan #wali sanga #wali #ramadan #masjid #jelajah masjid