Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Jelajah Langgar Gladag Desa Nguruan, Kecamatan Soko, Berusia Hampir 1,5 Abad, Dulunya Menjadi Pusat Kegiatan Penyebaran Agama Islam di Desa Setempat 

Andreyan (An) • Senin, 10 Maret 2025 | 18:30 WIB

 

Photo
Photo

 

Di tengah bangunan masjid dan musala yang semakin modern, Langgar Gladak di Desa Nguruan, Kecamatan Soko ini masih orisinil sejak awal dibangun sekitar tahun 1888 Masehi. Di masa itu, bangunan langgar ini merupakan pusat kegiatan penyebaran agama Islam di desa setempat dan sekitarnya. 

SUASANA masa lampau begitu melekat saat wartawan koran ini pertama kali menginjakan kaki di langgar berusia ratusan tahun itu. Bangunan tua berbahan dasar kayu jati bergaya lama itu masih tampak kokoh—berdiri di antara bangunan rumah-rumah warga yang tampak modern.

Bahkan, tidak jauh dari lokasi tersebut, berdiri sebuah masjid yang cukup megah.

Sekilas, tidak ada arsitektur yang spesial pada bangunan yang akrab disebut masyarakat setempat Langgar Gladag itu. Namun, jika menilik ke belakang, tempat ibadah itu punya sederet sejarah panjang persebaran Islam di desa setempat.

Berdasarkan cerita tutur warga setempat, Langgar Gladag itu menjadi saksi sejarah persebaran agama Islam Desa Nguruan dan sekitarnya. Adalah Kiai Abu Muhammad Zayadi yang menginisiasi berdirinya bangunan lawas berusia sekitar 137 tahun itu.

Ulama yang karib disapa Mbah Maulana itu merupakan menantu dari KH Abu Ishaq Madani, salah satu ulama ternama di Kecamatan Kecamatan Rengel pada masanya.

Diperkirakan, pada periode waktu 1800-an, Mbah Maulana dan Kiai Musyidin diperintahkan oleh Mbah Ishaq untuk melanjutkan dakwah ke arah barat, tepatnya wilayah yang telah ditandai janur kuning.

‘’Mulanya, daerah yang dimaksud merupakan wilayah Desa Cekalang, Kecamatan Soko, namun sesampainya di sana, kedua kiai itu tak menemukan adanya janur kuning,’’ ujar pengurus Langgar Gladag, Muhammad Hasyim saat ditemui wartawan koran ini beberapa waktu lalu.

Setelah memakan waktu cukup lama untuk mencari keberadaan janur kuning, akhirnya wujud pertanda itu ditemukan di Dusun Santren, Desa Nguruan.

‘’Konon daerah bertanda janur yang ditemukan (di Desa Nguruan) merupakan wilayah yang sangat angker masa itu,’’ ujar dia.

Baca Juga: Mengenal GOR Rangga Jaya Anoraga, Bukan Sekadar Tempat Olahraga di Tuban

Semasa berdakwah menyebarkan Islam di Desa Nguruan dan sekitarnya, Kiai Maulana memusatkan syiarnya di bangunan musala yang dibangun menggunakan bahan dasar kayu dari lantai hingga atapnya tersebut. ‘’Karena lantainya berbahan dasar kayu, masyarakat masa itu menamainya Langgar Gladag,’’ ungkap Hasyim.

Pada masa itu, peran musala itu cukup vital bagi masyarakat setempat, bahkan luar desa. Dulunya, musala itu difungsikan sebagai tempat ibadah, seperti salat Jumat hingga kegiatan keagamaan lainnya.

Namun, setelah adanya bangunan masjid, kini langgar tersebut tak lagi difungsikan untuk salat Jumat.

Berjalannya waktu, setelah bangunan masjid mulai berkembang di wilayah Desa Nguruan dan sekitarnya, Langgar Gladag hanya digunakan menjadi tempat mengaji anak-anak desa setempat hingga sekarang ini.

Salah satu peninggalan Langgar Gladag sejak awal dibangun yang masih tersisa, yakni plakat tanggal berdirinya musala yang terpasang di atas bangunan bertuliskan arab dengan tanggal pendiriannya, yakni 14 Jumadil Akhir 1302 Hijriah atau kisaran tahun 1888 Masehi.

Langgar berusia tua itu nyaris tidak ada perubahan arsitektur maupun bangunan intinya, kecuali penambahan bagian tempat imam dan shaf depan yang dulunya beralaskan kayu diganti dengan keramik. 

Baca Juga: Keterlambatan Penanganan Stroke Bisa Berakibat Fatal, Edukasi dan Kesiapan Fasilitas Medis Jadi Kunci

‘’Dulunya, ada peninggalan bangunan pondok di dekat musala, tetapi sekarang sudah tidak ada. Begitu pun dengan kitab-kitab peninggalan Mbah Maulana juga hilang karena tidak terurus,’’ jelas Hasyim.

Di dekat musala juga terdapat makam Mbah Maulana beserta istri dan anaknya yang biasanya masih diadakan haul pada 14 Dzulhijah. ‘’Biasanya, keluarga ataupun garis turunannya yang berdomisili jauh juga hadir setiap tahun untuk memperingati haul,’’ pungkasnya. (*/tok) 

Editor : Yudha Satria Aditama
#ramadhan #ramadan #masjid #jelajah masjid