Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Jelajah Masjid Baitul Jalil, Desa Sidodadi, Kecamatan Bangilan, Bergaya Arsitektur Tionghoa, tapi Lekat dengan Simbol-Simbol Keislaman

Andreyan (An) • Kamis, 13 Maret 2025 | 19:30 WIB

 

Photo
Photo

Tidak seperti masjid-masjid di Kabupaten Tuban pada umumnya yang kental dengan nuansa Timur Tengah. Masjid Baitul Jalil, di Dusun Bamban, Desa Sidodadi, Kecamatan Bangilan ini identik dengan arsitektur Tionghoa. Oleh warga setempat, masjid di kompleks Pondok Pesantren Syifaul Qulub itu lebih dikenal dengan sebutan Masjid Cheng Ho.

SERASA berada di tempat ibadah umat Tridharma. Itulah kesan pertama saat memasuki Masjid Baitul Jalil.

Hampir seluruh dinding bangunan masjid ini didominasi warna merah khas etnis Tionghoa.

Berkebalikan dengan masjid pada umumnya yang tidak banyak warna.

Dibeberapa sudut dan bagian masjid juga tampak ornamen-ornamen khas Klentang, seperti lampion dan atap bak pagoda yang menjulang.

Keberadaan masjid di atas bukit desa setempat ini sering disebut oleh pengunjung maupun warga setempat sebagai kembaran Masjid Cheng Ho di Kota Surabaya dan Pandaan, Pasuruan.

Pembangunan Masjid “Cheng Ho Tuban” ini diprakarsai oleh Kiai Masruh, yang juga pengasuh Pondok Pondok Pesantren Syifaul Qulub di desa setempat.

‘’Masjid ini pertama kali dibangun pada tahun 1997, kemudian direnovasi sedemikian rupa bergaya Tionghoa pada 2004,’’ ungkap dia saat ditemui oleh wartawan koran ini, kemarin (12/3).

Inisiatif menjadikan Masjid Baitul Jalil dengan gaya arsitektur Tionghoa ini dilatari kedekatan Kiai Masruh dengan komunitas Tionghoa di Kecamatan Bangilan. Sehingga melahirkan bangunan masjid bernuansa muslim Tionghoa.

Posisi bangunannya juga tepat berada di belakang komplek pemakaman etnis Tionghoa.

‘’Sampai saat ini masih sering dikunjungi umat muslim Tionghoa, bahkan enam bulan lalu ada turis muslim Tiongkok yang datang berkunjung,’’ beber pengasuh Ponpes Syifaul Qulub itu.

 Baca Juga: Tidak Lolos Ramp Check, Melintas di Tuban Langsung Diamankan, Kendaraan Pengangkut Mudik Lebaran

Meski kental dengan arsitektur Tionghoa, Masjid Baitul Jalil memiliki makna filosofi Islam yang mendalam dalam setiap bagian bangunannya.

Seperti jumlah sudut pada sisi bannguannya yang berjumlah sembilan—simbol Wali Sanga, penyebar agama Islam di Pulau Jawa.

Tiang penyangga di setiap sudut masjid berjumlah sembilan puluh sembilan tiang, yang menggambarkan Asmaul Husna.

‘’Menaranya berbentuk prisma segilima yang memiliki makna rukun Islam,'’ imbuhnya.

Bangunan masjid berukuran 25x25 meter yang didominasi beton dan kayu mahoni itu hingga saat ini menjadi pusat ibadah santri Ponpes Syifaul Qulub dan masyarakat setempat.

‘’Bangunan masjid ini sekaligus menjadi pengingat bahwa wilayah desa ini dulunya menjadi pusatnya umat Tionghoa di Bangilan,’’ pungkasnya. (*/tok)

 

Editor : Yudha Satria Aditama
#ramadhan #ramadan #masjid #ibadah #jelajah masjid