Masjid Baitul Jalil di komplek Pondok Pesantren (Ponpes) Syifaul Qulub di Dusun Bamban, Desa Sidodadi, Kecamatan Bangilan ini tidak hanya lekat dengan Arsitektur Tionghoa. Tapi juga menjadi saksi mualaf sejumlah etnis Tionghoa di desa setempat.
BERDIRINYA Ponpes Syifaul Qulub jauh lebih dulu dibanding Masjid Baitul Jalil yang dibangun sekitar tahun 1997.
Sebelum ponpes tersebut dibangun pada 1986, dulunya, kawasan perbukitan ini merupakan hutan lebat yang jauh dari pemukiman warga di Kecamatan Bangilan.
‘’Sebelum dibangun pondok dan masjid, tempat ini dipercayai masyarakat setempat sebagai pusatnya makhluk tak kasat mata berkumpul, bahkan menjadi tempat sejumlah golongan untuk mencari ilmu kanuragan,’’ ungkap Muhammad Arifin, menantu Kiai Masruh Pengasuh Ponpes Syifaul Qulub saat ditemui oleh Jawa Pos Radar Tuban, Rabu (13/3).
Di masa itu, sebelum kedatangan Kiai Masruh, keturunan etnis Tionghoa telah mendiami wilayah tersebut.
Namun, tidak bermukim di dekat perbukitan. Mereka punya banyak lahan yang sebagian besar menjadi tempat pengolahan kayu dan sebagian menjadi tempat pemakaman.
‘’Bahkan, nisan makamnya hingga saat ini masih tampak terlihat sebelum akses masuk ponpes,’’ ujar pria yang karib disapa Gus Fin itu.
Barulah saat Kiai Masruh datang sekaligus membersihkan tempat tersebut dan mendirikan pondok, para pemuda dari desa setempat maupun santri luar daerah mulai berdatangan.
‘’Tak hanya santri, kedatangan Kiai Masruh yang punya kedekatan khusus (dengan etnis Tionghoa, Red) turut membawa pengaruh positif terhadap keturunan Tiongkok yang berada di wilayah dekat sini,’’ beber pria asal Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro itu.
Lebih lanjut, Gus Fin menyampaikan, pembangunan Masjid Baitul Jalil ini turut mengeratkan hubungan dengan masyarakat keturunan Tionghoa.
Bahkan, beberapa di antaranya ada yang berpindah keyakinan menuju agama Islam dari agama yang dianut sebelumnya.
‘’Mereka yang mualaf melantunkan kalimat syahadat di masjid ini,’’ tuturnya.
Meski tidak seluruhnya etnis Tionghoa di wilayah Bangilan yang memeluk Islam, namun toleransi antarumat agama dijunjung tinggi.
‘’Bahkan, mereka yang beragama non muslim sering kali mengunjungi masjid di ponpes ini,’’ pungkasnya. (*/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama