Bangunan Masjid Nurul Huda ini tidak jauh beda dengan bangunan masjid-masjid lainnya. Namun, yang mahal adalah nilai sejarah dari proses pembangunan masjid ini. Peletak batu pertama pembangunan masjid ini adalah Kiai Ali Manshur Shiddiq, pencipta Salawat Badar.
DULUNYA, sebelum tahun 1960-an, umat muslim di Dusun Sugihan, Desa Sumberejo, Kecamatan Rengel ini belum memiliki tempat ibadah.
Jangankan masjid, langgar atau musala pun belum ada.
Ketika hendak salat Jumat atau salat Idul Fitri maupun Idul Adha, warga yang tinggal di dusun terpencil ini harus jalan kaki kurang lebih 3 kilometer menuju dusun tetangga yang sudah memiliki masjid.
Merasa membutuhkan tempat ibadah sendiri, warga dusun setempat berembuk untuk membangun langgar.
Minimal untuk salat lima waktu berjemaah.
‘’Sebenarnya, waktu itu sudah ada langgar kecil milik Pak Haji Malik, tokoh warga sini dulu, lalu oleh warga—atas seizin Pak Haji Malik, langgar itu dialihkan ke lahan yang sudah diurug oleh warga,’’ ujar Hadi, Takmir Masjid Nurul Huda yang dulu berupa langgar kecil itu.
Baca Juga: Peringati 12 Tahun Kepemimpinan Paus Fransiskus di Rumah Sakit, Tim Medis Beri Kejutan Kecil
Baru pada tahun 1963, warga di dusun ini melakukan pembangunan masjid. Proses pembangunan inilah yang dikenang sampai sekarang.
Sebab, peletakan batu pertama dilakukan oleh Kiai Ali Manshur Shiddiq, pencipta Salawat Badar yang dianugerahi Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma oleh Presiden Joko Widodo pada 14 Agustus 2024 lalu.
‘’Beliau (Kiai Ali Manshur) datang melakukan peletakan batu pertama,’’ ujar takmir masjid yang juga anak Haji Malik itu.
Di tengah kebahagiaan warga yang bakal memiliki masjid sendiri, gerakan PKI semakin masif hingga ke pelosok-pelosok desa. Termasuk di dusun setempet. Pembangunan masjid pun sempat kacau dan tak kunjung selesai.
Akhirnya, setelah serangan PKI mereda. Tepatnya pada 1971, tempat ibadah yang dulunya langar menjadi sebuah masjid yang berdiri kokoh dengan nama Nurul Huda.
Nama itu langsung diberikan oleh Kiai Ali Manshur, tokoh bersejarah dalam pembangunan masjid.
‘’Dulunya, masih full kayu jati,” kata Hadi.
Baca Juga: Penumpang Tolak Pindah Kursi di Pesawat Viral, Kini Gugat Maskapai
Seiring berjalannya waktu, kayu-kayu konstruksi masjid mengalami pelapukan, kemudian direnovasi dengan batu bata pada 1990.
Tidak berhenti di situ saja, renovasi demi renovasi terus dilakukan pada 2004 dan terakhir 2015.
‘’Meski begitu, kami tidak pernah merubah desain lama, meskipun konstruksi bangunan kami rubah yang awalnya kayu menjadi tembok, karena memang tidak memungkinkan untuk dipertahakan,” ujarnya.
Saat pertama kali memasuki pintu utama Masjid Nurul Huda, jemaah akan disuguhkan dengan ruangan depan yang disebut serambi, dan dipisahkan dengan tembok dan pintu, sehingga jika memasuki pintu selanjutnya, barulah jemaah sampai ke ruang induk, yang digunakan untuk salat.
‘’Memang kami masih mempertahankan konsep masjid zaman dulu. Ada serambi dan ruang induknya,” papar pria lulusan Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) itu.
Baca Juga: Penunjukan Ifan Seventeen Jadi Dirut PFN Dipertanyakan, Ketua PARFI: Banyak Orang Film yang Kompeten
Meski sudah berdiri kokoh menjadi sebuah masjid, namun letak wilayah yang terpencil membuat masjid tersebut kian sepi jamaah dan dianggap angker.
‘’Setelah itu, kami sepakat untuk selalu mengamalkan Salawat Badar saban selesai salat. Karena pendirian masjid ini juga tidak lepas dari peran Kiai Ali Manshur, sang pencipta Salawat Badar,” katanya.
Hingga kini, kebiasaan baik itu terus dilestarikan. Namun tidak hanya itu, masjid itu juga terus melestarikan kebaikan-kebaikan lain, melalui kegiatan keagamaan seperti Jumat berkah, ngaji kitab, diba, dan manaqiban.
‘’Kebiasaan itu dari dulu kami rawat,” tandasnya. (*/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama