Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Jelajah Masjid Baitul Muttaqin di Dusun Dondong, Kecamatan Semanding , Berdiri di Atas Bangunan Masjid Lama yang Diyakini Peninggalan Syekh Siti Jenar

Shafa Dina Hayuning Mentari • Senin, 17 Maret 2025 | 20:30 WIB

 

Photo
Photo

 

Letak bangunan Masjid Baitul Muttaqin di Dusun Dondong, Kecamatan Semanding ini bersebelahan dengan makam Syekh Siti Jenar. Tepatnya di sisi barat masjid. Oleh warga setempat, masjid ini diyakini peninggalan Syekh Siti Jenar yang dibangun sejak abad ke-16.

 

SEBELUM tampak megah seperti sekarang, Masjid Baitul Muttaqin ini dulunya hanya berupa masjid kecil dengan gaya bangunan klasik yang tersusun dari kayu-kayu kuno. Beratapkan sirap dan beralaskan pasir, serta tikar anyaman daun lontar.

‘’Masjid yang bangunan sekarang ini berdiri di atas masjid lawas yang didirikan oleh Syekh Siti Jenar,’’ kata juru kunci makam Syekh Siti Jenar, Mbah Sugeng, sekaligus menegaskan bahwa masjid ini tidak berpindah dari titik awalnya. 

Sebagaimana dikisahkan, Syekh Siti Jenar merupakan ulama Arab yang berlayar ke Nusantara untuk menemui Sunan Kalijogo.

Perjalanannya yang panjang meninggalkan jejak kewalian di beberapa wilayah, termasuk di Dusun Dondong, Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding. 

Sayangnya, tak ada manuskrip fisik yang bisa menjelaskan kapan kedatangan Syekh Siti Jenar ke dusun tersebut.

Masyarakat setempat hanya menyakini jika tokoh sufi itu telah ada sejak ratusan tahun lalu bersamaan dengan eksistensi dakwah Sunan Kalijogo. 

‘’Dulu, masjid ini cekung ke bawah, jadi setiap kali merenovasi harus di urug dulu. Kalau tidak salah, sudah empat kali renovasi, yang terakhir di tahun 2019,” ujar Mbah Sugeng.

Terdapat pula empat makam dalam satu cungkup yang diyakini sebagai pesarean Syekh Siti Jenar beserta istri dan satu anaknya.

Serta satu makam Mpu Supo pembuat wesi aji atau besi yang bernilai dan dimuliakan.

Bahkan, pesarean ini telah didatangi oleh banyak peziarah dari seluruh Nusantara. Termasuk negara tetangga, Malaysia yang juga pernah berkunjung ke pemakaman salah satu wali yang ada di Kota Legen ini. 

Ada juga salah satu sumur tua di selatan masjid, yang juga diyakini peninggalan Syekh Siti Jenar. Dengan kedalaman 13 meter dan berdiameter kurang lebih 100 sentimeter (cm), sumur tua ini diyakini dapat memberikan keberkahan serta penyembuhan bagi yang meminum airnya. 

‘’Banyak yang meyakini minum air ini bisa sehat. Ada juga orang-orang yang meminta air ini untuk dijadikan bahan campuran dalam masakan saat ada acara seperti pernikahan dan sunatan, pun air sumur ini tidak pernah surut walau kemarau,” imbuh juru kunci yang telah berkiprah selama 14 tahun itu. 

Meski telah mengalami berkali-kali renovasi, sumur tua yang ada di samping masjid ini tetap dibiarkan sebagai salah satu peninggalan Syekh Siti Jenar. Pun dengan pohon randu raksasa yang juga diyakini telah ada sejak Masjid Baitul Muttaqin pertama kali dibangun. 

Dari gapura depan masjid, jemaah yang datang untuk beribadah dapat langsung melihat gaya bagunan eropa yang diadaptasi oleh masjid ini. Dengan tiga kubah berwana biru masing-masing pada menara, dan kubah besar dibagian tengah masjid semakin menunjukkan kesan adem, minimalis, dan modern dari masjid ini. 

Jika dilihat tampak luar, setiap tembok masjid berukirkan flora yang dibentuk langsung pada temboknya. Pun dengan serambi depan yang ditopang oleh empat pilar dari kayu jati yang semakin menambah nuansa megah.

Jamaah juga akan disambut dengan pintu-pintu masuk yang terbuat dari kayu jati yang terukir flora di setiap sisi masjid. 

Saat berada di serambi dalam, jamaah akan disajikan dengan suasana tentram nan sejuk.

Dengan tembok arah kiblat yang dilapisi dengan granit berwana abu-abu dan berhiaskan kusen-kusen kayu jati serta ornamen bungan matahari, kesan megah, tenang, dan damai akan semakin terasa ketika jemaah bersujud menyembah Yang Kuasa. 

Dan saat menengok ke atas, tersaji sisi bagian dalam kubah yang berlukiskan awan serta dikelilingi oleh jendela-jendela kecil.

Ditopang juga dengan empat pilar kayu jati yang mengelilinginya, sehingga menambah kesan nuansa klasik di dalam rumah ibadah ini. (*/tok) 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Yudha Satria Aditama