RADARTUBAN - Masjid An-Nur Nurul Miftahussofyan di Kecamatan Singgahan ini memiliki keunikan tersendiri dibanding masjid pada umumnya.
Jika bangunan masjid lain menggunakan beberapa tiang penyangga dari beton, masjid ini ditopang menggunakan sebatang pohon jati berukuran besar di tengah-tengah bangunan masjid.
Uniknya, pohon yang berdiri kokoh ini sekaligus menjadi fondasi utama tempat ibadah yang akrab di telinga masyarakat dengan sebutan Masjid Satu Tiang itu.
Bertempat di wilayah perbukitan menanjak, akses Masjid An-Nur Nurul Miftahussofyan di kompleks Pondok Pesantren (Ponpes) Walisongo, Dusun Gomang, Desa Laju Lor, Kecamatan Singgahan ini cukup sulit dijangkau pengunjung yang penasaran dengan keunikan masjid tersebut.
Berjarak kurang lebih 42 kilometer (km) atau sekitar 1 jam perjalanan menggunakan motor dari pusat pemerintahan Kabupaten Tuban.
Sepintas, jika dilihat dari luar, tidak ada yang menarik dari masjid ini. Perbedaan mencolok baru dijumpai saat menilik bagian dalamnya.
Sebatang pohon jati berukuran besar berdiri kokoh di tengah-tengah bangunan sekaligus menjadi fondasi utama.
Tidak ada satu pun tiang penyangga dari beton.
Pendiri sekaligus pengasuh Ponpes Wali Songo, KH Noer Nasroh Hadiningrat mengatakan, masjid An-Nur Nurul Miftahussofyan ini didirikan sekitar tahun 1994.
Pendirian masjid itu didasari karena kebutuhan dari ponpes yang telah berdiri sejak 1977.
‘’Jumlah santri semakin banyak, kebutuhan penambahan masjid sangat diperlukan pada masa itu,’’ ungkapnya.
Mulanya, pembangunan masjid tersebut berbekal dana secukupnya. Akhirnya, masjid ini dibangun dengan satu batang pohon jati besar utuh berdiameter 85 centimeter (cm) dan panjang 27 meter (m) sebagai tiang penyangga utama.
Bangunan masjid didominasi kayu jati mulai dari tiang, atap maupun dindingnya.
‘’Satu tiang utama yang besar dan tinggi ini bermakna tauhid, sebagai petunjuk bagi setiap orang yang masuk masjid agar hatinya selalu mengingat Allah, Dzat Yang Maha Besar, Maha Tinggi dan Maha Agung,’’ terangnya.
Kemudian pada bagian atap masjid, bentuk kubah tidak dibuat seperti kubah masjid pada umumnya.
Melainkan, dibentuk dari tumpukan akar kayu jati yang dipasang tanpa pengikat sekaligus mempunyai makna kehati-hatian.
Makna filosofi keislaman juga terdapat pada ornamen maupun bentuk lainnya pada beberapa bagian masjid tersebut.
Seperti pada tiang utama masjid yang tingginya 27 meter itu sebagai simbol perjalanan Nabi Muhammad SAW pada tanggal 27 Rajab.
Selanjutnya, tampak pada bangunan masjid itu memiliki lebar 17 meter, simbol angka tersebut merujuk pada peristiwa Nuzulul Quran atau turunnya wahyu pada tanggal 17 Ramadan, serta angka 17 juga bermakna bilangan rakaat salat fardu yang berjumlah 17 rakaat.
‘’Selain itu, angka tujuh belas juga memiliki makna istimewa bagi sejarah bangsa Indonesia. Sekaligus sebagai pengingat hari kemerdekaan tanggal 17 Agustus,’’ jelas ulama kelahiran 1954 itu.
Dari sisi lain, jika menilik lebih detail, ukuran panjang bangunan masjid tersebut mencapai 40 meter merujuk pada peristiwa awal Nabi Muhammad SAW menerima wahyu dari Allah yang saat itu berusia 40 tahun.
Masjid An-Nur Nurul Miftahussofyan ditopang dengan delapan buah tiang tambahan sebagai penyangga pada bagian tepi atap.
Sehingga, apabila ditotal keseluruhan dengan satu tiang utama, maka totalnya berjumlah sembilan tiang.
‘’Angka sembilan mempunyai makna Wali Sanga, terlebih pesantren ini juga menganuit ajaran Wali Sanga,’’ terang dia.
Sementara itu, pada bagian pintu masjid jika ditotal berjumlah lima.
Meliputi tiga pintu yang terpasang di bagian sisi depan dan satu pintu yang terpasang di sisi samping kanan dan satu pintu di samping kiri masjid.
‘’Lima pintu mempunyai makna rukun Islam, serta juga bermakna simbol Pancasila dengan lima silanya,’’ imbuh KH. Noer Nasroh Hadiningrat.
Untuk pintu, masjid ini memiliki lima buah pintu masuk tiga pintu berada di sisi depan dan terdapat masing-masing satu pintu masuk di sisi samping kanan dan kiri masjid.
‘’Untuk lima pintu itu dimaksudkan dengan lima sendi rukun Islam, begitu juga dengan Pancasila yang memiliki lima sila,’’ bebernya.
Pendiri Ponpes Wali Songo itu menjelaskan, penamaan masjid Masjid An-Nur Nurul Miftahussofyan merupakan gabungan dari tiga nama, yakni dirinya sendiri, Kiai Noer, Pak Miftah yang saat itu menjabat sebagai Administratur (ADM) Perhutani KPH Jatirogo, dan Pak Sofyan yang kala itu menjabat sebagai Asisten Perhutani setempat.
Hingga saat ini, masjid berusia puluhan tahun itu masih kokoh berdiri dan aktif digunakan oleh para warga setempat maupun santri untuk menjalankan ibadah salat berjamaah.
‘’Sampai sekarang masih menjadi tempat mengaji para santri dan kegiatan keagamaan di pondok,’’ pungkasnya. (*/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama