RADARTUBAN - Berdiri sejak ratusan tahun lalu, Masjid Ash Shomadiyah Tuban di Kelurahan Kingking, Kecamatan Tuban ini menyimpan simbol-simbol pesan kehidupan yang terwariskan hingga sekarang. Dari mulai melangkahkan kaki di pintu gapura hingga masuk ke dalam masjid, semua memiliki makna filosofis.
Ratusan tahun lalu, masjid yang berada satu kompleks dengan Pondok Pesantren (Ponpes) Ash Shomadiyah ini merupakan area lahan kosong semacam hutan yang belum tersentuh kehidupan manusia.
Hingga akhirnya datang seorang ulama dari Dusun Morosemo, Desa Sumberagung, Kecamatan Plumpang yang mengubah lahan kosong tersebut menjadi sentra dakwah Islam di wilayah setempat.
Adalah Syekh Shomadiyah, aulia yang kemudian disematkan menjadi nama masjid tersebut.
Sebelum dinamakan Masjid Ashomadiyah, dulunya hanya sebuah surau atau langgar kecil—yang oleh warga setempat dinamakan Musala Kuning. Arti kata ‘kuning’ memiliki dimaknai hati yang bening.
Diceritakan oleh salah satu pengurus Yayasan Ashomadiyah, Soleh Saudi Ma’ruf, dulu, setiap kali Mbah Shomadiyah datang dari arah timur dan melewati sebuah tempat seperti warung yang dihuni orang-orang Belanda, musik di tempat tersebut mati secara tiba-tiba.
Setelah di ketahui penyebabnya, maka muncul sebuah solusi agar Mbah Shomadiyah tak lagi melewati area tersebut. Kemudian diberikanlah tanah perdikan, yang kini berdiri Masjid Ashomadiyah.
‘’Syekh Shomadiyah kala itu melakukan mbubak alas di lahan yang disebut jalmo moro jalmo mati, yang memiliki arti, siapa yang masuk ke sini tak akan bisa keluar lagi,” kata Saudi—panggilan akrabnya.
Lulusan salah satu perguruan tinggi di Yaman itu melanjutkan, setelah banyak santri yang mengaji dengan Mbah Shomadiyah, sehingga surau tersebut diperluas dan resmi berdiri sebagai masjid pada tahun 1395 Hijriah atau 1975 Masehi.
Untuk menjaga kebersihan dan segala keperluan di surau tersebut, didirikanlah sebuah yayasan oleh penerus Mbah Shomadiyah yang bernama KH Ahmad Syifa sekitar 1982.
Ketika santri maupun jemaah memasuki kompleks pondok pesantren dan madrasah ini, mereka terlebih dahulu akan melewati gapura putih dengan kubah kecil di atasnya berwarna emas.
Gapura yang diserap dari kata Ghofurun ini memiliki arti bagi para santri yang masuk dan menimba ilmu di pondok harus meminta ampunan pada Yang Maha Kuasa.
Tujuannya, agar segala ilmu yang diperoleh bermanfaat.
Setelah melewati gapuran, jemaah melewati jembatan dengan sungai di bawahnya yang berarti shiroth.
Filosofi dari jembatan ini diartikan sebagai jembatan yang mengantarkan santri ke jalan yang lurus sebagaimana Islam mengajarkan, dan diharapkan bisa merancang masa depan untuk meraih cita-citanya.
Selanjutnya, melewati Masjid Ashomadiyah yang menjadi sarana memasrahkan diri dan bersujud kepada Allah atas kebutuhan selama di dunia maupun di akhirat nantinya.
Di belakang masjid terdapat sebuah makam para keturunan Syekh Shomadiyah, dan juga makam khusus untuk warga Makam Agung yang dipisahkan oleh pagar besi.
Makam ini sebagai simbol mengingat leluhur—yang telah memperjuangkan tegaknya Islam dan kemerdekaan di Tuban.
Lalu, ada ghotakan atau pondok yang menjadi tempat para santri menimba ilmu dan nulung ilmu sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Mbah Shomadiyah semasa berdakwah di kawasan tersebut.
Masjid Ashomadiyah sendiri dibangun dengan nuansa klasik ala Timur Tengah yang memberikan kesan adem bagi santri dan jemaah saat memasukinya.
Wajah depan masjid ini masih mempertahankan salah satu dari bagian bagunan lama yang tertera tahun 1395 Hijriah dalam tulisan arab.
Kemudian, ketika memasuki serambi masjid, pintu-pintu kayu jati sederhana akan menyambut orang-orang yang ingin bersujud dengan khusyuk di dalam masjid ini.
Pun saat memasuki masjid, jemaah akan bisa melihat kaligrafi surah Alquran yang menghiasi setiap dinding masjid.
Ketika menengok ke atas pun akan terlihat langit-langit masjid tanpa tiang penopang dan kubah bagian dalam yang juga dihiasi kaligrafi serta lampu gantung sederhana.
Tepat di sebelah barat masjid juga terdapat pesarean Mbah Shomadiyah, istri, seberta keturunannya.
Bahkan, KH Ahmad Syifa selaku pendiri Yayasan Ashomadiyah pun turut dikebumikan di pemakaman tersebut. (*/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama