Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Jelajah Masjid Aschabul Kahfi Perut Bumi Al-Maghribi Tuban , Berangkat dari Wangsit, Dibangun di Dalam Gua yang Dulunya Tempat Pembuangan Sampah

Andreyan (An) • Minggu, 23 Maret 2025 | 18:30 WIB

 

Photo
Photo

 

Masjid Aschabul Kahfi Al-Maghribi di Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding ini menyimpan sederet keunikan dan kisah menarik di balik pendiriannya. Dibangun di dalam gua, tempat ibadah yang melekat dengan sebutan Masjid Perut Bumi itu dulunya bekas pembuangan sampah, sebelum akhirnya disulap menjadi masjid berarsitektur Arabian Night.

ANDREYAN, Tuban

JIKA pada umumnya pendirian masjid dibangun di atas tanah yang luas. Berbeda dengan Masjid Aschabul Kahfi Al-Maghribi yang dibangun di dalam tanah.

Untuk menjangkau lokasinya, wartawan koran ini haruslah menuruni anak tangga serta melintasi lorong panjang bak labirin bawah tanah.

Masjid ini tampak estetik dan unik. Keberadaannya di dalam gua tidak membatasi penuangan seni arsitekturnya yang bergaya Timur Tengah bak Negeri 1001 Malam.

Stalaktit yang menggantung di langit-langit gua berpadu padan dengan pilar-pilar megah konstruksi masjid, dan dengan cahaya temaram menambah pesona di dalam gua ini.

Sebelum dibangun masjid, lubang gua di lahan perbukitan kapur ini merupakan tempat pembuangan sampah. Adalah Kiai Subkhan Al Mubarok yang menginisiasi pendiri masjid tersebut. 

‘’Masjid dan pondok pesantren ini didirikan pada tahun 2002 silam oleh Kiai Subkhan Al Mubarok, kurang lebih menempati lahan seluas 3 hektare,’’ ujar Pengurus Masjid Aschabul Kahfi Perut Bumi Al-Maghribi Damaris Joko Pristianto saat ditemui Jawa Pos Radar Tuban, Jumat (21/3)

Lebih lanjut dikatakan oleh Joko, pada periode waktu 90-an akhir, Kiai Subkhan Al Mubarok mendapatkan wangsit dari sesepuh untuk mencari gua tempat petilasan wali.

Tak hanya mencari gua, Kiai Subkhan juga diperintahkan mendirikan pesantren di dalamnya. 

Setelah sekitar tiga tahun berdoa dan berusaha, Kiai Subkhan mendapatkan petunjuk bahwa gua itu berada di Tuban. Kiai Subkhan lantas membeli tanah tersebut.

‘’Pada masa itu, kawasan tersebut berupa semak belukar dan sangat kotor. Sudah 15 tahun Pemkab Tuban menjadikan kawasan tersebut sebagai tempat pembuangan sampah,’’ ujar pria asal Kelurahan Sendangharjo, Kecamatan Tuban.

Kiai Subkhan dibantu 38 santri pertamanya membutuhkan waktu 18 bulan untuk bekerja keras membersihkan area tersebut.

Setelah 1,5 tahun, akhirnya gua tersebut bisa ditempati. Kiai Subkhan menjadikan gua tersebut sebagai Pesantren Aschabul Kahfi Perut Bumi Al-Maghribi.

Dia kemudian juga membangun masjid di dalam gua yang diberi nama serupa.

Konstruksi bangunan dirancang sedemikian rupa sehingga membuat pesantren dan masjid di dalam gua menjadi nyaman digunakan untuk beribadah.

Masjid ini dipenuhi ukiran kaligrafi berbahan marmer. Selain masjid, bangunan yang menjadi kamar santri dan ruang pertemuan juga dihiasi ukiran kaligrafi berbahan marmer.

‘’Banyaknya relief kaligrafi dan ayat-ayat Alquran yang diukir di beberapa dinding selain untuk makna keindahan, juga untuk membentengi lokasi ini agar dijauhkan dari gangguan makhluk tak kasat mata, sebab dulunya tempat ini masih angker,’’ beber Joko.

Masjid ini juga menyimpan sejumlah situs peninggalan ulama terdahulu.

Di antaranya petilasan Syekh Maulana Al Maghribi, tempat pertapaan Singo Joyo dan Putri Ayu Sendang Harjo.

‘’Biasanya musim ramainya pengunjung setelah hari Lebaran, pengunjung lokal dan luar kota bahkan luar provinsi juga sering berkunjung,’’ tandasnya. (*/tok)

 

Editor : Yudha Satria Aditama