RADARTUBAN - Dulunya, lokasi tempat berdirinya Masjid Husnul Khotimah, Desa Sambonggede, Kecamatan Merakurak ini merupakan lokasi pementasan kesenian ludruk yang menjadi hiburan warga desa setempat.
Seiring berjalannya waktu, tepatnya pada 1974, berangkat dari keresahan masyarakat yang tidak memiliki masjid sebagai tempat menjalankan ibadah salat jumat dan salah id, akhirnya terbesit ide menjadikan tempat tersebut sebagai masjdi.
‘’Dulu, sebelum ada masjid ini, kalau mau salat Jumat itu ke masjid desa sebelah,’’ kata Ketua Takmir Masjid Husnul Khotimah, Mukti Murji.
Setelah melalui proses pemugaran dari waktu ke waktu, masjid yang dulunya merupakan gedung kecil, itu kini tampak megah dan mewah.
‘’Jadi, awalnya warga prihatin karena tidak memiliki masjid sendiri, sehingga para sesepuh bersepakat untuk menggunakan bangunan tempat pementasan ludruk itu sebagai masjid,’’ terang dia.
Dituturkan Mukti, Masjid Husnul Khotimah telah mengalami proses pemugaran dan perluasan lahan sebanyak tiga kali.
‘’Dulu hanya sepetak 400 meter persegi, kemudian ada wakaf dari masyarakat sekitar, akhirnya bertahap kami lakukan renovasi,’’ ujarnya.
Lebih lanjut pria kelahiran 1963 itu mengatakan, masjid yang kini berukuran 1.100 meter persegi itu dibangun dengan desain khusus. Sebab itu, sedikit beda dengan masjid-masjid lain.
Kini, masjid di pusat kota kecamatan sudah berdiri megah dengan kapasitas jemaah 800 sampai 900 orang.
Tidak kalah membanggakan, Masjid Husnul Khotimah ini juga dinobatkan sebagai masjid terbersih se-Kabupaten Tuban dan manajemen terbaik se-Jawa Timur.
Akibatnya, masjid ini sering kali dijadikan sebagai jujugan study banding pengurus masjid dari luar wilayah.
‘’Selain itu, juga sering kali ada mahasiswa yang penelitian untuk melihat strategi dakwah di masjid ini,” ujar pria 58 tahun itu.
Saat pertama kali memasuki masjid dua lantai ini, jemaah akan disuguhkan serambi yang mewah dan luas. Begitupun dengan halamannya, terbilang cukup luas untuk ukuran masjid desa.
‘’Karena sebagai masjid jami’, sehingga banyak dijujugi orang luar. Karena itu, kami sediakan fasilitas yang memadai,’’ katanya.
Lebih lanjut dikatakan Mukti, hampir semua lahan masjid merupakan tanah wakaf dari warga.
‘’Jadi, sampai semegah ini tidak lepas dari kebersamaan dan gotong royong masyarakat setempat,’’ ujarnya.
Meski tidak ada bangunan lama yang terjaga sampai saat ini, namun Masjid Husnul Khotimah masih mempertahankan kegiatan keagamaan dari dulu, seperti pengajian, diba, barzanji, dan manaqiban.
‘’Kegiatan keagamaan itu masih kami lestarikan hingga kini, meski Masjid Husnul Khotimah telah menjadi masjid jami’ dengan jemaah dari berbagai wilayah,’’ tandasnya. (*/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama