Kadang, orang sering melihat suksesnya saja, tapi tidak tahu prosesnya. Begitupun yang dialami Dedik Gunawan. Sebelum terkenal seperti sekarang: menjadi selebgram dan tiktoker dengan dua juta lebih followers, pria asal Desa Jamprong, Kecamatan Kenduruan ini melalui proses yang begitu panjang dan melelahkan. Dari mulai dihujat hingga dianggap punya pesugihan. Kini, dia berhasil membuktikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk sukses di dunia digital. Sekalipun berada jauh di pelosok desa.
DARI ujung telepon itu, suara Dedik Gunawan terdengar medok dan parau. Sesekali tawanya terkekeh saat menceritakan prosesnya sebelum menjadi selebgram terkenal seperti sekarang.
Meski begitu, suara yang awalnya keras kemudian terdengar pelan saat menceritakan sulitnya konsisten menjadi tokoh publik. Segalanya dia ceritakan dengan sangat rinci.
Pria yang karib disapa Gunawan itu mengaku, awal mula menjajal karirnya di dunia entertainment melalui handphone yang dibelikan orang tuanya dari hasil panen jagung.
"Meskipun saat itu sempat menyesal karena kondisi keluarga kami masih kesulitan, tetapi saya malah beli handphone dengan uang yang seharusnya untuk membayar utang, meskipun bisa buat konten yang lebih dan dengan kualitas yang lebih baik,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Sejak saat itu, dia berjanji untuk tidak mengecewakan kedua orang tuanya. Dengan semangatnya yang menggebu, dia rutin membuat konten komedi, lalu di-posting ke TikTok. Namun, semua itu tidak mudah.
"Awal-awal tidak ada yang nonton sama sekali, saya sempat ingin menyerah saat itu,’’ ujarnya.
Pria yang kini berusia 20 tahun itu mengaku bersyukur karena tidak menyerah saat menghadapi kesulitan. Dia terus meng-upgrade dirinya.
"Kemudian saya mulai mengikuti lomba membuat konten untuk hari jadi Tuban, akhirnya di situ saya menang sebagai juara 1,’’ katanya.
Tampaknya, kemenangan lomba itu membuat Gunawan semangat kembali membuat konten dan dia posting lagi ke akun TikTok-nya. "Saat itu penontonya naik drastis,’’ ujarnya.
Semakin tinggi pohon, semakin besar angin menerpanya, mungkin itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kisah Gunawan saat tengah naik daun.
Bahkan, tidak hanya masalah minimnya penonton videonya. Setelah videonya naik drastis, Gunawan malah diterpa hujatan dari orang-orang di sekitarnya maupun di sosial medianya.
"Saya sempat mau vakum lagi untuk menjadi content creator saat itu, karena saking tidak kuatnya dengan banyak hujatan pada saya,’’ paparnya.
Setelah itu, dia mencoba peruntungannya untuk bekerja di sebuah kafe. Namun, baru berjalan beberapa bulan dia memilih berhenti, lantaran penghasilan yang dihasilkan dari sana tidak cukup untuk dia dan orang tuanya.
"Karena segala kebutuhan rumah adalah tanggung jawab saya, kakak-kakak saya sudah tidak tinggal bersama kami,’’ ujarnya.
Berkat keinginannya yang kuat demi baktinya pada ke dua orang tuanya, anak bungsu dari tiga bersaudara itu tidak menyerah, terus menjalani profesinya sebagai content creator, meski banyak hujatan pada dirinya. "Saya memutuskan untuk melanjutkan,’’ ungkapnya.
Usahanya berbuah manis. Kini, dia berhasil hidup lebih baik dari sebelumnya. Dari yang bukan siapa-siapa, saat ini sosial media yang dia miliki mampu menggaet banyak pengikut.
Di antara jumlah pengikut di sosial medianya, meliputi Instagram 152 ribu followers, Youtube 629 ribu dan TikTok 2,2 juta followers.
Berkat banyaknya pengikut di sosial media itu, Gunawan menerima banyak iklan dari sebuah produk. Dari sana lah dia mulai berpenghasilan.
Tidak hanya karena iklan yang dia dapatkan, rupanya karya yang dia ciptakan berupa konten komedi tersebut ditonton banyak orang dan menghasilkan cuan.
Terbaru, dia bisa merenovasi rumah yang dulu hanya terbuat dari kayu, kini disulap oleh pria yang memiliki akun Instagram @ms.gnwn itu menjadi istana yang megah dan bisa membelikan kendaraan untuk ke dua orang tuanya.
Dia mengaku masih kerap tidak menyangka lantaran awalnya hanya seseorang yang diremehkan, bahkan dicap tak memiliki masa depan.
Gunawan mengatakan, bahwa orang tuanya pun tidak menyangka lantaran dari sebuah konten bisa menghasilkan cuan.
"Saya berkali-kali ditanya oleh bapak, dari mana saya menghasilkan semua itu. Bahkan, dikira tetangga saya pesugihan,’’ katanya. Apalagi, tempat tinggalnya jauh di pelosok desa—di ujung barat Kabupaten Tuban—berbatasan dengan Kabupaten Blora.
Jauh dari pusat perkotaan. Namun, dia berhasil membuktikan bahwa sukses di dunia digital tidak berbatas ruang dan waktu. Dari mana saja bisa, asal konsisten dan ulet. (*/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama