Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Sri Kayatin, Pengusaha Olahan Kerupuk Ikan Asal Tuban yang Sukses Menembus Pasar Nasional yang Berawal dari Darpu Sederhana

Shafa Dina Hayuning Mentari • Sabtu, 17 Mei 2025 | 23:52 WIB
Sri Kayatin, pemilik usaha rumahan yang membawa kerupuk olahannya mendobrak pasar nasional.
Sri Kayatin, pemilik usaha rumahan yang membawa kerupuk olahannya mendobrak pasar nasional.

RADARTUBAN - Dimulai dari dapur sederhananya, kini Sri Kayatin berhasil membawa kerupuk olahannya menyeberangi pulau dan mendobrak pasar nasional.

Semua itu berkat konsistensinya dalam menjalankan usaha dan menjaga kualitas produknya.

SIANG itu, mimik wajah Sri Kayatin tampak sumringah ketika menyambut kedatangan Jawa Pos Radar Tuban di kediamannya, Desa Dawung, Kecamatan Palang pada Rabu (14/5) lalu.

Dengan intonasi suara yang ramah, Kayatin mempersilakan wartawan koran ini untuk pinarak di rumah produksi sederhananya.

Meski telah memasuki usia 52 tahun, Kayatin masih begitu semangat menjalankan bisnis olahan kerupuk ikannya yang dinamai D’KAYAteen.

Siapa sangka, usaha rumahan yang dahulu bermodalkan Rp 1,5 juta itu kini telah sukses merambah ke pasar nasional.

Kayatin mengawali bisnisnya di tahun 2015. Awalnya, hanya berniat untuk membantu ekonomi keluarga.

Dengan peralatan seadanya, dia melakukan semua prosesnya secara mandiri.

Mulai dari menggiling ikan, mengadon, mencetak, menjemur, hingga memasarkan. Untuk kemudian di titipkan ke toko-toko kelontong dekat tempat tinggalnya.

‘’Dulu, saya hanya menjual kerupuk kemasan kecil seharga Rp 800 saja,’’ kenangnya.

Wanita asal desa Dawung itu juga sesekali mendapatkan pesanan dari ibu-ibu PKK di lingkungan sekitarnya.

Pendekatan itulah yang menjadi awal mula terbentuknya pasar kecil miliknya yang menyebar dari mulut ke mulut.

Dia sadar, jika kualitas produk dan kepercayaan pelanggan adalah kunci utama dari bisnisnya.

Sehingga, dia semakin konsisten menjaga rasa, kualitas, hingga kebersihan produknya.

Tahun demi tahun dia jalani tanpa karyawan. Dia berjuang sendirian dan tak jarang merasa kelelahan.

Meski begitu, dirinya tetap bertekad mempertahankan usaha rumahannya ini.

Titik balik datang di tahun 2019. Dia mulai mengenal pelatihan kewirausahaan dari dinas dan lembaga pemberdayaan.

Dari situlah Kayatin mulai belajar berbagai, seperti manajemen, pemasaran digital, branding, hingga inovasi olahan makanan lainnya yang bisa diciptakan.

‘’Saya jadi tahu bagaimana mengembangkan usaha, bukan hanya proses produksinya saja,’’ imbuhnya.

Bersamaan dengan itu, usaha ibu tiga anak ini mulai dikenal lebih luas.

Pesanan meningkat hingga merasa kewalahan, tapi bukan karena kekurangan pembeli, melainkan karena tenaga bantu yang tidak mencukupi.

Hingga akhirnya, Kayatin mempekerjakan orang yang sampai saat ini mencapai delapan karyawan untuk membantu proses produksi hingga distribusi produknya.

Bahkan, prestasi turut datang bertubi-tubi. Langkahnya bukan hanya dihargai oleh pelanggan tetapnya, melainkan juga pemerintah.

Tahun 2020, dia menyabet juara 1 Adhikarya Pangan Nusantara kategori Pelopor Ketahanan Pangan Kabupaten Tuban.

Lalu, di tahun 2022, dia menyabet dua penghargaan sekaligus, yakni Juara 2 Kelompok Wanita Tani (KWT) Padang Terang kategori Pelaku Usaha Olahan Tanaman Pangan dan Hortikultura tingkat Provinsi Jawa Timur, serta juara 2 Lomba Produk Unggulan TP PKK Kabupaten Tuban.

Bahkan, dirinya kerap kali diundang sebagai pembicara di sekolah, instansi, bahkan perusahaan besar.

‘’Saya tidak pernah bermimpi sampai mendapatkan penghargaan dan menjadi pembicara dalam beberapa materi kewirausahaan. Niat saya dulu murni hanya untuk membantu finansial keluarga,” ucapnya menahan haru.

Kini, produknya tak hanya terjual di Kabupaten Tuban. Melalui jaringan reseller dan penjualan online melalui platform TikTok Live, kerupuk dan rengginang olahan Kayatin telah menjangkau konsumen hingga Jawa Barat, Lampung, bahkan hingga ke Pulau Dewata.

Bahkan, satu bulannya Kayatin mampu membukukan omzet hingga Rp 20 juta.

Produknya bukan hanya kerupuk dan rengginang ikan saja, tetapi ada pula kerupuk rajungan, cumi, udang, bahkan inovasi olahan kerupuk dan rengginang dari daun kelor.

‘’Karena Tuban memang terkenal dengan makanan lautnya, jadi saya memang memperbanyak jenis olahan seafood. Kalau kelor juga ingin membuat sesuatu yang tidak ada nilai jualnya menjadi ada,” jelasnya.

Namun, bukan berarti jalan kini tanpa hambatan.

Nenek dua cucu ini masih dihadapkan dengan kendala produksi, terutama ketika musim hujan yang menghambat proses penjemuran kerupuk.

Belum lagi masalah pasokan bahan baku yang terkadang susah di cari saat tidak musimnya.

Meski begitu, dirinya tetap konsisten menjalani dan membuat inovasi dalam bisnis makanannya ini. Pun ketika ditanya apa rahasianya, Kayatin menyebut jika niat dan konsisten dalam menjalani semua proses.

‘’Bersyukur juga menjadi kunci terpenting. Jangan berhenti belajar dan jangan takut gagal,” tandasnya. (*/tok)

 

 

 

 

Editor : Yudha Satria Aditama
#Pasar Nasional #kabupaten tuban #produk unggulan #pkk #UMKM #Kecamatan Palang #dapur #kerupuk #omzet