Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Mengenal Lebih Dekat Paguyuban Warga Ponorogo atau Pawargo Tuban: Ajang Silaturahmi dan Membawa Misi Melestarikan Budaya Reog

Shafa Dina Hayuning Mentari • Rabu, 28 Mei 2025 | 00:09 WIB
Penampilan ciamik para seniman Reog di Tuban dalam acara HUT ke-21 Pawargo Tuban. Kegiatan ini mendapat sambutan meriah dan antusias dari mas
Penampilan ciamik para seniman Reog di Tuban dalam acara HUT ke-21 Pawargo Tuban. Kegiatan ini mendapat sambutan meriah dan antusias dari mas

RADARTUBAN - Di tengah arus modernisasi, paguyuban warga Ponorogo (Pawargo) Tuban tidak sekadar menjadi wadah berkumpul, tapi juga sebagai garda terdepan dalam melestarikan budaya asli Indonesia: Reog Ponorogo.

Dengan semangat kebersamaan dan rasa cinta warisan leluhur, mereka menghidupkannya melalui berbagai aktivitas yang nyata, mulai dari pentas hingga edukasi budaya sebagai upaya mempertahankan identitas bangsa.

Pagi itu, suara riuh penonton dan gamelan pengiring pertunjukkan Reog Ponorogo menggema di lapangan basket GOR Rangga Jaya Anoraga Tuban sebagai panggung pertunjukkan, Minggu (18/5).

Dentingan alat musik tradisional mengiringi setiap gerakan penari dan atraksi reog yang dengan gagah mempersembahkan penampilan penuh energi dan makna.

Pawargo mengawali kesenian Reog Ponorogo di Tuban sejak 2008 dengan hasil urunan dari para anggotanya.

Semula, reog Pawargo Tuban bernama Ronggo Katong yang menggabungkan kedua nama dari tokoh masyhur Tuban dan Ponorogo, yakni Ronggolawe dari Tuban dan Bathoro Katong dari Ponorogo.

Namun, seiring berjalannya waktu, nama tersebut diubah menjadi Putro Manggolo.

Dalam gelaran HUT ke-21 Pawargo Tuban mengajak masyarakat untuk kembali mengingat warisan budaya indonesia berupa Reog Ponorogo yang telah ada selama ratusan tahun, dan telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya.

"Pertunjukkan ini selain sebagai wadah untuk tombo kangen bagi kami—para warga Ponorogo di Tuban, tetapi juga sebagai ajang untuk nguri-uri budaya agar generasi muda tidak melupakan identitas bangsa,” terang pembina Pawargo Tuban Imam Muhadi pada wartawan koran ini.

Ajang pementasan Reog Ponorogo ini juga sebagai upaya untuk mempertahankan kemurnian kesenian khas Ponorogo sesuai pakem berdasarkan cerita populer yang telah diakui oleh masyarakat dan pemerintah daerah di Ponorogo.

Selain itu, pertunjukkan reog ini juga bertujuan untuk menunjukkan ke masyarakat bahwa seperti inilah kesenian Reog Ponorogo yang seni dan jalan ceritanya dapat dipelajari sebagaimana kesenian tradisional lainnya.

"Pertunjukkan ini juga bermaksud untuk meluruskan jika pementasan reog ini jauh dari kesan mistis. Bahkan atraksi makan beling tidak ada di pakem penampilan Reog Ponorogo,” tegas Imam.

Selain pertunjukan dari reog Putro Manggolo, Pawargo juga mengajak seniman reog di Tuban untuk turut serta dalam penampilan ini.

Mulai dari Brandal Lokajaya Tuban, Singo Budoyo Widang, Singo Lawe Rengel, Singo Mudho Beron Rengel, Galuh Suryo Bagaskara Jatirogo, Singo Yehuda Jatirogo, hingga SDI Adzkri Merakurak.

Setiap yang tampil tidak hanya memukau, tetapi juga menyampaikan pesan jika Reog Ponorogo merupakan bagian penting dari identitas bangsa.

Di balik pertunjukan kesenian yang menghibur, edukatif, dan sarat akan makna tersebut, pembina Pawargo yang telah menetap di Tuban selama puluhan tahun itu menyebut, jika latihan yang dilakukan oleh para seniman muda ini tidak bisa dianggap remeh.

Latihan fisik ekstra keras dan menguras energi harus dilalui oleh para muda-mudi yang tergabung dalam grup-grup reog tersebut.

Pasalnya, reog hanya dicengkram menggunakan rahang dan gigi saja begitu pula dengan pementas lainnya yang harus tampil enerjik.

"Latihan pastinya dilakukan oleh masing-masing grup reog dan murni latihan fisik, tidak ada ritual magis atau sejenisnya,” lanjut pembina berusia 71 tahun itu.

Dedikasi tinggi yang ditunjukkan oleh para seniman dalam mempertahankan reog menjadi bukti jika kesenian ini bukan hanya sekadar pertunjukan, melainkan budaya yang harus terus diperjuangkan dan dirawat.

Semangat para seniman reog ini tidak hanya terlihat dari atraksi di atas panggung saja, tetapi juga dari perjuangan di balik layar dalam memahami secara filosofis di setiap gerakannya.

Bagi Pawargo Tuban, menjaga kesenian reog bukan hanya tentang usaha mempertahankan pakem dalam pertunjukkan, tetapi juga tentang menanamkan kebanggaan terhadap budaya lokal pada generasi muda sebagai penerus.

Keikutsertaan berbagai kelompok reog dari Tuban dalam HUT ke-21 Pawargo Tuban ini turut menjadi wujud nyata dari kebersamaan dalam melestarikan kesenian tradisional.

Dengan kesungguhan, Pawargo Tuban menunjukkan jika melestarikan budaya bukan hanya sebagai ajang nostalgia, melainkan juga sebuah tindakan yang tetap menghubungkan masa lalu dengan masa yang akan datang.

Acara ini menjadi bukti jika tradisi akan tetap bertahan selama ada seniman-seniman yang ikut berjuang menjaga warisan budaya yang ada.

"Kami ingin memastikan bahwa Reog Ponorogo tetap hidup bukan hanya sebagai tontonan dan pertunjukkan, tetapi sebagai sebuah warisan budaya yang perlu dijaga dan diteruskan eksistensinya,” tandas Imam. (*/tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #pentas #edukasi #reog ponorogo #pawargo #leluhur #budaya