RADARTUBAN - Tuban memang nggak pernah kehabisan kejutan.
Setelah sebelumnya dikenal sebagai tanah kelahiran ulama, seniman, sampai jagoan-jagoan dunia pendidikan, kini satu nama dari dunia kepenulisan populer layak banget disorot: Moammar Emka.
Iya, Moammar Emka yang nulis buku Jakarta Undercover itu. Penulis yang sempat bikin heboh dunia literasi Indonesia gara-gara bukunya membongkar sisi gelap Jakarta—dari dunia malam, klub-klub tersembunyi, hingga praktik-praktik liar yang nggak semua orang tahu.
Dan ya, semua itu ia tulis dengan gaya investigatif yang khas dan berani.
Lahir di Tuban, Heboh di Jakarta
Moammar Emka lahir di Tuban, 13 Februari 1974. Meski namanya besar di ibu kota, akarnya tetap dari tanah pesisir utara Jawa Timur.
Dia telah menulis banyak buku, tapi Jakarta Undercover adalah karya yang paling bikin namanya melambung.
Bahkan bisa dibilang, ini adalah karya monumental yang bukan cuma laris, tapi juga mengubah cara orang memandang dunia malam Jakarta.
Bayangin aja, Jakarta Undercover dicetak ulang lebih dari 55 kali dari tahun 2003 sampai 2010. Udah gitu, bukunya juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Belanda.
Dari Buku ke Layar Lebar
Saking fenomenalnya, Jakarta Undercover sampai diadaptasi ke film layar lebar dua kali.
Yang pertama tahun 2007 dengan judul yang sama, dan yang kedua tahun 2017 dengan judul Moammar Emka's Jakarta Undercover.
Judulnya udah kayak waralaba Marvel ya, cuma ini versi dunia malamnya Jakarta.
Meski banyak yang nyinyir dan menilai karya ini terlalu vulgar, tapi kita nggak bisa nutup mata: Emka berhasil membuka realitas lain dari Jakarta yang selama ini cuma kita kenal lewat sinetron keluarga atau berita politik.
DIa hadir sebagai mata dan suara dari lorong-lorong gelap yang jarang disorot.
Anak Tuban, Tapi Punya Taring Nasional
Yang bikin kita harus bangga, Moammar Emka adalah bukti bahwa orang Tuban juga bisa jadi penulis nasional dengan pengaruh besar. Karyanya bisa dibilang bukan cuma kontroversial, tapi juga menyentil banyak lapisan sosial.
Dia menulis apa yang dilihat, mendokumentasikan apa yang sering disembunyikan, dan membawa perspektif berbeda soal urbanitas.
Jadi, buat warga Tuban, jangan kaget kalau suatu hari nama Moammar Emka jadi bahan kajian di kelas sosiologi atau sastra urban. Dan buat kamu yang suka nulis, kisah Moammar Emka adalah pengingat bahwa asal-muasal itu nggak pernah jadi batas.
Dari Tuban ke Jakarta, dari lorong ke layar lebar—semua bisa kalau punya cerita dan keberanian. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama