RADARTUBAN - Tinggal di desa dan dari latar belakang keluarga yang biasa-biasa saja, Maretesia Soviola Sunyandri Amelya Mustika tidak pernah membayangkan bisa tampil di panggung megah Mister and Miss Grandstar Jawa Timur 2025.
Bahkan dinobatkan sebagai pemenang.
Berkat keberhasilannya memenangi ajang modeling tingkat provinsi, kini dia semakin percaya diri bahwa anak orang desa juga bisa bersaing dengan anak-anak dari kalangan kota.
Suara lemah lembut dengan intonasinya yang begitu ramah, Amel menyapa wartawan Jawa Pos Radar Tuban ketika dihubungi melalui sambungan telepon pada Sabtu (28/6) lalu.
Dengan penuh percaya diri dan perasaan bangga, dia menceritakan dengan runtut perjalanannya menyandang predikat Miss Grandstar Jawa Timur 2025.
Kecintaan Amel terhadap dunia modeling bermula ketika dirinya duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar (SD).
Meski hanya sekadar coba-coba dan tanpa niat memasuki dunia modeling, tetapi langkah itu justru menuntunnya pada jalan yang dia tapaki hingga menjadi seorang model profesional seperti saat ini.
‘’Awalnya sama sekali tidak berniat menjadi seorang model. Tapi setelah di coba, malah rezekinya ada di modeling,” ujarnya sambil mengenang awal perjalanannya.
Dari satu event ke event lain, gadis 18 tahun ini kemudian membuka jasa freelance model melalui Instagram dan Whatsapp, sejak itulah dirinya sedikit demi sedikit mengembangkan sayapnya dan kian percaya diri menjalani kegiatannya sebagai seorang model.
Namun, perjalanan remaja asal Kecamatan Singgahan ini tidaklah mudah dalam mendapatkan selempang Miss Grandstar Jawa Timur.
Proses yang melelahkan telah dirasakannya sejak awal keberangkatan ke lokasi karantina di Malang, Jawa Timur.
Jika peserta lain berangkat bersama dengan keluarga maupun teman terdekat, Amel justru berangkat tanpa didampingi oleh orang tuanya.
‘’Saya berangkat dari Tuban ke Malang tanggal 12 Mei, sehari sebelum karantina dimulai. Sengaja berangkat lebih awal karena jarak Tuban-Malang cukup jauh,’’ kenangnya.
Bahkan, sebelum berangkat ke Malang dirinya harus mempersiapkan banyak hal, seperti empat buah gaun, setelan putih, heels, dan masih banyak lagi.
Hari-hari masa karantina menjadi ujian tersendiri. Bukan hanya ujian fisik, tetapi juga mental. Awalnya, Amel berpikir kegiatan tersebut akan berjalan sedikit lebih ringan, tapi nyatanya masa karantina jadi tempaan yang cukup menguras mentalnya.
Dari pagi hingga petang, semua kegiatannya dinilai, mulai dari kedisiplinan, table manner, ketepatan waktu, hingga padanan warna kostum dari ujung rambut sampai kaki pun tak ketinggalan dari proses penilaian dan pantauan juri.
‘’Banyak nangisnya. Saya pikir apa mungkin anak desa seperti saya bisa bersaing dengan kalangan anak orang berada dan semuanya dari kota?’’ katanya.
Bahkan, hingga grand final tiba rasa rendah diri masih terus membebaninya. Terlebih, ketika peserta lain datang membawa banyak pendukung yang berjejer memenuhi kursi, Amel hanya memiliki tiga supporter yang menurutnya begitu hebat; ayah, ibu, dan adik laki-lakinya.
‘’Waktu itu keluarga saya sempat terlambat dan melewatkan opening dance, hal itu semakin membuat mental saya down dan semakin bercucuran air mata. Sedangkan supporter peserta lainnya sudah dengan heboh meneriaki masing-masing idolanya,” ujar pelajar SMAN 1 Singgahan ini.
Meski bercucuran air mata, Amel tetap berusaha tetap tampil percaya diri. Puncaknya, suara MC menggemakan namanya sebagai pemenang ajang Mister and Miss Grandstar Jawa Timur 2025.
‘’Alhamdulillah,” ujarnya lirih diatas panggung sembari meraih selempang kebanggaannya.
Dari modeling Amel banyak belajar. Bukan hanya sekadar bergaya di depan kamera, tetapi juga tentang kedisiplinan, keberanian, dan kesabaran.
Kini, namanya berhasil dikenal banyak desainer, fotografer, make up artist, hingga rekan sesama model se-Jawa Timur.
‘’Saya ingin membuktikan, bahwa anak desa pun bisa berdiri di atas panggung megah dan bersaing dengan anak kota,” pungkasnya dengan perasaan lega. (*/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama