Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Dari Desa ke Pasar Modern: Perjalanan Ampo Mbah Rasimah Jadi Warisan Budaya Tuban

Shafa Dina Hayuning Mentari • Minggu, 14 September 2025 | 00:45 WIB
Konsistensi Mbah Rasimah menjaga tradisi ampo menjadikannya identitas kuliner Tuban
Konsistensi Mbah Rasimah menjaga tradisi ampo menjadikannya identitas kuliner Tuban

RADARTUBAN- Jika dulu hanya bisa dijumpai di sudut-sudut desa dan pasar tradisional, kini ampo telah bertransformasi menjadi porduk budaya yang menembus batas daerah.

Berkat konsistensi Mbah Rasimah, ampo tidak hanya dilihat sebagai peninggalan leluhur, melainkan sebagai identitas kuliner yang mampu beriringan dengan zaman.

Aroma tanah basah menyeruak saat langkah kaki wartawan koran ini mendekati rumah produksi ampo sederhana milik Mbah Rasimah di Dusun Ngasinan, Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding.

Tampak sosok perempuan sepuh duduk di sudut rumah sederhana tersebut.

Siang itu, dengan tangan terampilnya, Mbah Rasimah menyerut balokan tanah liat, lalu membentuknya menjadi gulungan ampo, cemilan tradisional khas Tuban yang sudah mendapat sertifikat warisan budaya tak benda (WBTb).

Mbah Rasimah mengabdikan hidup untuk menjaga warisan budaya ini sejak masih remaja.

Di usia senjanya sekarang, nenek lima anak-lima cucu itu masih produktif menghasilkan ampo berkualitas.

Dan semua itu dilakukannya sendiri. Mulai memilih tanah terbaik, membersihkannya secara manual, hingga membentuk menjadi ampo, lalu mengeringkannya di bawah terik matahari.

"Tanahnya khusus, bukan tanah liat yang berwarna coklat. Ini tanah liat hitam. Diambil dari tanah sawah yang bagian dalam,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Tuban, Selasa (9/9).

Kini, selain menjadi rumah produksi ampo, kediaman Mbah Rasimah juga dijadikan tempat belajar dan wisata budaya.

Hampir setiap minggu ada rombongan pelajar dari dalam dan luar kota yang berkunjung untuk melihat langsung proses pembuatan ampo.

Bahkan, ada juga dari luar negeri. Salah satunnya dari Australia, yang penasaran dengan cemilan berbahan tanah liat tersebut.

Seiring berkembangnya zaman, ampo produksi mbah Rasimah pun ikut bertransformasi.

Jika dulu hanya dijual di pasar tradisional dan langsung di rumah produksi, kini gulungan tanah liat khas Bumi Ronggolawe ini sudah menembus pasar modern.

Melalui bantuan anak, cucu, serta kerabatnya, ampo mulai dipasarkan secara daring.

Media sosial dan market place menjadi jembatan bagi masyarakat luar daerah untuk bisa membeli dan mencicipi camilan tradisional ini tanpa harus datang langsung ke Tuban.

"Turis mancanegara pun turut singgah kemari beberapa waktu lalu, mencoba menyerut dan mencicipi ampo. Tampaknya setelah diakui sebagai warisan budaya tak benda, jadi semakin banyak yang datang kemari,” lanjutnya menceritakan.

Tak tanggung-tanggung, kini produknya tidak hanya terjual di Kabupaten Tuban.

Melalui aplikasi belanja online, ampo mbah Rasimah telah dikirim ke berbagai wilayah antarkota hingga antar pulau seperti Kalimantan, Bali, hingga Sumatera.

"Biasanya, mengirim ke pasar sampai 40 kilogram setiap minggu, jika ditambah dengan pengiriman secara online bisa lebih. (Pemasaran, Red) sekarang lebih mudah, tinggal pesan melalui online nanti kami kirimkan,” tutur nenek dengan kulit mulai keriput itu.

Produksi ampo pun kian meningkat seiring semakin banyaknya masyarakat yang penasaran rasa camilan tersebut.

Jika dulu hanya mampu membuat dalam jumlah terbatas untuk kebutuhan lokal, kini Mbah Rasimah dibantu dengan anak-anaknya bisa menghasilkan gulungan ampo lebih banyak lagi.

Dibanderol dengan harga Rp 10 ribu per kg ke tengkulak dan mulai dari Rp 11 ribu melalui platform belanja online, ampo kini telah bisa menjangkau pasar yang lebih luas lagi.

Harganya yang relatif terjangkau membuat banyak orang semakin penasaran untuk mencoba.

"Sekarang banyak juga kota-kota yang memproduksi ampo, tapi memang yang lebih dikenal itu ampo Tuban. Alhamdulillah kami bisa bersaing dengan daerah-daerah lain,” ungkap generasi ke lima pengrajin ampo itu. (*/tok)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Tuban #kuliner #marketpalce #warisan budaya #cemilan tradisional #ampo #Semanding #wbtb