Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Dawam, Santri 15 Tahun Asal Tuban Lolos Jadi Mahasiswa Termuda Al-Azhar Mesir, Sempat Terkendala karena Tak Punya KTP

M. Mahfudz Muntaha • Jumat, 19 September 2025 | 20:30 WIB

 

Dawam (tiga dari kiri) bersama dengan enam siswa lainnya setelah ujian dan seremoni penyetaraan ijazah sebelum berangkat ke Kairo, Mesir.
Dawam (tiga dari kiri) bersama dengan enam siswa lainnya setelah ujian dan seremoni penyetaraan ijazah sebelum berangkat ke Kairo, Mesir.

RADARTUBAN - Berkat kemampuannya di bidang akademik yang luar biasa dan di atas rata-rata siswa pada umumnya, Muhammad Dawam Multazam Rahmatullah berhasil lolos menjadi mahasiswa termuda Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir di usia 15 tahun.

Saat ini, santri Pondok Pesantren Mumtaza Banjarnegara baru duduk di bangku kelas 9 SMP.

Siang menjelang sore itu, Jumat (12/9), intonasi suara Dawam—sapaan akrab Muhammad Dawam Multazam—terdengar ramah saat menyapa wartawan koran ini melalui sambungan telepon.

Dengan penuh semangat, remaja 15 tahun itu bercerita terkait pengalamannya diterima sebagai mahasiswa Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Sejak awal menjadi santri di Pondok Pesantren Mumtaza Banjarnegara, Jawa Tengah, Dawam memang bercita-cita melanjutkan pendidikan tinggi ke luar negeri. Namun, tidak menyangka jika cita-citanya akan terwujud secepat ini.

‘’Awalnya kaget ketika ustad saya menyarankan untuk ikut seleksi menjadi mahasiswa di Al-Azhar karena saya masih SMP. Ada 7 anak lain yang juga ditawari ke Al-Azhar, tapi mereka semua senior saya,” ujarnya terdengar begitu bangga.

Pasalnya, untuk lolos menjadi mahasiswa di salah satu universitas bergengsi di Mesir itu,

Dawam harus melewati serangkaian seleksi yang terbilang ketat.

Mulai dari tes bahasa Arab atau tahdid mustawa, hingga harus mengikuti ujian penyetaraan ijazah atau hadatsah muadalah.

‘’Saya tahdid mustawa dapat nilai mutaqodim awal atau di tingkatan ke 5 dari 6 tingkatan nilai. Kalau yang 6 itu benar-benar sudah profesional,” katanya.

Bukan hanya itu, pemuda asal Desa Tanggir, Kecamatan Singgahan itu harus mengikuti karantina dan belajar intensif lewat zoom dengan syekh dari Al-Azhar selama 30 hari penuh. Waktu belajarnya pun padat.

Sejak pagi hingga sore Dawam mempelajari kitab dan bahasa Arab di pesantren.

Malam hari dilanjutkan hafalan Alquran hingga pukul 10 malam. Lalu, dini hari pukul 03.00, dia kembali melanjutkan hafalan.

‘’Di Al-Azhar, syarat utamanya bukan umur, tapi kemampuan siswanya,” kata anak ketiga dari lima bersaudara itu.

Persaingan juga bukan main-main. Dia bersaing dengan 350 peserta dari seleksi Afwaja Center, konsultan pendidikan siswa Indonesia ke Timur Tengah.

‘’Kalau seluruh Indonesia bisa ribuan saingannya. Alhamdulillah dari pesantren saya, semuanya lolos ke Mesir,” ucapnya.

Meski begitu, Dawam mengaku sama sekali tidak merasa terbebani ataupun ada rasa minder.

Sebab, semua berawal dari keinginannya sendiri dan merasa mampu bersaing meski dengan seniornya.

“Hanya deg-degan saat ujian. Takut tidak maksimal. Tapi alhamdulillah lancar,” ujarnya lega.

Karena masih belum cukup umur, Dawam turut mengurus kartu identitas anak (KIA) sebagai syarat untuk bisa mendapatkan visa dan paspor sebelum bertolak ke Mesir 24 September 2025 nanti.

‘’Tekad, doa, dan dukungan keluarga menjadi bekal saya. Insyaallah saya siap menapaki perjalanan baru di negeri para ulama,” katanya optimistis.

Lina Nuryati, ibunda Dawam tidak bisa menyembunyikan rasa bangga sekaligus khawatir di saat yang bersamaan.

Sebab, dia harus melepaskan anaknya untuk menempuh pendidikan di luar negeri saat masih remaja.

‘’Saat pihak pesantren memberikan informasi jika Dawam bisa melanjutkan pendidikan ke Mesir, kami sebenarnya khawatir, karena dia kan masih belum memiliki KTP dan masih di bawah umur. Tapi setelah diberi pengertian dengan pihak pesantren, insyaallah kami ikhlas,” katanya.

Namun, dibalik kebahagiaan dan kebanggan itu masih terdapat rasa khawatir yang membayangi ibu dari lima anak itu.

Pasalnya, biaya untuk keperluan, uang saku, dan biaya hidup untuk Dawam selama setahun di negeri orang belum sepenuhnya siap.

‘’Sejujurnya kami masih mencari biaya untuk Dawam berangkat ke Mesir. Tapi untuk anak, apa pun kami akan usahakan meski kami hanya petani,” tandas Lina. (*/tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #lolos #dawam rahardjo #mesir #santri #kairo #universitas