RADARTUBAN - Meski sempat kecewa tak meraih gelar utama, Devina Suyanti memilih memaknai hasil itu sebagai pembelajaran berharga untuk terus berkembang.
Dengan semangat yang tak padam, dia kini mengemban tanggung jawab baru sebagai finalis Duta Siswa 2025.
Tekadnya pun bulat; membagikan pengetahuan dan motivasi bagi pelajar di Bumi Ronggolawe.
Devina, panggilannya melangkah ringan Ketika menemui Jawa Pos Radar Tuban di gerbang SMKN 2 Tuban. Senyumnya terus mengembang.
Tak sedikit pun jejak kekecewaan di wajahnya, meski baru saja melewati momen yang sempat membuat dadanya sesak; gagal menyabet gelar utama Duta Siswa 2025.
‘’Sejujurnya saya merasa kecewa karena tidak bisa menyandang gelar utama,’’ tuturnya didampingi Waka Kesiswaan SMKN 2 Tuban, Muhammad Arifin mengawali obrolan Jawa Pos Radar Tuban di kantin sekolah.
Devina mengungkapkan, dirinya sudah bekerja keras dan menyelesaikan setiap tugas yang diberikan dengan baik.
‘’Dari sini, saya bisa memetik pelajaran dan pengalaman untuk bisa berkembang di kemudian hari,” ujarnya.
Devina menembus grand final ajang Duta Siswa 2025 setelah bersaing dengan puluhan pelajar dari seluruh kabupaten.
Kemampuan siswi kelas XI jurusan bisnis digital itu tidak bisa dipandang sebelah mata.
Bersaing dengan puluhan siswa terbaik dari semua sekolah di Kabupaten Tuban. Berhasil menduduki finalis membuktikan jika kepintaran dan bakatnya patut diacungi jempol.
Tentu tidak mudah bagi dara asal Desa Sumurgung, Kecamatan Tuban itu mencapai level tersebut. Rangkaian seleksi menuju semifinal mulai tes akademik dan nonakademik membuatnya harus mempersiapkan diri dengan jam belajar ekstra.
Dari yang sebelumnya hanya belajar di hari aktif, menjelang seleksi Devina harus menggunakan hari liburnya. Bahkan, hingga malam hari untuk mengulas berbagai materi pelajaran.
‘’Jadi saya harus benar-benar mempersiapkan materi pelajaran matematika, bahasa inggris, hingga bahasia Indonesia sejak semester pertama di kelas X. Alhamdulillah setelah di semifinal ternyata bisa lolos menuju grand final dengan enam siswanya,” kenangnya.
Remaja 16 tahun itu mengakui, jika tahap seleksi tidak terlalu ketat.
Sebab, ajang ini diadakan Yayasan Lingkar Inspirasi Bangsa yang memiliki tahapan yang berbeda dengan ajang-ajang serupa yang diselenggarakan pemerintah kabupaten maupun kementerian.
Meski diselenggarakan melalui online, tahapan karantina tetap harus dilalui. Kurang lebih selama tiga hari karantina yang dilaksanakan setiap Minggu, Devina harus menyelesaikan berbagai penugasan.
‘’Tugasnya cukup menantang, tapi karena diselenggarakan secara daring jadi hanya berupa pembuatan video kreatif, video bakat minat, dan penugasan lainnya yang memang berbasis edukasi digital,’’ kata dia.
Selama membuat tugas, Devina tetap harus mengolah ide untuk membuat materi yang menarik. ‘’Itu yang menurut saya menantang selama masa karantina,” imbuhnya.
Meski disibukkan dengan tugas sekolah dan berbagai kegiatan organisasi, Devina merasa harus tetap menyelesaikan tahapan ajang duta siswa yang dilalui.
Sebab, dia merasa harus menyelesaikan tanggung jawabnya setelah mendaftarkan diri pada ajang tersebut.
‘’Karena saya sudah sampai di tahap akhir, jadi harus semangat. Motivasi saya juga agar bisa berada di jajaran 400 siswa se- Indonesia yang menjadi pemenang maupun grand finalis duta siswa 2025,” tegasnya penuh semangat.
Ketika pengumuman tahap akhir, Devina tetap berlapang dada, meski tidak dinyatakan sebagai pemenang.
Dia juga tidak berkecil hati. Devina menganggap raihan sebagai finalis bukan sebagai kekalahan, melainkan sebagai pijakan dan persiapan menuju ajang bergengsi lain yang akan diikutinya.
‘’Minggu awal Oktober dilaksanakan pelantikan Duta Siswa di Surabaya, penyandang gelar utama maupun grand finalis juga hadir di sana,” tuturnya.
Meski hanya berhasil menjadi grand finalis Duta Siswa 2025, remaja berzodiak Aquarius itu mengaku tidak lepas tanggung jawab.
Sebab, kini dirinya harus mengemban tanggung jawab untuk terus mengedukasi anak-anak seusianya selalui berbagai materi dan program kerja yang kreatif dan membangun.
‘’Justru lebih berat mengemban gelar ini daripada saat melalui berbagai tahapan seleksi dan karantina. Karena setelah ini tetap harus ada progres yang dihasilkan untuk memberikan pengetahuan pada anak-anak di Tuban dari program kerja saya,” ujarnya.
Waka Kesiswaan SMKN 2 Tuban M. Arifin mengaku bangga dengan prestasi Devina. Dia mengatakan, Devina berbakat menjadi seorang edukator dengan kemampuannya di depan khalayak.
‘’Bakat Devina sudah terlihat sejak di kelas X. Saya harap pada berbagai ajang selanjutnya, Devina bisa berpartisipasi dan memberikan contoh sebagai siswa teladan dan juga berprestasi,” kata Arifin. (*/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama