RADARTUBAN – Berangkat dari sebuah desa kecil di Klaten, The Jeblogs membuktikan bahwa skena musik independen tidak selalu lahir dari kota besar atau studio modern.
Band punk alternatif yang beranggotakan Amir (vokal), Ryan (bass), Valentino (gitar), Febrianto (gitar), dan Dani (drum) ini memulai perjalanan mereka dari Gedung PKK desa, bermodalkan mikrofon yasinan, dan kini telah mengguncang panggung ibukota.
Dalam kanal YouTube Mojokdotco berjudul “THE JEBLOGS: PUNK KARANG TARUNA DARI KLATEN MENEMBUS SKENA IBUKOTA | SEBAT DULU,” mereka membagikan kisah penuh inspirasi tentang dedikasi, kreativitas, dan kejujuran bermusik.
Baca Juga: Kisah Juicy Luicy, Band yang Hampir Bubar tapi Justru Jadi Legenda Pop Indonesia
Kerja Dulu, Ngeband Kemudian
Tidak seperti kebanyakan band yang mengejar popularitas, The Jeblogs justru mendahulukan pekerjaan utama. Musik bagi mereka adalah ruang bermain, bukan beban.
“Kita kerja biar ngeband tidak terasa kerja. Jadi kita kerja itu nyari duitnya di situ. Ngeband ya dolan, bonus,” ujar Amir.
Bagi mereka, profesional dalam kehidupan bukan berarti meninggalkan mimpi. Justru dengan bekerja, mereka bisa membiayai mimpi tanpa tekanan finansial.
“Kalau aku sih kerja aja yang prioritas,” tambah Amir.
Baca Juga: Sakit Hati Nama Band Diklaim Sepihak, Mantan Vokalis Kotak Ajukan Kasasi ke Mahkamah Agung
Semangat DIY dan Mikrofon Yasinan
Semangat Do It Yourself (DIY) menjadi identitas kuat The Jeblogs. Sebelum tampil di luar kota, mereka menegaskan prinsip utama: harus punya karya sendiri.
Demi mewujudkan itu, mereka merekam EP pertama berisi empat lagu di Gedung PKK desa. Yang menarik, mereka menggunakan mikrofon yasinan, biasanya dipakai dalam acara tahlilan, untuk merekam suara drum.
“Itu produksinya di gedung PKK itu,” ungkap mereka sambil tertawa mengenang masa penuh eksperimen tersebut.
Proses trial and error itu menjadi fondasi karakter musik mereka — jujur, mentah, dan penuh energi.
God Save The Gigs: Dari Balai Desa ke Nasional
Alih-alih menunggu kesempatan, The Jeblogs menciptakan ruang sendiri lewat acara God Save The Gigs pada 2017.
Gigs pertama mereka digelar di sebuah kafe kecil di Klaten untuk merilis single perdana, meski hanya ditonton 20–30 orang. Namun, momen itu menjadi sejarah.
“Main di panggung besar di Jakarta itu ternyata tidak senervous kalau kita main di bal desa sendiri. Karena yang nonton tetangga, teman sendiri,” ujar Amir.
Dari situlah The Jeblogs mulai dikenal secara nasional — membawa semangat kemerdekaan bermusik dari desa ke kota.
Baca Juga: Band Sukatani Akui Dapat Intimidasi Imbas Lagu Bayar Bayar Bayar
Kritik Sosial: Copet Skena dan Keamanan Konser
Tidak hanya bicara soal musik, The Jeblogs juga menyuarakan keresahan terhadap keamanan di konser yang semakin rawan.
Mereka menyinggung fenomena “Copet Skena” yang kini memakai trik ekstrem seperti spray merica untuk melancarkan aksi.
“Dimohon untuk copet kalau datang wa dulu, paling tidak memberitahu 24 jam sebelumnya, akan kami tempatkan ke tempat yang paling aman,” ujar mereka sarkastik.
Dari Desa, Untuk Indonesia
Bagi The Jeblogs, band bukan hanya alat hiburan, melainkan ruang belajar, ruang berkarya, hingga ruang penyembuhan.
“Mending menyesal mencoba daripada menyesal tidak mencoba,” pesan mereka kepada generasi muda.
The Jeblogs menjadi simbol perlawanan terhadap keterbatasan — wujud nyata bahwa mimpi besar bisa lahir dari ruang kecil, dari gedung PKK, dari mikrofon yasinan, dan dari keberanian untuk memulai.
Dari Klaten untuk Indonesia, mereka membuktikan bahwa skena musik bukan hanya milik kota besar, tetapi milik siapa saja yang mau bergerak. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni