Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Anggun Winata, Guru SMAN 1 Tuban Peraih Juara Anugerah Guru Prima 2025 Jatim Jenjang SMA/SMK: Menyalakan Semangat, Bukan Sekadar Mengajar

Shafa Dina Hayuning Mentari • Sabtu, 25 Oktober 2025 | 16:30 WIB
Anggun Winata membuktikan bahwa semangat dan cinta mengajar bisa melahirkan inovasi hebat. Ia meraih juara AGP 2025 Jatim lewat metode “Jualan”.
Anggun Winata membuktikan bahwa semangat dan cinta mengajar bisa melahirkan inovasi hebat. Ia meraih juara AGP 2025 Jatim lewat metode “Jualan”.

RADARTUBAN - Bagi Anggun Winata, menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hati.

Dia yakin bahwa tugas guru adalah menyalakan api semangat pada setiap anak didiknya. Bukan hanya sekadar menjejalkan rumus dan teori.

Dari situlah ide pembelajaran berjudul Jualan lahir dan meraih juara  Anugerah Guru Prima (AGP) 2025 Provinsi Jawa Timur untuk jenjang SMA/SMK.

Langkahnya ringan, tapi pasti. Senyumnya tak lepas sedetik pun. Sorot matanya memantulkan rasa bahagia. Begitu Anggun Winata menyambut Jawa Pos Radar Tuban di lobi SMAN 1 Tuban, Rabu (22/10) siang itu.

Guru kimia itu baru saja menorehkan tinta emas: Juara AGP 2025 Provinsi Jawa Timur untuk jenjang SMA/SMK.

“Sama sekali saya tidak berharap bisa mendapatkan juara. Saya memasrahkan hasil akhirnya kepada Allah,” katanya lembut.

Inovasinya sederhana, tapi menggelitik. Namanya Jualan. Singkatan dari Jelaskan Urutan Struktur Atom Secara Lancar.

Metode itu memecah kelas jadi kelompok kecil. Tiap siswa jadi bagian penting: ada penjual, rohana (rombongan hanya bertanya), dan rojali (rombongan jarang lupa materi).

Kelas pun hidup. Diskusi jalan. Tawa pecah. Ilmu mengalir tanpa paksaan.

“Konsep ini membuat pembelajaran terasa lebih hidup. Tidak monoton seperti penyampaian materi biasa. Bahkan, siswa bisa belajar sambil bercanda,” terang Anggun.

Tak butuh waktu lama untuk meracik ide segar itu. Hanya 14 hari sebelum lomba tingkat provinsi digelar pada 18-19 Oktober di kampus Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Tuban.

Di tengah tugas sekolah, workshop, keluarga, dan segunung pekerjaan lain, dia tetap tancap gas.

“Semua dijalani saja tanpa mengeluh, hasilnya diserahkan kepada Allah,” ujar pendidik yang tinggal di Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding itu.

Selain inovasi mengajar, juri juga menilai portofolio kiprah Anggun di dunia pendidikan: aktif menulis jurnal, membimbing rekan guru, hingga tampil di berbagai forum ilmiah.

Tahun lalu, dia sempat berhenti di posisi runner-up AGP 2024. Namun, kali ini giliran namanya disebut paling atas.

“Saat pengumuman, dari juara harapan dua sampai juara dua tidak ada nama saya. Saat itu saya semakin pasrah. Tapi alhamdulillah, ternyata diumumkan sebagai juara. Rasanya terharu sekali,” kenang alumni Universitas Negeri Malang itu sambil tersenyum.

Perjalanan Anggun tak singkat. Di balik prestasi itu ada malam-malam panjang di depan laptop; menyusun modul, menata ide, menguji metode.

Rasa lelah sering datang, tapi semangat murid-muridnya jadi bahan bakar yang tak pernah padam.

Kini, perempuan 38 tahun itu bersiap ke ajang nasional November mendatang. Bagi Anggun, puncak kemenangan bukan di panggung lomba.

“Menjadi guru itu bukan sekadar mengajar, tapi menumbuhkan semangat dan karakter siswa. Keberhasilan seorang guru itu bukan dari penghargaannya, namun dari seberapa besar perubahan positif yang tumbuh dalam diri murid-murid yang saya ajar,” kata dia.(*/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#SMAN 1 Tuban #Anugerah Guru Prima #profesi #pekerjaan