RADARTUBAN - Meski usianya tidak lagi muda, Shorihatul Inayah tidak berhenti berkarya.
Melalui ratusan karya tulisnya, Guru Teladan Nasional dalam ajang Perma Pendis Award 2025 itu membuktikan bahwa seseorang dapat terus berprestasi.
Baginya, setiap tulisan adalah bentuk dedikasi dan cinta bagi perkembangan dunia pendidikan.
Di ruang guru yang mulai lengang, Shorihatul Inayah masih menatap layar laptopnya. Jemarinya menari di atas keyboard. Waktu sudah sore, tapi dia belum ingin berhenti.
Di sekolahnya, MAN 1 Tuban, Ina, panggilan akrabnya memang sering menjadi orang yang paling akhir meninggalkan sekolah hanya untuk menyelesaikan karyanya.
Tak banyak yang tahu, perempuan kelahiran Mandirejo, Kecamatan Merakurak itu sudah menulis ratusan jurnal ilmiah.
Dia bukan profesor kampus besar, tapi guru madrasah yang percaya satu hal sederhana: ilmu tak boleh berhenti di kepala. Harus mengalir lewat tulisan.
Di sela rutinitas mengajar kimia, Ina memeras ide jadi kalimat. Kalimat jadi karya, karya jadi prestasi. ‘
’Menulis tidak saya rasakan sebagai beban,” katanya ketika diwawancarai Jawa Pos Radar Tuban di kantin MAN 1 Tuban.
Perempuan 47 tahun itu tak banyak bicara prestasi, meski baru ditahbiskan sebagai Guru Teladan Nasional dalam ajang Perma Pendis Award 2025.
Jauh sebelum meraih prestasi tersebut, jejak karya Ina sudah ‘’bicara’’ lebih dulu.
Sedikitnya 154 jurnal ilmiah dan sejumlah buku referensi pendidikan telah dihasilkan.
Sejak 2003, Ina mengabdikan diri di dunia pendidikan. Awalnya hanya mendampingi siswa di berbagai lomba.
Lama-lama semangat itu menular ke dirinya sendiri.
Dia pun ikut berkompetisi, berkarya, meneliti, menulis, dan terus menulis.
“Saya menulis bukan karena tuntutan, tapi murni karena menikmatinya. Bahkan kalau saya sedang pusing atau lelah, justru saya pakai untuk menulis,” tuturnya ringan, tapi berisi.
Gelar doktor pendidikan kimia dari Universitas Negeri Malang tak membuatnya berhenti. Kini, dia mulai menulis jurnal berbahasa Inggris, menembus batas nasional.
Bagi Ina, menulis bukan sekadar pekerjaan akademik. Itu caranya menanam makna.
“Saya menginterpretasikan jargon Madrasah Bermutu dan Mendunia. Bagi saya, agar bisa mendunia ya lewat tulisan. Itu yang bisa saya lakukan untuk bersaing di tingkat nasional hingga internasional,” kata pendidik kelahiran 4 Maret 1978 itu.
Di waktu luang pun, dia jarang menganggur. Meski hanya 30 menit di sela mengajar, dia manfaatkan untuk menulis.
Baginya, tulisan adalah jejak. Setiap jurnal dan buku adalah bentuk sumbangsih nyata untuk pendidikan.
Bukti bahwa guru dari daerah juga bisa berkiprah di panggung global.
“Usia tidak menghalangi seseorang untuk terus belajar sekaligus berkarya. Anak-anak muda juga masih memiliki banyak kesempatan untuk berkarya, yang penting fokus dan tanggung jawab,” ujarnya.
Ina menuturkan, Anugerah Guru Teladan Perma Pendis Award Nasional 2025 yang baru saja diraih bukan semata hasil dari mengajar di kelas.
Melainkan dari kontribusinya dalam bidang penelitian dan literasi ilmiah bidang pendidikan.
‘’Saya begitu bersyukur, bangga, dan merasa haru setelah dipilih sebagai sosok guru teladan tingkat nasional,’’ kata dia setelah mendapat informasi hasil penjurian yang diumumkan di Universitas Nurul Jadid Probolinggo beberapa waktu lalu.(*/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama