RADARTUBAN - Di saat banyak mahasiswa semester akhir sibuk dengan tugas kampus, Afthoniya Nurin Dhifa justru memilih tantangan berorganisasi.
Bukan satu, tapi tiga sekaligus.
Dhifa, sapaan karibnya mengaku, dinamika organisasi memberinya pengalaman praktis di lapangan yang tidak bisa didapatkannya dari teori-teori yang diajarkan di ruang kelas.
Selain itu, melalui organisasi, mahasiswi Universitas PGRI Ronggolawe Tuban itu belajar bagaimana menghadapi perbedaan karakter, mengelola konflik, hingga mengambil keputusan kritis.
‘’Semua pengalaman itu menuntut saya harus bisa berpikir kritis, mempertimbangkan perspektif, dan bertindak strategis dalam situasi yang kompleks,” ujarnya.
Meski telah berkecimpung cukup lama dalam dunia organisasi hingga dipercaya menjadi Presiden Mahasiswa Unirow Tuban, Dhifa mengakui bahwa beberapa kali dirinya menghadapi bias halus.
Salah satunya stereotip bahwa perempuan itu kurang kompeten dalam memimpin atau terlalu emosional dibandingkan laki-laki.
‘’Budaya patriarki seperti ini ternyata memang belum benar-benar hilang. Tapi, bagi saya, ini kesempatan untuk membuktikan kalau kemampuan memimpin itu bukan soal gender,” ujarnya.
Meski demikian, Dhifa tidak menjadikan tantangan tersebut sebagai penghalang untuk terus berkembang.
Dia justru melihatnya sebagai ruang pembelajaran yang membentuk karakter kepemimpinan yang lebih matang.
Bagi mahasiswi prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia itu, yang terpenting dari seorang pemimpin adalah mampu menjaga arah organisasi, membaca dinamika tim, sekaligus tetap terbuka terhadap kritik dan masukan dari anggotanya.
‘’Kepemimpinan bukan tentang gender atau berada pada posisi tertinggi dalam sebuah organisasi, melainkan memastikan seluruh anggota merasa dihargai, didengar, dan diberi ruang untuk berkontribusi. Selain itu, pemimpin itu juga harus memastikan semua orang bisa maju bersama,” ujarnya.
Terlepas dari tantangan yang dihadapinya, menurut gadis Libra itu, organisasi bukan hanya membentuk keterampilan teknis seperti komunikasi, manajemen waktu, dan koordinasi.
Namun juga menguji integritas, membangun ketegasan, serta menanamkan rasa tanggung jawab sosial.
Bagi perempuan berusia 22 tahun itu, organisasi bukan hanya sekadar wadah berkumpul atau menjalankan program. Tapi, juga sebagai ruang untuk terus berkembang.
‘’Semua proses tersebut menjadikan organisasi sebagai ruang yang sangat relevan bagi generasi muda untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan yang lebih besar saat terjun langsung ke masyarakat,” ungkap dara asal Kelurahan Panyuran, Kecamatan Palang itu.(saf/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama