RADARTUBAN - Anggun Winata bukan sekadar naik level. Dia menyalip batas.
Dalam dua bulan, guru kimia SMAN 1 Tuban itu dua kali naik panggung penghargaan. Oktober, menyabet Juara 1 Anugerah Guru Prima (AGP) Jawa Timur 2025.
November, dia pulang membawa gelar AGP Nasional 2025.
Semua orang melihat panggung juara. Namun, hanya sedikit yang tahu, kemenangan Anggun, panggilan akrabnya, justru lahir bukan di panggung, namun di ruang latihan yang hanya berlangsung tiga jam setiap malam.
“Mulai sekitar jam tujuh sampai jam sepuluh malam, saya berlatih pemaparan. Latihan intonasi, pernapasan, dan manajemen waktu. Semua materi harus selesai diterangkan dalam waktu kurang dari 10 menit,” ucapnya ketika diwawancarai Jawa Pos Radar Tuban di lobi SMAN 1 Tuban, Selasa (18/11) siang.
Anggun mengakui awal perjuangannya memang terasa berat. Terlebih, membawa nama Jawa Timur untuk bersaing dengan 68 guru hebat dari 17 provinsi.
‘’Saya tetap mencoba semaksimal mungkin menampilkan yang terbaik. Alhamdulillah bisa berada di posisi ke tiga,” ungkapnya.
Prestasi tersebut tentu tidak bisa dipandang sebelah mata. Anggun merupakan satu-satunya perwakilan jenjang SMA/SMK se-Jawa Timur.
Meski harus bersaing dengan guru-guru yang berprestasi, dia mengaku tidak merasa minder.
Menurutnya, hal tersebut justru menjadi menghambat prosesnya kala pemaparan inovasi pembelajarannya di depan juri.
Guru berusia 38 tahun itu mengaku tidak merasa memiliki pesaing terberat selama pelaksanaan AGP Nasional, Kamis (13/11).
Sebab, setiap guru mengikuti ajang tersebut tidak saling mengetahui inovasi satu sama lain.
‘’Jadi memang fokus dengan diri sendiri. Pun pemaparan inovasinya melalui daring dan hanya disaksikan dua orang juri saja,” tuturnya.
Dalam ajang tersebut, lulusan Universitas Negeri Malang itu membawa inovasi pembelajaran dengan tajuk Jualan, yang sebelumnya mengantarkannya meraih juara 1 AGP Provinsi Jawa Timur 2025 pada Oktober lalu.
Inovasi pembelajaran yang sama kembali dibawakan dengan berbagai penyempurnaan setelah mendapatkan koreksi dalam AGP Jawa Timur.
Selain memaparkan inovasi pembelajaran itu, dua inovasi lain yang turut diperkenalkannya dalam portofolio, yakni Bus Patas atau akronim dari Buat Senyawa Menggunakan Papan Tata Nama Senyawa dan Tosa akronim dari Tutor Sebaya.
Metode Bus Patas akan mengajak siswanya untuk mengingat susunan nama senyawa melalui papan tata nama yang dirancang sederhana.
Namun efektif untuk membantu para siswa mengingat berbagai nama-nama senyawa kimia.
Berbeda dengan metode Tosa yang memberikan kesempatan siswa untuk saling mengajar satu sama lainnya.
Dua metode itu mampu membangun suasana kelas yang pastinya lebih hidup dan interaktif.
‘’Terkadang murid-murid itu bilang mereka ingin metode belajar sambil bermain. Kalau metodenya seperi ceramah, mereka mengaku cepat bosan. Jadi adanya inovasi memang penting agar pembelajaran terasa dekat dengan mereka,” jelasnya.
Menariknya, di balik inovasi pembelajaran tersebut, guru yang berdomisili di Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding itu mengaku, hanya memiliki waktu kurang dari satu hari untuk mempersiapkan pemaparan materi.
Kesibukannya sebagai guru dan berbagai kegiatan lainnya membuatnya baru bisa berlatih setelah senja.
‘’Mulai dari sekitar jam tujuh sampai jam sepuluh saya berlatih pemaparan. Latihan intonasi, pernapasan, dan manajemen waktu. Semua materi harus selesai diterangkan dalam waktu kurang dari 10 menit,” katanya.
Baginya, memadatkan rangkaian materi inovasi pembelajaran dalam waktu tujuh menit bukan perkara mudah.
Dia harus menentukan jeda suara, menyesuaikan penekanan kata, hingga mengatur ritme bicara agar semua materi bisa disampaikan tanpa melewati batas waktu.
Selain performa presentasi, tim juri AGP yang beranggotakan akademisi dan PGRI itu menilai portofolio peserta.
Anggun tentu memaparkan seluruh pencapaiannya. Termasuk puluhan jurnal penelitian yang dia tulis sejak 2015. Dia tidak ragu menunjukkan kontribusinya bagi dunia pendidikan.
‘’Bagi saya, portofolio ini merupakan wujud dedikasi pada profesi yang saya tekuni ini,” ungkapnya.
Meski telah mengukir prestasi nasional, Anggun merasa kemenangan bukanlah tujuan akhir. Dia tidak ingin berhenti menghasilkan inovasi pembelajaran maupun belajar dari banyak hal.
Justru pencapaiannya ini menjadi pengingat bahwa masih banyak ruang untuk dirinya untuk terus berkembang.
‘’Keberhasilan guru itu bukan hanya dari penghargaannya, tapi dari perubahan positif yang tumbuh dalam diri murid-murid saya. Itu yang selalu menjadi pegangan saya,” tandasnya.(*/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama