Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Plaspori, Inovasi Paving Plastik Berpori Karya Siswi SMAN1 Tuban yang Juara Tubernova dan Dilirik Perusahaan Multinasional

Shafa Dina Hayuning Mentari • Minggu, 30 November 2025 | 00:30 WIB
Dua siswi SMA ciptakan Plaspori, paving berpori dari sampah plastik yang menangi Tubernova
Dua siswi SMA ciptakan Plaspori, paving berpori dari sampah plastik yang menangi Tubernova

RADARTUBAN- Dua dara muda menorehkan tinta emas di usia belia. Berbekal rasa peduli pada masalah banjir dan tumpukan sampah plastik di kampung halaman, mereka mengalahkan pesaing-pesaing bergelar sarjana dalam kompetisi inovasi dan melahirkan Plaspori, paving plastik berpori yang kini dilirik perusahan multinasional.

Di tengah gemerlapnya persaingan ide dan inovasi, nama Shafira Naura Azzahra dan Regina Sabela Alini Putri mendadak menjadi sorotan.

Bukan kalangan akademisi bergelar tinggi, kedua gadis ini statusnya masih siswi sekolah menengah atas.

Di usianya yang masih sangat belia, mereka berhasil menumbangkan para pesaing yang jauh lebih berpengalaman dalam ajang Tubernova Award 2025.

Inovasi yang mereka usung terdengar sederhana, namun memiliki solusi ganda yang sangat membantu permasalahan banjir dan sampah plastik di Kabupaten Tuban.

Mereka menamai temuannya Plaspori, singkatan dari Pemanfaatan Sampah Anorganik Berbahan Dasar Plastik: Paving Plastik Berpori untuk Mengatasi Fenomena Geosfer (Banjir) di Daerah Padat Penduduk.

Hasilnya? Gelar juara kategori Terinovatif 1 Agribisnis dan Energi Baru Terbarukan berhasil mereka sabet.

Bagi Shafira dan Regina, sapaan akrab kedua gadis inovatif itu, ide Plaspori bukan sekadar tugas sekolah atau ambisi lomba.

Melainkan bentuk kepedulian mendalam mereka terhadap kondisi lingkungan sekitar.

"Awal mendaftar memang inisiatif kami sendiri. Terinspirasi dari banyaknya peristiwa banjir yang masih terjadi di beberapa wilayah Tuban,” tuturnya membuka cerita dengan nada suara yang terdengar begitu antusias.

Kepedulian tersebut lantas dipertemukan dengan isu mendesak lainnya, yakni menumpuknya sampah plastik yang belum termanfaatkan secara maksimal.

"Inovasi paving berpori sebenarnya sudah banyak beredar, tapi kami ingin membedakan dan membuat gebrakan baru dengan memanfaatkan sampah plastik. Jadi bukan hanya bisa mengurangi banjir, tapi juga sampah plastik,” tambah Regina dengan intonasi suara yang semangat.

Konsepnya cerdas. Sampah plastik dicairkan, dipadatkan menjadi butiran kerikil, lalu dicampur dengan semen dan dicetak menjadi paving blok berpori.

Inovasi ini menawarkan solusi mengubah limbah yang merusak alam menjadi infrastruktur yang menjamin resapan air.

"Setidaknya satu paving blok membutuhkan 2 kilogram sampah plastik,” kata Shafira.

Di balik prestasi yang dipetik di akhir kompetisi, perjuangan mereka memakan waktu berbulan-bulan.

Kedua siswi kelas XI SMAN 1 Tuban itu setidaknya menghabiskan total enam bulan, mulai dari mendaftar sebagai peserta, technical meeting, menata ide, menyusun materi, hingga merealisasikan konsep Plaspori untuk benar-benar menjadi produk yang bermanfaat.

"Pembuatan Plaspori setidaknya memakan waktu dua bulan untuk benar-benar menemukan konsistensi yang pas sehingga bisa dicetak menjadi paving blok,” ujar Regina menimpali rekannya.

Dalam waktu dua bulan, kedua siswi yang berdomisili di Kecamatan Semanding dan Kecamatan Brondong, Lamongan itu menghadapi berbagai kegagalan, seperti adonan semen yang terlalu cair, sehingga tidak memadat, atau paving yang sudah terbentuk, namun rapuh dan mudah hancur.

Meski berkali-kali gagal, mereka terus mencoba. Termasuk menyesuaikan takaran, hingga akhirnya formula mereka berhasil. Plaspori pun memadat, kuat, dan siap diuji.

Apakah sempat takut gagal dalam mengikuti kompetisi? Mereka mengakuinya.

"Sempat sedikit goyah. Pesaing kami saat itu anak kuliahan, orang-orang yang memiliki gelar sarjana, hingga teman-teman satu sekolah kami. Tapi, itu bukan menjadi penghalang, kami berdua tetap percaya diri,” imbuh Shafira.

Akhirnya, perjuangan gigih Shafira dan Regina jauh melampaui ekspektasinya. Tidak hanya piala yang mereka dapatkan, inovasi mereka kini dilirik oleh perusahaan multinasional di Tuban untuk diproduksi dalam skala besar.

"Baru Oktober lalu mereka datang dan bicara dengan kami serta pihak sekolah terkait produksi Plaspori dalam jumlah besar,” ujar Regina bangga.

Untuk melindungi karya inovatif mereka, saat ini Plaspori masih dalam tahap pengajuan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) sebelum dilakukan produksi massal.

"Kalau ada perlombaan yang sama, kami juga ingin berkontribusi lagi. Kami ingin menuangkan ide inovatif lainnya yang bermanfaat untuk masyarakat,” tandas keduanya saling menimpali.

Anggun Winata, guru pendamping Shafira dan Regina, tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya.

Menurutnya, torehan kedua siswanya ini dapat mendorong semangat generasi muda di Tuban untuk peduli dan berani berinovasi.

"Torehannya sangat mengesankan. Terlebih, produk keduanya dilirik perusahaan besar. Mereka berdua membuktikan bahwa ide brilian untuk perkembangan infrastruktur tidak mengenal usia,” ujarnya.(*/ds)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Tuban #SMAN 1 Tuban #Tubernova Award 2025 #paving plastik #Plaspori #sampah plastik #HAKI