Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Komunitas Tuban Runner, Menularkan Energi Sehat dan Pertemanan: Dari GOR Tuban sampai Singapura

Shafa Dina Hayuning Mentari • Minggu, 14 Desember 2025 | 22:59 WIB
Anggota Komunitas Tuban Runners foto bersama di tepi pantai Jalan RE Martadinata.
Anggota Komunitas Tuban Runners foto bersama di tepi pantai Jalan RE Martadinata.

RADARTUBAN - Memasyarakatkan olahraga. Misi sederhana, namun mengena itulah yang diusung Komunitas Tuban Runner (KTR).

Wadah para pecinta lari ini tak hanya mengejar pace, tapi juga kesenangan, pertemanan, dan rutinitas sehat yang bikin ketagihan.

“Aku pelari Kacer – panggil aku pelari kalcer.” Back sound yang viral TikTok itu seolah jadi yel-yel tidak resmi dari komunitas ini.

Maklum, tiap kali running bareng, outfit mereka tampil keren: bersepatu running, aksesori lengkap, plus aplikasi Strava yang wajib menyala.

Setiap agenda, puluhan orang muncul.

Datang dari berbagai kecamatan dan tentu saja dari berbagai latar belakang. Semuanya melebur.

Niatnya cuma satu: lari bareng dan menikmati suasananya.

Suatu pekan, di jogging track GOR Tuban, para pelari itu menuntaskan beberapa putaran sebelum akhirnya berhenti untuk ngobrol santai.

Di antara mereka tampak kapten KTR, Khoindah Meike Putri.

Ike, sapaan akrabnya, mengaku lari sudah jadi rutinitasnya. Karena terikat dengan emosi yang sama, dia bersama runner lainnya  mendirikan KTR pada 2018.

Tujuannya sederhana, berkumpul, sehat bareng, sambil bersenang-senang.

“Karena komunitas ini juga sebagai media pelepas stres bagi yang suntuk seminggu bekerja,” ujarnya sambil bercanda.

Meski banyak santainya, bukan berarti tanpa latihan serius. KTR memiliki agenda rutin latihan dua kali seminggu.

Selasa malam, porsinya running drill.

Latihan terstruktur tersebut untuk memperbaiki teknik dasar langkah kaki, ayunan tangan, hingga postur tubuh.

Dengan latihan ini, para runner diharapkan mampu meningkatkan efisiensi, kekuatan, kecepatan, dan mencegah cedera.

“Karena lari itu asisnya atletik. Jadi dasar-dasar untuk lari ini penting,” tuturnya.  Running drill, kata Ike, penting agar tubuh siap saat menjalani aktivitas lari yang lebih berat.

Agenda kedua digelar Minggu.

Rutenya lebih menantang, 5-10 kilometer (km). Start dari GOR Rangga Jaya Anoragama, berakhir di alun-alun atau Taman Abipraya.

“Untuk aktivitas lari ini biasanya diikuti puluhan anggota,” tambahnya.

Jika ada event di Bumi Ronggolawe, anggota KTR hampir tak pernah absen. Bahkan sering mengikuti event serupa di luar daerah.

Dari Siksorogo Lawu Ultra hingga event besar lain.

Paling jauh, mengikuti Singapore Marathon 2026.

“Kalau ikut event seperti ini kami berangkat sendiri dan bayar akomodasi sendiri, karena selain dapat sehatnya sekaligus jalan-jalan,” kata dia.

Menariknya, tak sedikit anggota dari berbagai generasi yang memiliki riwayat penyakit tertentu.

Namun, setelah rutin ikut lari bareng komunitas, kondisi mereka justru membaik.

“Sebenarnya beberapa anggota kami itu memang tujuan ikut lari sekaligus terapi, dan alhamdulillah banyak yang sakit terus membaik,” imbuhnya.

Memasuki usia tujuh tahun, Ike ingin komunitasnya terus menjadi magnet olahraga di Tuban. Bikin warga fomo (fear of missing out), tapi fomo yang sehat.

“Karena tujuan kami ingin memasyarakatkan olahraga,” kata dia.(fud/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #aplikasi #lari #GOR Rangga Jaya Anoraga #tiktok #runner #singapura #strava