RADARTUBAN - Pasangan ganda putra Fajar Nur Aldiantoro dan Sendy Karunia Ramadan menutup Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Madrasah Aliyah se-Kabupaten Tuban 2025 dengan satu gelar juara dan satu pelajaran penting: untuk naik level perlu mengobarkan semangat berlatih lebih keras.
Sorak penonton terdengar membahana hampir sepanjang pertandingan di GOR Rangga Jaya Anoraga, akhir Mei lalu.
Di tengah lapangan, Fajar Nur Aldiantoro berdiri bersama pasangannya, Sendy Karunia Ramadan.
Fokus mereka hanya satu, memenangkan setiap pertandingan ganda putra Porseni Madrasah Aliyah se-Kabupaten Tuban 2025.
Bagi Fajar-Sendy, ajang ini bukan sekadar lomba tahunan. Pada event yang sama tahun sebelumnya, mereka finis di posisi kedua.
Hasil itu menjadi alasan pasangan ganda ini kembali dengan target lebih tinggi, yakni menjadi juara.
Persiapan pun dilakukan serius. Kekurangannya pada Porseni 2024 jadi evaluasi.
Selama enam bulan sebelum bertanding, kedua siswa kelas XII MAN 1 Tuban itu berlatih rutin tiga kali seminggu sepulang sekolah.
Fokus latihannya, teknik dasar, kecepatan, dan kerja sama. Karena turun di nomor ganda, mereka juga harus kompak dengan tandemnya, bukan mengandalkan kemampuan individu.
“Latihan itu penting untuk menyempurnakan teknik, refleks, dan kecepatan. Apalagi saya bermain di ganda putra, menyatukan dua kepala dalam satu ritme permainan itu tidak mudah,” tutur pemuda yang tinggal di Desa Kradenan, Kecamatan Palang itu.
Hasil latihan yang berdarah-darah itu diuji di lapangan.
Perjalanan menuju gelar juara tidak singkat. Fajar-Sendy harus mengandaskan 16 ganda putra dari berbagai madrasah di Tuban. Setiap pertandingan berlangsung ketat.
Namun, secara bertahap, mereka mampu menjaga konsistensi hingga akhirnya keluar sebagai juara.
Salah satu pertandingan terberat terjadi saat menghadapi tim MA Al Falah Bangilan. Lawan bermain cepat dan rapi.
Tekanan datang bukan hanya dari permainan, namun juga dari tribun. Suporter lawan mendominasi.
Suasana di dalam gedung terasa panas dan padat. Fajar mengakui, kondisi itu sempat memengaruhi mentalnya.
“Ngos-ngosan sekali saat babak empat besar itu. Sorakan suporter mereka sempat membuat nyali ciut. Tapi saya langsung tersadar untuk tetap fokus pada permainan dan menghilangkan dulu bayang-bayang kemenangan. Kalau tidak fokus dan mental down, pasti akan terseok-seok,” ujarnya.
Dengan menjaga fokus, mereka mampu melewati laga tersebut dan menang dua set sekaligus. Gelar juara kabupaten pun diraih.
Kemenangan itu membuka jalan ke tingkat provinsi. Harapan awalnya, prestasi bisa berlanjut.
Namun, hasil di tingkat provinsi tidak sesuai harapan. Di pertandingan awal, Fajar-Sendy harus mengakui keunggulan lawan dari Lamongan.
Langkah mereka benar-benar terhenti lebih cepat. Kesempatan melaju lebih jauh pun harus terkubur.
Kekecewaan mereka tidak bisa sepenuhnya disembunyikan. Meski begitu, Fajar memilih melihat hasil tersebut secara realistis.
“Sejujurnya sangat kecewa, tapi setidaknya juara di tingkat kabupaten ini sudah cukup menjadi pelipur lara. Itu berarti latihan saya selama ini tidak sia-sia,” katanya.
Setelah Porseni selesai, aktivitas kembali normal. Tidak ada lagi pertandingan besar. Tidak ada sorakan penonton. Fajar kembali berlatih seperti biasa. Fokusnya kini pada evaluasi.
“Misi saya sekarang hanya mengevaluasi diri dan menyempurnakan setiap teknik agar di perlombaan selanjutnya saya bisa memberikan yang lebih baik,” ujarnya.
Bagi Fajar, juara kabupaten memberi kepercayaan diri. Kekalahan di provinsi memberinya pelajaran. Keduanya sama-sama penting dalam proses menjadi atlet.
Seperti halnya Fajar, Sandy juga memiliki ambisi untuk bisa menapaki panggung kompetisi nasional.
Jam latihan yang tidak kalah keras membuat pemuda asal Desa Sidoharjo, Kecamatan Senori ini percaya diri untuk melaju ke provinsi.
Namun, dia tak berdaya menghadapi lawan yang lebih tangguh. "Sama kecewanya, saya ingin menjajal di tingkat provinsi.
Tapi, mungkin kami berdua harus berlatih lebih keras lagi untuk bisa berada di level Jawa Timur," katanya.
Sandy mengaku bahwa kompetisi di tingkat provinsi memerlukan persiapan yang lebih matang lagi.
Selain fisik, diperlukan juga kesiapan mental untuk berhadapan dengan lawan yang tidak kalah tangguh.
"Setidaknya, juara di tingkat kabupaten sedikit menyembuhkan kekecewaan saya. Ini juga menjadi koreksi agar saya terus berbenah. Masih banyak kesempatan untuk mencoba lagi," ujarnya.(*/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama