Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Tanpa Kembang Api, Pemuda Tambakboyo Rayakan Tahun Baru dengan Hadirkan Kolaborasi Seni Jepang–Indonesia Lewat Soundtoloyo

Yudha Satria Aditama • Jumat, 2 Januari 2026 | 17:40 WIB

Pemuda Tambakboyo merayakan tahun baru 2026 dengan Soundtoloyo, pertunjukan seni kolaboratif Jepang–Indonesia di Shankara Tuban.
Pemuda Tambakboyo merayakan tahun baru 2026 dengan Soundtoloyo, pertunjukan seni kolaboratif Jepang–Indonesia di Shankara Tuban.

RADARTUBAN – Perayaan pergantian tahun baru 2026 di Kabupaten Tuban dikemas dengan cara berbeda.

Bertempat di Desa Kinanti, Kecamatan Tambakboyo, Pemuda Tambakboyo menghadirkan pertunjukan seni bertajuk Soundtoloyo oleh Prewangan, sebuah kolaborasi lintas budaya Jepang–Indonesia yang memadukan seni teatrikal dan musik eksperimental, Selasa (31/12).

Alih-alih merayakan tahun baru dengan terompet dan kembang api, pertunjukan ini justru menyuguhkan eksplorasi seni berbasis alat musik ciptaan sendiri, ritual budaya, serta refleksi sosial. Soundtoloyo menjadi ruang temu bagi seniman lintas negara dalam satu panggung di Shankara Tuban.

Prewangan sendiri merupakan wadah pengembangan seni, sains, dan teknologi berbasis komunitas yang bersifat terbuka dan kolaboratif.

Sejumlah musisi dan seniman turut ambil bagian, di antaranya Sakana-Kani, Kona Eguchi, Insyaallah Noise x Babiteng, Sandaria, dan Hewodn.

Baca Juga: Apa Itu Janggrung, Mengenal Akar Pertunjukan Tayub di Tuban yang Semakin Terlupakan

Pertunjukan dibuka oleh Sakana-Kani, kolaborasi Jepang–Indonesia yang memadukan musik eksperimental dengan ritual minum teh Jepang Chanoyu Matcha dan ekspresi tradisi Indonesia. Performa ini dibawakan oleh Toyol Dolanan Nuklir (Tuban) dan Yukari Ono (Kyoto, Jepang).

Toyol tampil mengenakan busana tradisional Indonesia berupa udeng khas Tengger Bromo dan pakaian Toraja, sementara Yukari mengenakan kimono.

Musik dimainkan menggunakan alat petik ciptaan Toyol yang terinspirasi dari alat musik Biwa (Jepang) dan Gambus, dibawakan sambil bersila dan bercerita layaknya seorang dalang.

“Ritual upacara teh kami posisikan seperti tahlilan. Kami berdoa untuk Sen-no Rikyu, tokoh Jepang yang menyerukan kesetaraan manusia melalui teh,” ujar Toyol yang bernama asli Khafid Fadli.

Filosofi Sen-no Rikyu, yang dikenal menentang feodalisme hingga akhirnya dipaksa melakukan seppuku demi melindungi pengikutnya, diinternalisasikan Sakana-Kani melalui konsep panggung sejajar dengan penonton.

Pesan yang ingin disampaikan adalah kesetaraan manusia dalam menyuarakan pandangan dan ekspresi politik.

Keunikan lain Sakana-Kani terletak pada mitologi yang mereka bangun.

Dalam bahasa Jepang, Sakana berarti ikan dan Kani berarti kepiting. Toyol, yang lahir pada tanggal 15—dalam budaya Jawa dikaitkan dengan unsur air—merepresentasikan ikan, sementara Yukari yang berzodiak Cancer melambangkan kepiting sebagai penyeimbang antara tradisi dan eksplorasi.

Kolaborasi lintas budaya juga diperkuat dengan kehadiran seniman asal Kyoto, Kona Eguchi.

Seniman lukis yang kini aktif di jalur seni pertunjukan ini mengaku menemukan perspektif baru selama residensi di Indonesia, khususnya terkait budaya gotong royong.

“Di Jepang, barang rusak biasanya langsung diganti. Di Indonesia, justru diperbaiki bersama-sama,” tuturnya.

Pengalaman paling berkesan dialaminya saat tampil di Madura, ketika traktor yang digunakan dalam pertunjukan rusak dan seluruh penonton turut membantu memperbaikinya.

Menurut Eguchi, budaya komunal semacam itu kini mulai terkikis di Jepang.

Dari Tuban sendiri, Hewodn, musisi asal Rengel, menghadirkan karya reflektif bertajuk “Dongo Kanggo Segoro”.

Menggunakan Noise Box dan Horror Box dari besi bekas, ia menghadirkan doa musikal untuk laut sebagai sumber kehidupan.

Baca Juga: Giring Ganesha Ungkap Tantangan Birokrasi dan Komitmen Perjuangkan Ekosistem Seni yang Adil

Musisi lain seperti Insyaallah Noise x Babiteng dan Sandaria turut memperkaya atmosfer eksperimental Soundtoloyo. Pertunjukan ini diharapkan menjadi pemantik geliat seni dan musik alternatif di Tuban.

Soundtoloyo terselenggara melalui kolaborasi Prewangan dan Shankara Institute, sebuah ruang kreatif yang digagas pemuda Desa Kinanti.

Shankara Institute bergerak di bidang lingkungan, pendidikan, serta pengembangan komunitas.

“Kami ingin hadir dan memberi manfaat bagi masyarakat. Kami terbuka untuk kolaborasi lintas bidang, termasuk seni dan budaya,” ujar Zulham Fahri, pendiri Shankara Institute.

Dengan konsep yang kuat dan kolaborasi lintas budaya, Soundtoloyo menjadi penanda penutup tahun 2025 yang reflektif sekaligus progresif bagi dunia seni di Bumi Ronggolawe. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#musik #Tuban #eksperimental #ritual #seni