Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Cerita Nabil Jidan, Pemuda Tuban yang Taklukkan Lebih Dari 50 Gunung di Usia 15 Tahun

Shafa Dina Hayuning Mentari • Minggu, 18 Januari 2026 | 17:30 WIB

 

Nabil Jidan berpose setelah menaklukan puncak Gunung Rinjani.
Nabil Jidan berpose setelah menaklukan puncak Gunung Rinjani.

RADARTUBAN - Kabut masih tebal ketika Nabil Jidan melangkah. Bagi remaja 15 tahun asal Tuban ini, suasana semacam itu bukan hal baru.

Dia telah terbiasa. Lebih dari 50 puncak telah dia datangi, sebuah angka yang bagi banyak orang pantas dipamerkan, tapi tidak bagi Jidan.

Baginya, pendakian merupakan perjalanan panjang untuk mengenali diri.

Di akhir pekan, saat remaja lain menghabiskan waktu di kafe atau layar gawai, Jidan memilih jalur yang menanjak dan berbatu.

Di situ, dia belajar hal-hal yang tidak diajarkan di sekolah, yakni sabar, disiplin, dan menghormati alam.

Pendakian pertamanya terjadi ketika dia masih duduk di bangku SMP. Rasa penasaran membuatnya nekat mencoba.

“Waktu itu rasanya lelah, dingin, dan penuh drama. Tapi justru dari situ saya merasa ketagihan. Ada rasa puas yang tidak bisa dijelaskan saat sampai puncak, campur lelah, bangga, dan lega,” ujarnya.

Sejak itu, dia menggembleng fisik untuk menyiapkan pendakian berikutnya. Mulai carrier diisi galon air setengah penuh, lalu dibawa naik treadmill yang dimiringkan.

Akhir pekan dia isi dengan trail run di gunung-gunung sekitar Jawa Timur, seperti Lorokan dan Kelud. Dia mengaku tidak ingin menjadi pendaki yang mengandalkan nekat.

Kini, siswa kelas X SMAN 2 Tuban itu merasakan bahwa gunung memberi lebih dari sekadar pemandangan. Dia belajar mengatur waktu, bekerja sama, dan menjaga diri.

“Saya pernah bertemu pendaki yang secara materi sederhana, tapi cara berpikirnya luar biasa. Mereka mengajarkan bahwa hidup tidak harus mewah untuk bahagia. Cukup dengan bersyukur dan tahu kapan harus berjuang,” tuturnya.

Jejak langkahnya telah melewati Argopuro, Kelud, Pandan, Lorokan, hingga Watu Jengger. Gunung-gunung tinggi di atas 3.000 meter pun sudah ditaklukkan. Antara lain, Lawu, Merbabu, Rinjani, Slamet. Terbaru, dia mendaki Ciremai di Jawa Barat.

Namun, Rinjani meninggalkan kesan paling mendalam.

Di gunung itu, dia dipercaya memimpin rombongan 13 orang dewasa dari Sulawesi, Lombok, hingga Jakarta.

“Bahkan saat itu ada beberapa dari rombongan kami yang memilih tidak melanjutkan sampai puncak. Mereka hanya sampai camp di Pelawangan 4 karena memang medannya berat sekali,” katanya.

Di sana pula, Jidan belajar tentang batas. “Di gunung itu kita bukan siapa-siapa. Alam akan selalu lebih kuat,” ujarnya.

Kepercayaan untuk memimpin juga dia dapatkan di Merbabu.

Puluhan pendakian membentuknya menjadi sosok yang diperhitungkan di antara rekan-rekannya.

Namun, semua itu harus ditebusnya dengan konsekuensi tinggi. Waktu bermain dan nongkrong banyak dia tinggalkan. Meski begitu, dia tetap menjaga kewajibannya sebagai pelajar.

Pelajaran penting juga dia dapatkan ketika mendaki. Beberapa kali Jidan terjebak cuaca ekstrem dengan jarak pandang nyaris nol.

“Menyerah dan merelakan puncak itu bukan berarti kalah. Terkadang, itu adalah bentuk kedewasaan. Keselamatan pendaki di atas gunung jauh lebih penting daripada ego untuk mencapai puncak,” tegasnya.

Bagi Jidan, gunung adalah ruang belajar tentang batas diri dan kerendahan hati. Di belakang langkah-langkahnya, ada orang tua yang semula ragu.

Mereka khawatir setelah sering mendengar kabar pendaki hilang.

Namun, tanggung jawab dan konsistensinya membuat mereka memberi dukungan.

“Alhamdulillah alatnya di rumah lengkap semua dan beberapa ada yang baru berkat dukungan orang tua untuk saya menekuni hobi ini,” katanya.

Meski sudah puluhan puncak ditaklukkan, dia tidak merasa lebih tinggi dari siapa pun.

“Setinggi-tingginya ilmu yang dimiliki, ketika berada di tempat yang baru seseorang akan kembali menjadi pemula. Sebab, alam tidak mengenal senioritas,” ujarnya.

Langkahnya belum berhenti. Dia bermimpi menyelesaikan Seven Summit Indonesia, tujuh gunung tertinggi di negeri ini.(*/ds) 

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #kafe #pendaki #remaja #gunung #akhir pekan