Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Inovasi Absensi Sidik Jari Antar Pelajar SMA Antar Kalingga Juara Terinovatif 3 Tubernova 2025

Shafa Dina Hayuning Mentari • Selasa, 27 Januari 2026 | 06:05 WIB

 

Kalingga menerima sertifikat dan trofi juara Tubernova 2025 dari Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky (dua dari kiri).
Kalingga menerima sertifikat dan trofi juara Tubernova 2025 dari Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky (dua dari kiri).

RADARTUBAN - Kalingga Pandu Sadewa dinobatkan sebagai Juara Terinovatif 3 Inovasi Teknologi Berbasis Website/Mobile Apps dalam ajang Tuban Tubernova 2025.

Inovasi yang mengantarkannya ke podium diberi nama Jempol Go, sebuah sistem absensi otomatis berbasis sidik jari. 

Gagasan itu berawal dari keseharian. Hampir setiap pagi, Kalingga, panggilan akrabnya melihat situasi di gerbang sekolah.

Sejumlah siswa datang terlambat. Guru piket mencatat nama dan jam kedatangan satu per satu di atas kertas. Proses manual itu sering memakan waktu dan menguras tenaga.

Dari problem rutin di depan matanya itulah, terbersit dalam benak pemuda 17 tahun itu untuk menciptakan inovasi absensi digital sebagai solusi praktis pencatatan kehadiran siswa dan keamanan ganda di lingkungan sekolah.

Untuk merealisasikannya, Kalingga memilih mengurung diri di kamar. Berjibaku dengan berbagai komponen elektronik. Itu dilakukan saat teman sebayanya menghabiskan akhir pekan dengan bersantai.

Dengan Jempol Go, nantinya semua akan tercatat secara otomatis. Mulai dari nama, kelas, hingga jam kehadiran. Kalau seperti itu, pastinya akan lebih praktis dan tidak memakan waktu lama, kata Kalingga ketika diwawancarai Jawa Pos Radar Tuban.

Dia tidak hanya memikirkan efisiensi pencatatan. Keamanan sekolah juga menjadi pertimbangannya.

Jempol Go dirancang terintegrasi dengan sistem satu pintu atau one gate system, sehingga orang yang masuk ke lingkungan sekolah dapat dipastikan sebagai warga sekolah melalui verifikasi sidik jari.

Ide pemuda Desa Tuwiri Wetan, Kecamatan Merakurak ini sejatinya telah muncul sejak dia duduk di kelas X, saat mengikuti pembelajaran Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).

Namun, ide tersebut baru benar-benar diwujudkan ketika dia memutuskan mengikuti Tubernova 2025.

Dua bulan menjadi waktu yang menentukan. Bulan pertama, Kalingga mematangkan konsep. Bulan berikutnya merancang alat.

Sebenarnya pengerjaan alatnya sudah bisa saya tangani karena saya sudah memiliki dasar di bidang elektronik sejak masih SMP. Tapi, yang cukup sulit justru pada pengerjaan makalahnya. Saya harus teliti untuk mencari jurnal terbaru dan sesuai inovasi saya, ujarnya.

Di tengah proses itu, Kalingga harus menghadapi keterbatasan fisik. Jadwal yang padat membuatnya sempat jatuh sakit.

Dalam kondisi drop, dia tetap berusaha membagi waktu antara kewajiban sekolah, kegiatan organisasi, dan penyelesaian inovasi yang telah dia mulai.

Tantangan lain muncul dari sisi teknis. Kesalahan arus pendek menyebabkan mikro kontroler yang digunakannya mengalami kerusakan.

Dalam kondisi tersebut, dia harus menunggu pengiriman komponen baru selama beberapa hari. Proses perancangan pun tertunda.

Secara mental, tekanan datang dari kesadaran bahwa dia harus bersaing dengan peserta lain yang mayoritas sarjana berpengalaman. Kalingga maju sebagai individu, dengan latar belakang pelajar SMA.

Rasa minder sempat muncul. Dia mengungkapkan kegelisahan itu kepada orang tuanya. Dukungan dari keluarga dan pembimbing menjadi penguat langkahnya.

“Orang tua dan pembimbing saya menyuruh percaya diri dengan kemampuan sendiri. Harus memberikan yang terbaik walaupun nantinya tidak menyabet juara,” kenang Kalingga.

Saat hari presentasi tiba, dia tidak memasang target tinggi. Baginya, mampu menyelesaikan apa yang telah dimulai sudah menjadi sebuah keberhasilan.

Namun, dewan juri menilai inovasinya tidak sekadar sebagai alat. Mereka melihat solusi yang aplikatif dan kesungguhan seorang pelajar dalam menjawab persoalan di lingkungannya.

Lulusan SMP Techno Insan Kamil itu mengaku sejak awal tidak berekspektasi menjadi juara.

Selain karena banyak peserta lebih senior, ajang ini juga menjadi pengalaman pertamanya mengikuti kompetisi karya tulis.

Keraguan juga sempat mengiringi langkahnya.

Tapi karena sudah terlanjur mendaftar, jadi saya merasa harus menyelesaikan itu semua hingga akhir. Tidak boleh lepas tanggung jawab di tengah jalan,katanya.

Kini, setelah penghargaan diraih, Kalingga tetap bersahaja. Baginya, Jempol Go hanyalah awal dari perjalanan yang lebih panjang.

Sebagai anak muda, kita harus berani keluar dari zona nyaman. Mencoba hal baru itu sensasinya seru sekali. Selain itu saya mencoba untuk tidak cepat puas, karena ini masih tingkat kabupaten. Perjalanan menuju jenjang prestasi yang lebih tinggi masih panjang, ungkapnya.(*/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#prestasi #SMAN 1 Tuban #tubernova #penghargaan