RADARTUBAN - Safira Lailatuh Fadhilah hanyalah satu dari segelintir pemuda di Tuban yang teguh melestarikan tari tradisional.
Baginya, melestarikan budaya adalah bentuk menjaga identitas bangsa yang terancam hilang ditelan zaman.
Di tengah gegap gempita budaya populer yang digandrungi generasi seusianya, Safira justru melangkah ke arah yang berbeda.
Ketika banyak remaja larut dalam koreografi K-pop atau tarian modern yang viral di media sosial, gadis asal Desa Penambangan, Kecamatan Semanding, itu memilih tradisi gemulai tari gambyong dan tari remo.
Pilihan itu menjadikannya semacam anomali di lingkar pergaulannya.
Bagi Safira, ketertarikan pada tari tradisional tumbuh secara alami, bukan karena warisan keluarga. Rasa keingintahuan itulah yang perlahan menjelma menjadi kecintaan.
“Awalnya hanya mengikuti minat waktu masih sekolah dasar. Lama-kelamaan saya merasa tari tradisional punya rasa yang berbeda. Setiap gerak ada maknanya, setiap tarian punya cerita,” ujar Safira kepada Jawa Pos Radar Tuban melalui sambungan telepon.
Tidak ada darah seniman dalam silsilah keluarganya. Orangtua, kakek, dan neneknya bukan pelaku seni.
Mereka sekadar penikmat pagelaran budaya. Safira menjadi satu-satunya anggota keluarga yang memilih menekuni dunia tari secara serius.
Dari titik nol, dia belajar mengikuti latihan demi latihan, hingga menguasai beragam tarian daerah, seperti tari miyang, gambyong, remo jombangan, lencir kuning, hingga jejer jaran dawuk.
“Keluarga tidak ada yang menekuni seni. Kakek-nenek hanya senang menonton. Untuk terjun langsung, mungkin hanya saya,” tuturnya.
Kerja keras itu berbuah pengalaman. Safira kerap tampil dalam berbagai ajang lomba, mulai dari Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) hingga kompetisi tari di Kabupaten Bojonegoro. Dia juga pernah terlibat dalam ajang Duta Tari Tuban saat duduk di bangku SMP.
Bagi siswi kelas XI jurusan Akuntansi SMKN 2 Tuban ini, menari bukan sekadar soal hafalan gerak. Ada rasa tenang yang menyertai setiap tarian yang dibawakan.
“Ada perasaan hanyut dan damai saat menari tradisional. Rasa seperti ini tidak saya temukan di tarian modern,” kata gadis berusia 17 tahun itu.
Namun, tantangan terbesar Safira justru datang dari luar panggung.
Dia kerap berhadapan dengan stigma bahwa kesenian tradisional adalah sesuatu yang kuno dan tidak relevan dengan zaman.
Minimnya minat generasi muda terhadap pagelaran budaya menjadi kegelisahan tersendiri baginya.
“Banyak anak muda lebih antusias menonton konser musik modern daripada pertunjukan seni tradisional. Padahal, di dalam tari itu ada nilai budaya, cerita, dan proses panjang yang layak dihargai,” ujarnya.
Menurut Safira, anggapan kuno muncul karena banyak orang belum benar-benar mengenal makna di balik kesenian tradisional.
Baginya, tari tradisional bukan sekadar hiburan, melainkan identitas. Jika tarian modern menawarkan keseruan, tari tradisional menghadirkan kedalaman makna.
Dia meyakini generasi muda memegang peran penting dalam menjaga keberlanjutan budaya.
Bahkan, sekadar mengenal dasar-dasarnya, kata dia, sudah menjadi langkah awal untuk menjaga identitas agar tidak hilang ditelan zaman.
“Coba kenali dulu isi dan artinya sebelum menilai. Kadang, sesuatu yang terlihat lama justru punya makna paling dalam,” ucap alumni SMPN 1 Semanding itu.
Bagi Safira, lingkungan yang mendukung menjadi kunci untuk tetap konsisten menekuni tari tradisional.
Dia percaya seorang seniman perlu berada di ruang yang memiliki frekuensi yang sama agar bisa terus tumbuh.
Kini, menari tradisional bukan lagi sekadar hobi atau sarana meraih prestasi. Kesenian itu telah menjadi bagian dari jati diri Safira—sesuatu yang ingin ia jaga dan rawat.
“Selama masih ada kesempatan, saya ingin terus belajar dan berkembang, serta ikut ambil bagian dalam pelestarian tari tradisional,” katanya, optimistis.(*/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama