Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Kisah Defqi Abid: Disiplin di Atas Matras, Defqi Defqi Raih Emas INKANAS Jatim

Shafa Dina Hayuning Mentari • Minggu, 1 Februari 2026 | 18:23 WIB
Defqi Aditiya Abid berfoto dengan medali emasnya setelah menyabet Juara 1 Kata Perorangan Junior Putra dalam INKANAS Jawa Timur 2025
Defqi Aditiya Abid berfoto dengan medali emasnya setelah menyabet Juara 1 Kata Perorangan Junior Putra dalam INKANAS Jawa Timur 2025

RADARTUBAN - Sempat diminta berhenti oleh kedua orang tuanya karena gagal dalam persaingan masuk ke sekolah terfavorit, Defqi Aditiya Abid membuktikan bahwa sabuk hitam karate yang melingkar di pinggangnya tidak sia-sia sekaligus menjadi sebuah simbol ketangguhan diri yang tidak bisa dipatahkan.

Deru napas teratur  dan tatapan mata yang fokus menjadi penanda setiap kali Defqi Aditiya Abid menjejakkan kaki di atas matras pertandingan.

Di media itulah, karate tak lagi sekadar olahraga baginya. Melainkan sebagai jalan hidup yang perlahan membentuk disiplin, ketahanan mental, dan cara memandang kegagalan.

Karate mulai ditekuni Defqi, panggilan akrabnya sejak duduk di bangku SMP. Namun, perjalanan hampir empat tahun di dunia bela diri itu jauh dari kata nyaman.

Latihan malam yang melelahkan, rutinitas fisik yang ketat, hingga perubahan gaya hidup harus dia jalani demi menjaga performa sebagai atlet.

Di saat sebagian remaja seusianya menikmati waktu luang dengan nongkrong bersama teman, pemuda asal Desa Bejagung, Kecamatan Semanding ini justru memilih disiplin latihan.

Waktu berkumpul digantinya dengan komitmen menjaga kebugaran dan fokus.

Tantangan terbesarnya justru adalah disiplin makanan. Juga berhenti minum es dan makan mi instan demi performa fisik.

‘’Awalnya berat sekali melihat teman-teman bebas makan apa saja, namun sekarang sudah terasa ringan karena sudah menjadi kebiasaan. Dari sini saya belajar bahwa fokus dan disiplin adalah fondasi utama seorang atlet,” ujar siswa kelas XI jurusan Bisnis Digital SMKN 2 Tuban itu kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Ujian terberat datang pada 2024. Tahun itu menjadi fase terendah dalam perjalanan karatenya. Prestasi menurun, medali kian jarang diraih.

Kekecewaan semakin terasa ketika dia gagal masuk sekolah impian melalui jalur prestasi.

Situasi tersebut membuat orang tuanya sempat memintanya berhenti total dari karate.

Namun, Defqi memilih bertahan. Kegagalan tidak dia maknai sebagai akhir, melainkan sebagai bagian dari proses.

Dara ini pun kembali berlatih dengan tekad lebih kuat dan menjadikan jatuh bangun sebagai bahan bakar untuk bangkit.

Momentum kebangkitan itu terjadi pada November 2025 di GOR Bung Hatta, Ngawi.

Di ajang Kejuaraan INKANAS Jawa Timur, Defqi berhasil menumbangkan atlet asal Kabupaten Lamongan, lawan yang sebelumnya pernah menggagalkan mimpinya menjadi juara O2SN tingkat provinsi.

Bagi alumni SMPN 1 Semanding ini, laga tersebut bukan semata perebutan medali emas.

Pertandingan itu menjadi ajang pembuktian bahwa dirinya mampu bangkit dari kehilangan kepercayaan diri dan keraguan untuk terus mengenakan seragam karate.

“Saat itu saya merasa sangat bangga. Saya bisa melakukan hal yang sebelumnya mustahil, yaitu mengalahkan lawan yang pernah membuat saya kalah. Di situ saya sadar, disiplin dan fokus yang lebih kuat dari sebelumnya adalah kuncinya,” ujarnya.

Keteguhan Defqi perlahan mengubah sikap orang tua. Dukungan yang semula ragu akhirnya mengalir penuh ketika melihat komitmennya yang tak goyah.

Pada 2025, selain meraih medali emas dan menjadi juara INKANAS se-Jawa Timur, Defqi juga mendapat kesempatan mewakili provinsi pada ajang Festival Olahraga Rekreasi Nasional (FORNAS) VIII di Nusa Tenggara Barat, meski belum berhasil naik podium tertinggi.

“Dulu orang tua justru kurang mendukung. Tapi, karena saya merasa memiliki potensi dan bakat di karate, saya tetap bertahan,’’ tuturnya.

Didukung teman-teman dan pelatih, pada akhirnya dia bisa membuktikan ke orang tua jika tidak masuk ke sekolah favorit pun masih bisa berprestasi.

Kini, pemilik sabuk hitam Dan 1 atau shodan itu telah mengoleksi sebelas medali. Terdiri dari 5 emas, 3 perak, dan 3 perunggu selama hampir empat tahun berkiprah di dunia karate. Namun, pencapaian tersebut tidak membuatnya cepat puas.

Target besar telah menantinya pada 2026. Defqi membidik kelolosan O2SN SMA/SMK tingkat nasional, sekaligus berharap dapat menembus skuad Pusat Latihan Kabupaten (Puslatkab) Tuban sebelum fokus pada tantangan akademik kelas XII.

“Mimpi saya adalah bisa masuk ke UNESA melalui jalur atlet dan menembus timnas karate Indonesia,’’ tegasnya.

Baginya, kegagalan di masa lalu justru membuat saya merasa sayang jika harus berhenti di tengah jalan, sehingga ke depannya saya ingin terus berkiprah di karate.

Di atas matras, Defqi terus menempa diri. Bukan hanya untuk mengejar medali, namun juga untuk merawat keyakinan bahwa disiplin dan ketekunan mampu mengubah kegagalan menjadi pijakan menuju masa depan.(*/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#kompetisi #karate #medali