Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Tak Mengenal Kata Menyerah, Sachio Raih Duta Siswa Kabupaten Tuban Utama Putri 2025

Shafa Dina Hayuning Mentari • Senin, 2 Februari 2026 | 20:10 WIB
Sachi tampak sumringah menerima selempang dan sertifikat setelah resmi dilantik sebagai Duta Siswa Kabupaten Tuban Utama Putri 2025.
Sachi tampak sumringah menerima selempang dan sertifikat setelah resmi dilantik sebagai Duta Siswa Kabupaten Tuban Utama Putri 2025.

RADARTUBAN- Di hadapannya, para peserta datang dari sekolah-sekolah di wilayah kota, lengkap dengan portofolio prestasi dan pengalaman.

Sementara dirinya, siswi dari sekolah kecamatan. Hanya membawa keyakinan dan kemauan untuk belajar.

“Sejujurnya saya tidak pernah menyangka akan meraih gelar utama. Saya sempat minder karena bersaing dengan pelajar dari wilayah kota. Sementara saya berasal dari sekolah kecamatan saja,” tutur Sachi, sapaan akrabnya dengan suara lirih saat dihubungi Jawa Pos Radar Tuban, Rabu (28/1).

Namun, justru dari titik inilah dia belajar satu hal penting: asal-usul tak pernah menjadi batas. Setiap orang, dari mana pun datangnya, memiliki peluang yang sama.

Sachi memilih menepis keraguan dan fokus pada proses. Tekadnya mengeluarkan kemampuan terbaik dan percaya pada dirinya sendiri.

Keyakinan itu berbuah manis. Namanya diumumkan sebagai Duta Siswa Kabupaten Tuban Utama Putri 2025 pada 11 Agustus 2025.

Dua bulan berselang, selempang kehormatan itu resmi disampirkan di pundaknya dalam pelantikan di Mall BG Junction Surabaya, 11 Oktober.

Sebuah puncak dari perjalanan panjang yang melelahkan, sekaligus penuh pembelajaran.

“Ketika nama saya diumumkan sebagai Duta Siswa Utama Putri 2025, rasa bangga dan haru bercampur menjadi satu. Itu menjadi momen yang sangat berharga dan tidak terlupakan,” ujarnya.

Bagi dara asal Desa Klutuk, Kecamatan Tambakboyo ini, capaian tersebut bukan hasil instan. Ada jam-jam tambahan yang dia korbankan. Juga waktu istirahat. Proses seleksi dan karantina dijalani dengan disiplin, meski melelahkan.

Jika ditarik ke belakang, perjalanan itu bermula dari momen pada April 2025. Tanpa rencana matang, Sachi mengisi formulir pendaftaran Duta Siswa Kabupaten Tuban setelah melihat unggahan di media sosialnya.

Tidak ada persiapan khusus. Hanya dorongan hati dan rasa penasaran untuk mencoba hal baru.

“Sesaat setelah saya melihat unggahan poster pendaftaran Duta Siswa tingkat kabupaten itu, tanpa berpikir panjang saya langsung mendaftarkan diri,” katanya.

Keputusan spontan itu membawa konsekuensi. Siswi kelas XII SMAN 1 Tambakboyo ini harus segera mengejar ketertinggalan.

Dia belajar public speaking, membangun kepercayaan diri, memahami isu-isu pendidikan, hingga memperbanyak bacaan sebagai bekal seleksi dan grand final.

Menurutnya, tahapan seleksi dan karantina relatif bisa dijalani. Termasuk tuntutan membuat konten video edukasi di media sosial. Namun, ada satu fase yang benar-benar menguras pikiran: penyusunan program kerja.

Dia tak ingin programnya berhenti sebagai wacana. Bukan sekadar kata-kata manis di atas kertas, namun harus bisa dijalankan dan memberi dampak nyata.

Di sisi lain, statusnya sebagai pelajar kelas akhir SMA menghadirkan tantangan lain. Jadwal seleksi kerap berbenturan dengan jam sekolah dan menuntut manajemen waktu yang ketat.

“Saya harus memanfaatkan jam istirahat untuk pergi ke perpustakaan sekolah, menyusun ide, dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan selama masa seleksi dan karantina. Karena waktu istirahat di sekolah terbatas, saya melanjutkannya di rumah sepulang sekolah,” tuturnya.

Meski ini pengalaman pertamanya mengikuti ajang duta, Sachi mengaku tak pernah sekalipun terpikir untuk menyerah.

“Saya sudah menanamkan dalam diri bahwa setiap proses adalah bagian dari pembelajaran. Tentu merasa lelah, tapi itu bukan untuk berhenti. Justru dari proses itulah saya belajar untuk terus melangkah,” tegasnya.

Perjuangan itu berakhir manis. Dari tujuh finalis tingkat kabupaten, Sachi meraih gelar tertinggi.

Pasca-ajang, perubahan nyata dia rasakan. Kemampuan berbicara di depan umum, manajemen waktu, berpikir kritis, hingga keberanian menyampaikan pendapat tumbuh pesat.

“Setelah ajang ini, saya merasakan banyak perubahan dalam diri. Soft skill saya berkembang, begitu pula dengan hard skill,” ujarnya.

Namun, bagi Sachi, selempang utama yang kini melekat di bahunya bukan sekadar simbol prestise.

Namun, sebuah amanah. Tanggung jawab untuk menjadi teladan, penggerak, dan penyampai aspirasi pelajar di Bumi Ronggolawe.

“Tugas ini tidak terasa berat, karena memang sejak awal sudah menjadi impian saya. Tanggung jawab ini akan saya jalani dengan senang hati dan penuh komitmen,” katanya mantap.

Ke depan, Sachi bersama rekan-rekan Duta Siswa berencana berkolaborasi menyatukan program kerja untuk meningkatkan literasi pelajar, menumbuhkan kepedulian pada budaya lokal, serta menciptakan lingkungan sekolah yang inklusif dan nyaman.

“Saya berharap siswa-siswi di Tuban semakin sadar akan potensi diri mereka, berani berkontribusi dalam hal-hal positif, serta mampu mengambil peran aktif dalam membangun lingkungan sekolah dan masyarakat yang lebih baik,” tandas alumni SMPN 1 Tambakboyo ini.(*/ds)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Tuban #SMAN 1 Tambakboyo #Sachio Vellyafaferd #Duta Siswa Kabupaten Tuban Utama Putri 2025