RADARTUBAN - Di tengah gempuran budaya populer dan tren modernisasi yang kian kencang, Lelly Salsa Bilatun Ni’amah muncul bagai oase bagi pelestarian seni tradisional.
Dia membuktikan bahwa menjadi penari tradisional bukan sekadar hobi, namun juga sebuah misi untuk menjaga eksistensi kebudayaan bangsa.
Kecintaan Salsa terhadap seni ternyata telah tumbuh semenjak kecil. Lingkungan keluarganya yang juga merupakan pecinta tari tradisional membawanya semakin akrab dengan lentik jari, hentakkan kaki penari, dan denting gamelan pengiring tari.
‘’Dari kecintaan keluarga terhadap tari tradisional itulah yang membuat bakatku terasah dan semakin ingin berkecimpung di tari tradisional,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Dara asal Desa Kowang, Kecamatan Semanding ini telah menguasai sejumlah tarian khas, seperti tari jejer jaran dawuk, tari sorote lintang, tari gambyong, tari miyang, hingga tari lanjar.
Kepiawaiannya pun telah teruji di berbagai panggung pentas bergengsi, mulai dari perhelatan Hari Jadi Kabupaten Tuban, Student Festival Week, hingga berbagai panggung profesional lainnya. Bahkan, dia terpilih sebagai Duta Tari Kabupaten Tuban tahun 2023.
Salsa mengakui bahwa tantangan terbesarnya bukan menghafalkan berbagai gerakan pakem dalam setiap tarian. Melainkan ikut menjaga agar teman-teman sebayanya turut meminati kesenian tradisional ini.
‘’Masih banyak masyarakat yang menganggap tari tradisional itu kuno. Padahal, tari tradisional itu keren dan unik," ungkap siswi SMAN 3 Tuban itu.
Menurutnya, kekuatan tari tradisional justru terletak pada autentisitasnya, seperti penggunaan iringan musik daerah yang mampu menghidupkan karakter kuat dalam setiap gerakan.
Bagi gadis 16 tahun ini, melestarikan budaya adalah kewajiban bagi generasi muda. Dia berpendapat jika tari tradisional tidak dijaga, maka kekayaan identitas Indonesia perlahan akan punah ditelan zaman.
Semangat ini pula yang membawanya terus bergerak, mempromosikan seni tari tidak hanya untuk penonton lokal, namun juga bercita-cita membawanya ke kancah internasional.
‘’Walaupun zaman sudah berubah semakin maju, kita sebagai generasi muda bangsa sepatutnya tetap melestarikan kebudayaan Indonesia. Jika bukan kita, siapa lagi yang akan menjaga eksistensi budaya ini?" pungkas perempuan Capricorn ini. (saf/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama